Muhajir, dosen Universitas Persatuan Guru Republik Indonesia Semarang (UPGRIS).
Nyatanya, pertunjukan kesenian rakyat seperti ketoprak dan wayang kulit hingga kini masih sangat hidup di tengah masyarakat Pantura. Di sinilah sastra pertunjukan dapat mengambil peran strategis. Isu lingkungan dapat diselipkan.
Kawasan Pantai Utara (Pantura) Jawa Tengah hari ini menghadapi krisis ekologis yang kian mengkhawatirkan. Laju abrasi di wilayah pesisir seperti Timbulsloko, Kabupaten Demak, dilaporkan mencapai rata-rata hingga 279 meter per tahun (Disway Muria, 2026).
Dampaknya terasa nyata dan masif: air laut terus merangsek ke permukiman warga, melumpuhkan puluhan hektar lahan pertanian, serta menghancurkan mata pencaharian tambak yang menjadi tumpuan ekonomi masyarakat setempat (Jateng Pos, 2026).
Lebih dari sekadar kerugian material, rob dan abrasi yang berkepanjangan ini perlahan-lahan mengikis ruang kebudayaan warga. Tempat ibadah, pemakaman leluhur, hingga situs tradisi lokal ikut terendam air laut. Fenomena hilangnya ruang hidup ini bukan lagi sekadar ancaman untuk masa depan, melainkan realitas pahit yang sehari-hari disaksikan dan dialami oleh masyarakat pesisir Pantura.
Di tengah ancaman hilangnya ekosistem dan identitas kebudayaan di sepanjang pesisir ini, sebuah pertanyaan mendasar muncul: apa sebenarnya peran sastra di tengah-tengah isu lingkungan tersebut? Bagaimana sastra dapat mengambil peran, dan upaya apa yang perlu dilakukan agar sastra tetap relevan serta memberikan pengaruh nyata? Saya mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut berdasarkan refleksi saya dalam bidang pengajaran bahasa, sastra, serta pendampingan literasi di masyarakat.
Secara realistis, peran sastra dalam merespons kerusakan lingkungan di Pantura sebenarnya tidak begitu krusial jika diharapkan memberikan dampak mekanis secara langsung. Puisi, cerpen, maupun naskah drama tidak bisa serta-merta menghentikan gelombang rob, menahan laju abrasi, atau membenahi peninggian tanggul yang jebol.
Mengatasi krisis fisik semacam itu membutuhkan tindakan teknis, infrastruktur, dan keputusan politik (political will) yang nyata dari para pengambil kebijakan. Sastra bukanlah alat berat yang bisa membendung limpasan air laut dalam semalam.
Meski demikian, sastra memiliki peran vital di hulu, yaitu pada tataran penumbuhan kesadaran (awareness building). Dalam kajian ekokritik (ecocriticism), karya sastra diposisikan sebagai media refleksi kritis untuk menelaah kembali hubungan antara manusia, budaya, dan lingkungan fisiknya (Glotfelty & Fromm, 1996; Marlina, 2026). Sastra hadir untuk menyentuh nurani, memperhalus rasa empati, serta menggugah daya pikir masyarakat umum maupun para pembuat kebijakan agar tergerak mengambil langkah pemulihan.
Sialnya, tantangan terbesar kita adalah masyarakat hari ini cenderung tidak membaca sastra. Buku-buku antologi puisi ekologis sering kali hanya menumpuk di rak perpustakaan atau berputar di lingkaran akademisi semata. Agar pesan ekokritik yang disampaikan melalui karya sastra dapat diakses dan memberikan dampak sosial, sastra harus berani keluar dari zona nyamannya dan menyesuaikan diri dengan media komunikasi yang digunakan oleh masyarakat saat ini.
Secara historis, tradisi sastra selalu bergerak dinamis mengikuti perkembangan zaman dan media komunikasi publiknya. Dahulu ada tradisi sastra lisan yang hidup subur dalam ruang-ruang ritual adat, pertunjukan rakyat, dan upacara keagamaan. Ketika mesin cetak berkembang, sastra beralih rupa dan menemukan rumahnya dalam lembaran surat, buku, majalah, dan koran harian. Hari ini, budaya komunikasi masyarakat telah bergeser ke era digital berbasis audio-visual.
Oleh karena itu, sastra harus berani mengambil ruang di platform digital seperti YouTube, Instagram, dan TikTok. Tujuannya agar pesan-pesannya tidak senyap dan tetap diakses oleh generasi muda. Namun, keberadaan media sosial tidak serta-merta bisa digeneralisasi untuk seluruh lapisan masyarakat. Kita perlu melakukan penelitian dan pemetaan menyeluruh di wilayah pesisir Pantura untuk memastikan media yang benar-benar digunakan warga lokal dalam berkomunikasi sehari-hari.
Nyatanya, pertunjukan kesenian rakyat seperti ketoprak dan wayang kulit hingga kini masih sangat hidup di tengah masyarakat Pantura. Pertunjukan ini rutin diselenggarakan saat gelaran tradisi sedekah bumi atau Apitan di bulan Dzulqa’dah. Begitu pula dengan panggung hiburan rakyat seperti musik dangdut yang selalu dipadati warga.
Di sinilah sastra pertunjukan dapat mengambil peran strategis. Isu lingkungan dapat diselipkan secara luwes melalui adegan goro-goro wayang kulit, dialog babak humor ketoprak, hingga lirik naratif pada panggung musik. Selain kesenian rakyat, tradisi puji-pujian sebelum salat di musala kampung maupun majelis pengajian mingguan juga dapat menjadi sarana penyampaian pesan ekologis yang sangat efektif (Baihaqi, 2017). Ketika wacana pemeliharaan lingkungan hadir dalam panggung rakyat dan ruang-ruang intim keagamaan tersebut, sastra tidak lagi terisolasi sebagai wacana elit semata.
Selain di panggung publik, strategi penumbuhan kesadaran ekologis ini harus dioptimalkan di ruang formal pendidikan, khususnya dalam pembelajaran bahasa dan sastra di sekolah. Selama ini, apresiasi puisi atau cerpen di kelas kerap menyajikan teks-teks yang abstrak dan berjarak dari realitas murid. Kita perlu berkomunikasi dan berkolaborasi aktif dengan para guru agar contoh-contoh puisi maupun cerpen yang diajarkan lebih dilokalkan.
Ketika siswa di Demak atau pesisir Pantura membaca karya sastra yang mengangkat fenomena tenggelamnya sawah, abrasi, atau rusaknya ekosistem mangrove di desa tetangga mereka, empati ekologis akan tumbuh lebih kuat dan membumi. Langkah di ruang kelas ini perlu sejalan dengan potensi cerita dan tradisi lokal pesisir utara Jawa, seperti mitos asal-usul suatu daerah, cerita rakyat pesisiran, hingga sejarah pembangunan Masjid Agung Demak. Narasi-narasi lokal tersebut pada dasarnya adalah “teks yang berhenti”—cerita warisan masa lalu yang struktur alurnya sudah baku dan dipahami secara turun-temurun.
Tugas akademisi, pengarang, dan pendidik hari ini adalah memberi pemaknaan baru (re-interpretation) pada narasi-narasi lama tersebut. Kita perlu menggali pesan-pesan tersirat tentang kearifan lokal dalam mengelola ekosistem pesisir, lalu mengaitkannya kembali dengan krisis lingkungan Pantura saat ini. Dongeng dan cerita rakyat tidak lagi dibaca sekadar sebagai hiburan nina-bobo, melainkan diangkat sebagai alat eko-pedagogi untuk menanamkan etika lingkungan kepada anak-anak sejak dini.
Upaya kontekstualisasi dan edukasi ini menjadi sangat krusial karena tantangan terbesar masyarakat kita secara umum adalah masih kuatnya cara pandang antroposentrisme. Etika antroposentrisme memandang manusia sebagai pusat dari seluruh sistem alam semesta. Ia mengukur nilai alam hanya sejauh ia memberikan manfaat utilitarian bagi kepentingan manusia (Keraf, 2010; Garrard, 2012).
Perspektif egosentris itu membuat alam pesisir Pantura terus-menerus diposisikan sebagai objek pasif yang bebas dieksploitasi, mulai dari pembabatan hutan mangrove, alih fungsi lahan pesisir yang tidak terkendali, hingga pengerukan pasir secara masif. Cara pandang destruktif inilah yang harus diubah melalui strategi penyadaran sastra. Kita harus menyadari bahwa manusia tidak berdiri di luar atau di atas alam, melainkan hidup bersama dalam satu ekosistem yang saling bergantung.
Merawat alam Pantura pada hakikatnya adalah menjaga keberlangsung hidup manusia itu sendiri. Melalui penyusupan isu pada panggung kesenian rakyat, pemanfaatan media digital, lokalisasi materi sastra di kelas, serta re-interpretasi cerita lokal, sastra dapat terus menjalankan tugas utamanya: menjaga nurani publik dan menumbuhkan kesadaran ekologis di bumi Pantura.(*)
*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.

