BACAAJA, NGAWI– Produk pesantren kini punya peluang menjangkau pasar lebih luas tanpa harus mengandalkan penjualan dari mulut ke mulut.
Kementerian Agama (Kemenag) Ngawi meluncurkan Kangsantri, marketplace digital yang dirancang untuk memasarkan produk unggulan dari 82 pondok pesantren di Kabupaten Ngawi.
Platform tersebut diperkenalkan dalam puncak peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2026 di Pendopo Wedya Graha, baru-baru ini. Peluncuran disaksikan Bupati Ngawi Ony Anwar Harsono sebagai bagian dari upaya mendorong kemandirian ekonomi pesantren.
Baca juga: Krisis Air dan Kebakaran Gunung Lawu Jadi Sorotan, HKN Ngawi Turun Bantu Warga
Kepala Kemenag Ngawi, Moh Ersat menjelaskan, Kangsantri merupakan singkatan dari Kemenag Ngawi untuk Pesantren Ngawi. Aplikasi itu menjadi salah satu bentuk implementasi program Asta Protas, dengan fokus membantu pesantren memasarkan produk unggulannya secara daring.
“Tujuannya murni agar pesantren mandiri secara ekonomi dan memunculkan entrepreneurship (kewirausahaan) di lingkungan pondok,” tuturnya. Kehadiran Kangsantri diharapkan membuka akses pemasaran yang lebih luas bagi produk karya santri.
Budaya Kewirausahaan
Dengan memanfaatkan kanal digital, pesantren berpeluang mengembangkan usaha sekaligus membangun budaya kewirausahaan di lingkungan pendidikan keagamaan.
Namun, keberhasilan marketplace tak cukup diukur dari jumlah produk yang dipajang. Produk harus mudah ditemukan, menarik bagi pembeli, dan mampu bersaing dari sisi kualitas maupun harga.
Karena itu, Pemkab Ngawi bersama Kemenag berencana menggelar bimbingan teknis secara rutin bagi pengurus pondok pesantren. Pendampingan tersebut ditujukan agar pengelola mampu memanfaatkan Kangsantri dan mengembangkan pemasaran produk secara berkelanjutan.
Baca juga: Cegah Korupsi Sejak dari Meja Kerja, Pemkab Ngawi Gaspol Edukasi Digital ASN
Jika dikelola secara konsisten, Kangsantri berpotensi menjadi jembatan antara produsen di lingkungan pesantren dan konsumen yang lebih luas. Tantangannya kini bukan sekadar membawa pesantren masuk ke dunia digital, melainkan memastikan aktivitas jual beli benar-benar terjadi.
Sebab, marketplace boleh tampil modern, tetapi ukuran keberhasilannya tetap sederhana: produk santri laku, usaha tumbuh, dan ekonomi pesantren makin mandiri. (tebe)

