BACAAJA, TEMANGGUNG- Api memang sudah menyerah di Gunung Sumbing. Tapi urusan belum benar-benar beres. Setelah ratusan hektare kawasan terbakar, pekerjaan rumah berikutnya justru tak kalah berat: memulihkan hutan, memperbaiki pipa air bersih warga, dan memastikan kebakaran serupa tidak terulang.
Gubernur Jateng, Ahmad Luthfi menegaskan, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Gunung Sumbing telah padam. Meski titik api dan asap tak lagi terpantau, evaluasi dampak, patroli, serta rehabilitasi diminta segera dipercepat.
“Banyak pipa-pipa kita yang terbakar atau rusak itu harus kita recovery (pulihkan). Kemudian lakukan reboisasi terkait dengan pascabencana. Reboisasi kita lakukan bersama,” kata Luthfi saat meninjau kawasan Basecamp Bimawari, Desa Wonosari, Kecamatan Bulu, Kabupaten Temanggung, Minggu (25/10/2026).
Baca juga: Kasus Karhutla Jateng Melonjak 700 Persen, Timbulkan Kerugian Miliaran Rupiah
Menurut Luthfi, pemulihan tak bisa dilakukan asal tanam lalu selesai. Data kerusakan harus faktual, mulai dari luasan lahan terbakar, kondisi vegetasi, hingga dampaknya terhadap satwa liar. Pendataan mencakup kawasan Sumbing di wilayah Temanggung, Magelang, dan Wonosobo.
Dampaknya bukan cuma soal ilalang dan rumput hutan yang hangus. Sejumlah pipa air bersih milik masyarakat dilaporkan rusak, sementara beberapa titik kebakaran turut melalap pohon keras. Artinya, warga dan lingkungan sama-sama menanggung konsekuensi dari bencana tersebut.
Pencegahan Diperkuat
Luthfi juga meminta pencegahan diperkuat. Masyarakat diimbau tidak membuang puntung rokok sembarangan atau membuat api di kawasan gunung tanpa memperhatikan risiko kebakaran. Penyebab kebakaran masih diselidiki, meski indikasi awal mengarah pada faktor kelalaian manusia. “Jangan sampai nanti terulang lagi,” tegasnya.
Untuk sementara, imbauan penutupan jalur pendakian di seluruh gunung di Jateng masih berlaku sambil menunggu hasil evaluasi. Luthfi turut menyampaikan terima kasih kepada relawan, BPBD provinsi dan kabupaten/kota, serta BNPB yang terlibat dalam pemadaman.
Administratur Perum Perhutani KPH Kedu Utara, Dimyati mengatakan, kebakaran di kawasan Sumbing yang meliputi tiga kabupaten telah padam sepenuhnya sejak Sabtu (24/10/2026). Pantauan melalui aplikasi Sipongi milik Kementerian Kehutanan juga tidak lagi menunjukkan titik api maupun asap. Namun, penyisiran tetap dilakukan untuk memastikan tidak ada bara tersisa.
Baca juga: Antisipasi Kebakaran Hutan, Jateng Bentuk Satgas Karhutla
Total luas kawasan yang terbakar mencapai 974,29 hektare. Rinciannya, 398,89 hektare di Temanggung, 362 hektare di Wonosobo, dan 213 hektare di Magelang. Kerugian ditaksir mencapai Rp189,3 juta. Sebagian besar area terbakar berupa savana yang dipenuhi ilalang dan rumput hutan. Di wilayah Wonosobo, sebagian kawasan juga ditumbuhi pohon keras.
Kini, tantangannya adalah memastikan rehabilitasi berjalan serius dan terukur. Pipa air yang rusak perlu dipulihkan, vegetasi ditanam kembali sesuai kondisi kawasan, dan patroli tidak boleh kendur hanya karena api sudah padam.
Sebab, memadamkan api memang menandai akhir keadaan darurat. Namun, kalau hutan dibiarkan merana dan pencegahan cuma ramai saat bencana, Sumbing bisa saja kembali mengirim peringatan, kali ini dengan ongkos pemulihan yang lebih mahal. (tebe)

