BACAAJA, JAKARTA– Informasi semakin mudah diproduksi dan disebarkan melalui platform digital. Namun, kemudahan tersebut juga membuat masyarakat berhadapan dengan konten yang tidak selalu melewati proses verifikasi dan penyuntingan jurnalistik.
Di tengah situasi ini, kepercayaan publik menjadi modal penting bagi media lokal untuk mempertahankan relevansinya. Persoalan tersebut mengemuka dalam Local Media Summit (LMS) 2026 yang digelar Suara.com bersama International Media Support (IMS) dari Denmark di Manhattan Hotel Jakarta, 22-23 Oktober 2026.
Melalui tema “Beyond Reach: From Discovery to Community Trust and Sustainability”, forum ini membahas tantangan media dalam membangun hubungan yang lebih kuat dengan audiens, menjaga standar jurnalistik, serta beradaptasi dengan perkembangan teknologi.
Deputy Head of Mission Kedutaan Besar Norwegia, Christian Groseth mengatakan, perkembangan teknologi membuka peluang baru dalam distribusi informasi. Namun, informasi yang beredar di masyarakat tidak selalu melalui proses jurnalistik dan penyuntingan profesional.
Kondisi tersebut, menurutnya, memperkuat kebutuhan terhadap jurnalisme yang independen dan profesional. “Dalam ruang seperti inilah, peran jurnalisme yang independen dan profesional menjadi lebih penting,” ujarnya.
Baca juga: Jateng Media Summit 2026: Jurnalisme Kini Harus Cari “Nafkah” Sendiri
Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom), Syahganda Nainggolan juga mengingatkan pentingnya etika pers di tengah tuntutan untuk meningkatkan engagement.
Prinsip keberimbangan pemberitaan atau cover both sides serta pertanggungjawaban jurnalistik, menurutnya, tetap harus diperhatikan. Namun, penerapannya di ruang media baru masih menghadapi tantangan karena belum terdapat konvensi atau aturan baku yang dipahami bersama.
Perdebatan tersebut menunjukkan bahwa kecepatan distribusi dan tingginya interaksi digital tidak seharusnya menggeser prinsip dasar jurnalistik.
Pada hari kedua LMS 2026, isu kebebasan pers dan keamanan digital turut menjadi bagian dari pembahasan. Dalam sesi mengenai pengelolaan media sosial dan monetisasi konten, Yekti Hesti Murti dari Unesco membahas kebebasan berekspresi, kebebasan pers, keselamatan jurnalis, serta pengembangan media dalam perspektif International Covenant on Civil and Political Rights (ICCPR).
“Freedom of expression di kedua ruang ini sama. Tidak ada pembedanya,” jelasnya. Ia juga menyoroti ancaman ujaran kebencian yang berkaitan dengan gender, ras, etnis, dan identitas sosial. Menurutnya, ujaran kebencian dapat mengganggu perdamaian dalam kehidupan bermasyarakat.
Sementara itu, Direktur Eksekutif Safenet, Nenden Sekar Arum mengingatkan pentingnya menjaga keamanan aset digital, khususnya bagi kreator muda. Perlindungan terhadap hasil kerja digital menjadi bagian penting untuk mengurangi risiko peretasan.
Distribusi Informasi
Di sisi lain, perkembangan teknologi juga menuntut media menyesuaikan strategi distribusi informasi. Head of Tech Development Suara.com, Andrei Bhayu membahas adaptasi dari optimasi mesin pencari atau SEO menuju Generative Engine Optimization (GEO), termasuk peluang layanan konsultasi visibilitas digital. Adaptasi teknologi tersebut dinilai penting, tetapi perlu berjalan beriringan dengan kualitas konten dan tanggung jawab jurnalistik.
CEO dan Editor-in-Chief Suara.com, Suwarjono mengatakan, LMS merupakan program berkelanjutan yang telah digelar sejak 2022. Kegiatannya mencakup konferensi, pelatihan, lokakarya, dan pendampingan bagi media lokal.
Saat ini, Suara.com memiliki ekosistem yang melibatkan 837 media lokal dan news creator dari Aceh hingga Papua. Penguatan kapasitas dilakukan melalui berbagai program, termasuk agenda regional, Woman Media Summit, Startup for Media, dan Media Innovation Grant.
Bagi media lokal, pengembangan kapasitas tersebut menjadi penting karena tantangan industri tidak hanya berkaitan dengan teknologi dan bisnis, tetapi juga kemampuan menjaga hubungan dengan pembaca.
Dalam pembahasan mengenai masa depan media anak muda, para pembicara menekankan pentingnya identitas, standar jurnalistik, transformasi, dan kolaborasi untuk membangun ekosistem informasi yang kredibel.
Baca juga: Google, Meta, TikTok Pesta Iklan, Media Lokal Kebagian Sisa
Sementara itu, Staf Ahli Bidang Pembangunan Daerah Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Haryo Limanseto yang mewakili Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menilai, media lokal memiliki peluang memperkuat komunitas sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.
Menurutnya, media dapat membantu mempromosikan UMKM, pariwisata, dan potensi daerah melalui pemasaran digital, produksi konten kreatif, serta kegiatan komunitas.
Namun, peluang tersebut perlu ditopang kepercayaan publik. Audiens yang merasa memperoleh informasi akurat dan relevan memiliki alasan lebih kuat untuk terus menjadikan media sebagai rujukan.
LMS 2026 memperlihatkan bahwa masa depan media lokal tidak hanya ditentukan oleh kemampuan mengikuti perubahan algoritma atau memperluas jangkauan konten. Kemampuan memverifikasi informasi, menjaga independensi, melindungi aset digital, dan membangun hubungan dengan masyarakat juga menjadi penentu.
Di tengah banjir informasi, media lokal perlu memastikan bahwa kecepatan tidak mengalahkan ketepatan. Sebab, jangkauan bisa dibeli dan perhatian bisa direbut, tetapi kepercayaan publik harus dibangun melalui kerja jurnalistik yang konsisten dan bertanggung jawab. (tebe)

