BACAAJA, SEMARANG – Lari selama ini dikenal sebagai salah satu olahraga yang baik untuk menjaga kebugaran dan kesehatan jantung. Namun, temuan sejumlah penelitian tentang atlet ketahanan justru memunculkan pertanyaan: benarkah orang yang rajin berlari bisa mengalami penumpukan plak di pembuluh darah jantung?
Kekhawatiran ini bukan muncul tanpa alasan. Beberapa studi menemukan bahwa atlet yang berlatih dengan intensitas tinggi selama bertahun-tahun memiliki plak koroner lebih banyak dibandingkan sebagian orang aktif yang bukan atlet ketahanan.
Meski begitu, bukan berarti lari otomatis merusak jantung. Ada perbedaan penting antara temuan plak pada pemeriksaan medis dan risiko seseorang mengalami serangan jantung, sehingga hasil penelitian perlu dipahami secara utuh.
1. Atlet yang Berlatih Ekstrem Jadi Sorotan
Salah satu penelitian yang banyak dibahas adalah studi Master Heart. Peneliti membandingkan tiga kelompok laki-laki berusia 45–70 tahun, yakni 191 atlet ketahanan yang sudah berlatih sejak muda, 191 atlet yang mulai berlatih setelah usia 30 tahun, dan 176 laki-laki sehat yang aktif berolahraga tetapi bukan atlet ketahanan.
Para peserta bukan pelari santai yang sesekali mengelilingi kompleks. Mereka menjalani latihan dalam volume tinggi, seperti berlari sedikitnya enam jam per minggu, bersepeda sedikitnya delapan jam, atau menjalani latihan triatlon dengan beban serupa.
Hasil pemeriksaan CT angiografi menunjukkan bahwa plak di arteri koroner lebih sering ditemukan pada atlet yang berlatih sejak muda dibandingkan kelompok laki-laki aktif nonatlet.
Plak tersebut memiliki beberapa bentuk, mulai dari plak terkalsifikasi yang mengandung kalsium hingga plak tidak terkalsifikasi yang lebih banyak terdiri atas jaringan lunak dan lemak. Ada pula plak campuran yang memiliki karakteristik keduanya.
Plak koroner merupakan bagian dari proses aterosklerosis, yaitu penumpukan material di dinding arteri yang dapat menyebabkan penyempitan pembuluh darah. Jenis dan karakteristik plak ikut memengaruhi penilaian risiko, tetapi keberadaan plak saja belum cukup untuk memastikan seseorang akan mengalami serangan jantung.
Yang perlu digarisbawahi, penelitian Master Heart tidak membuktikan bahwa olahraga menjadi penyebab langsung terbentuknya plak. Pemeriksaan dilakukan pada satu periode sehingga peneliti tidak dapat memastikan kapan plak mulai berkembang.
Pesertanya juga hanya laki-laki kulit putih. Karena itu, hasilnya tidak bisa langsung digeneralisasi kepada perempuan atau seluruh kelompok masyarakat, termasuk populasi Asia.
2. Latihan Sangat Berat Punya Temuan Berbeda
Gambaran tambahan datang dari studi MARC-2 yang mengamati 289 atlet laki-laki paruh baya dan lanjut usia selama sekitar enam tahun.
Penelitian tersebut menemukan bahwa total waktu berolahraga tidak berhubungan langsung dengan perkembangan plak. Namun, peserta yang lebih sering menjalani latihan dalam kategori sangat berat mengalami peningkatan kalsium koroner dan plak terkalsifikasi yang lebih besar.
Sebaliknya, latihan berat yang tidak selalu mencapai intensitas maksimal dikaitkan dengan perkembangan kalsium yang lebih lambat.
Temuan ini menunjukkan bahwa hubungan antara olahraga dan plak jantung tidak sesederhana menghitung jumlah kilometer atau jam latihan. Intensitas, usia, faktor genetik, pola makan, serta kondisi kesehatan lain kemungkinan ikut berperan.
Artinya, belum ada dasar untuk menyimpulkan bahwa setiap orang yang rajin lari akan mengalami penumpukan plak. Penelitian tersebut lebih menyoroti kelompok atlet tertentu yang menjalani latihan ketahanan dalam jangka panjang dengan volume sangat tinggi.
3. Ada Plak Belum Tentu Berujung Serangan Jantung
Plak di pembuluh darah tetap menjadi tanda yang perlu diperhatikan. Namun, hasil pemindaian yang menunjukkan adanya plak tidak otomatis berarti seseorang akan mengalami serangan jantung dalam waktu dekat.
Sebuah penelitian terhadap 21.758 laki-laki sehat juga menemukan bahwa aktivitas fisik dalam jumlah sangat tinggi berkaitan dengan kemungkinan ditemukannya kalsium koroner. Meski begitu, kelompok yang sangat aktif tidak menunjukkan peningkatan risiko kematian akibat penyakit kardiovaskular maupun semua penyebab selama masa pengamatan.
Para peneliti masih mempelajari alasan di balik temuan tersebut. Salah satu kemungkinan adalah atlet memiliki kebugaran lebih tinggi, kemampuan pembuluh darah untuk melebar lebih baik, serta risiko diabetes dan tekanan darah tinggi yang lebih rendah.
Namun, kebugaran tinggi bukan berarti seseorang kebal dari penyakit jantung. Plak tetap perlu dinilai berdasarkan karakteristiknya, kemungkinan penyempitan pembuluh, gejala, dan faktor risiko lain.
Secara umum, aktivitas fisik teratur tetap direkomendasikan untuk menjaga kesehatan jantung. Orang dewasa dianjurkan melakukan aktivitas aerobik intensitas sedang selama 150–300 menit per minggu atau aktivitas berat selama 75–150 menit, sesuai kemampuan dan kondisi kesehatan.
4. Pelari Perlu Memperhatikan Faktor Risiko
Bagi kebanyakan orang, temuan penelitian tersebut bukan alasan untuk berhenti berlari. Pelari yang sehat dan tidak memiliki keluhan juga tidak otomatis membutuhkan CT scan jantung hanya karena rutin berolahraga.
Meski begitu, orang yang berlatih dengan intensitas sangat tinggi selama bertahun-tahun tetap perlu memperhatikan kondisi kesehatannya, terutama ketika memasuki usia paruh baya.
Ada sejumlah faktor yang sebaiknya diperiksa secara berkala, antara lain:
- Kadar kolesterol LDL yang tinggi.
- Tekanan darah tinggi.
- Diabetes atau penyakit ginjal.
- Kebiasaan merokok.
- Riwayat penyakit jantung dini dalam keluarga.
- Pola makan yang kurang seimbang.
- Keluhan yang muncul saat berolahraga.
Pemeriksaan kesehatan sebaiknya disesuaikan dengan usia, riwayat medis, gejala, dan tingkat risiko masing-masing. Dokter dapat menentukan apakah pemeriksaan lanjutan diperlukan atau pelari cukup melakukan pemantauan faktor risiko secara rutin.
Selain itu, tingkatkan jarak dan intensitas lari secara bertahap. Selingi sesi berat dengan latihan ringan dan waktu pemulihan yang cukup. Jangan sampai mengejar target jarak membuat tubuh terus dipaksa bekerja keras tanpa jeda.
5. Jangan Abaikan Sinyal Bahaya Saat Berlari
Ada beberapa gejala yang tidak boleh dianggap sebagai kelelahan biasa ketika sedang berolahraga. Tekanan atau nyeri di dada, sesak napas yang tidak biasa, keringat dingin, mual, pusing, hingga nyeri yang menjalar ke lengan, punggung, leher, atau rahang perlu diwaspadai.
Jika gejala tersebut muncul, hentikan aktivitas dan segera cari pertolongan medis. Jangan memaksakan diri menyelesaikan sesi latihan hanya karena merasa memiliki stamina yang bagus.
Apabila pemeriksaan menunjukkan adanya plak, bukan berarti olahraga harus dihentikan selamanya. Dokter perlu menilai kondisi pembuluh darah dan menentukan jenis aktivitas yang aman, sekaligus menyusun langkah penanganan bila diperlukan.
Penanganan bisa meliputi perbaikan pola makan, berhenti merokok, pengendalian tekanan darah dan diabetes, serta penggunaan obat penurun kolesterol sesuai indikasi medis.
Kesimpulannya, lari rutin tidak terbukti otomatis menyebabkan plak jantung pada kebanyakan orang. Sejumlah penelitian memang menemukan plak lebih banyak pada kelompok atlet ketahanan tertentu, terutama laki-laki yang menjalani latihan sangat berat selama bertahun-tahun. Namun, manfaat olahraga bagi kesehatan jantung tetap kuat, selama latihan dilakukan sesuai kemampuan dan faktor risiko kesehatan tidak diabaikan. (*)

