Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: BPS Buka Data Perumahan, 18 Juta Keluarga Tinggal di Rumah Tak Layak
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Info

BPS Buka Data Perumahan, 18 Juta Keluarga Tinggal di Rumah Tak Layak

Nugroho P.
Last updated: Oktober 25, 2026 1:42 pm
By Nugroho P.
6 Min Read
Share
ilustrasi Rumah Tak Layak Huni (RTLH).
SHARE

BACAAJA, JAKARTA – Persoalan tempat tinggal di Indonesia masih menyisakan pekerjaan besar. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, sebanyak 9,29 juta rumah tangga belum memiliki rumah sendiri, sementara sekitar 18 juta rumah tangga lainnya masih tinggal di hunian yang tidak layak.

Contents
Jutaan Keluarga Belum Punya Rumah SendiriJakarta Punya Persoalan Perumahan SeriusLebih dari Separuh Rumah Jakarta Beratap AsbesPerbaikan Rumah Perlu Menyasar Kualitas Hunian

Angka tersebut menggambarkan bahwa akses terhadap tempat tinggal yang aman dan sehat belum sepenuhnya dirasakan masyarakat. Bagi jutaan keluarga, persoalannya bukan hanya memiliki rumah atau tidak, tetapi juga soal kondisi bangunan yang belum memenuhi standar kelayakan.

Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti memaparkan data tersebut saat berada di Kampung Ambon, Kedaung Kali Angke, Cengkareng, Jakarta Barat, Sabtu (24/10/2026). Data itu merujuk pada hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret 2026.

Jutaan Keluarga Belum Punya Rumah Sendiri

Amalia menjelaskan, sekitar 9,29 juta rumah tangga atau 12,4 persen dari total rumah tangga di Indonesia belum memiliki rumah sendiri.

” Berdasarkan hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional pada bulan Maret 2026, sekitar 9,29 juta rumah tangga di Indonesia, atau sekitar 12,4 persen, ini belum memiliki rumah,” kata Amalia.

Selain persoalan kepemilikan, kondisi rumah yang ditempati masyarakat juga menjadi perhatian. BPS mencatat sekitar 18 juta rumah tangga atau 24 persen masih tinggal di rumah yang masuk kategori tidak layak huni.

Dengan kata lain, hampir satu dari empat rumah tangga di Indonesia menghadapi persoalan kelayakan tempat tinggal.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tantangan sektor perumahan tidak cukup diselesaikan dengan menambah jumlah rumah. Perbaikan bangunan yang sudah ditempati masyarakat juga diperlukan agar warga bisa tinggal di lingkungan yang lebih sehat dan aman.

Data BPS ini diharapkan menjadi bahan pertimbangan pemerintah dalam menyusun kebijakan perumahan, terutama bagi keluarga yang membutuhkan bantuan untuk memiliki atau memperbaiki tempat tinggal.

Jakarta Punya Persoalan Perumahan Serius

Masalah perumahan ternyata juga terlihat jelas di DKI Jakarta. Meski menjadi pusat pemerintahan dan aktivitas ekonomi, ibu kota masih menghadapi persoalan kepemilikan rumah maupun kualitas hunian.

BPS mencatat sebanyak 39,4 persen rumah tangga di Jakarta belum memiliki rumah sendiri. Sementara itu, 27,9 persen rumah tangga masih menempati rumah yang tidak layak huni.

Amalia menyebut angka tersebut cukup tinggi jika dibandingkan dengan provinsi lain.

“Ini merupakan angka yang cukup tinggi jika dibandingkan dengan provinsi lain,” ujarnya.

Menurut Amalia, kondisi tersebut perlu menjadi perhatian, terutama di kawasan perkotaan yang memiliki kebutuhan hunian tinggi. Wilayah Cengkareng, Jakarta Barat, menjadi salah satu kawasan yang perlu mendapat perhatian dalam upaya memperbaiki kualitas tempat tinggal masyarakat.

Persoalan hunian di Jakarta tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan rumah, tetapi juga kualitas material bangunan yang digunakan warga.

Salah satu yang disoroti BPS adalah penggunaan asbes sebagai bahan atap rumah. Material ini dinilai perlu mendapat perhatian karena serat asbes dapat membahayakan kesehatan jika terlepas dan terhirup.

Lebih dari Separuh Rumah Jakarta Beratap Asbes

Berdasarkan data BPS tahun 2026, sebanyak 54,6 persen rumah tangga di DKI Jakarta masih menggunakan asbes sebagai material atap rumah.

Persentasenya bahkan lebih tinggi di Jakarta Barat, yakni mencapai 57,6 persen.

Artinya, lebih dari separuh rumah tangga di wilayah tersebut masih menggunakan material atap yang perlu diperhatikan dari sisi kesehatan.

“Artinya lebih dari setengah rumah di DKI Jakarta, termasuk di Jakarta Barat, atapnya menggunakan asbes yang dalam hal ini tidak layak untuk kesehatan yang tinggal di rumah tersebut,” kata Amalia.

Penggunaan asbes menjadi salah satu aspek yang perlu dipertimbangkan dalam menilai kualitas hunian. Risiko kesehatan terutama muncul ketika material yang mengandung asbes rusak atau mengalami pelapukan sehingga seratnya terlepas ke udara.

Karena itu, upaya meningkatkan kelayakan rumah perlu memperhatikan kondisi bangunan secara menyeluruh, termasuk material atap yang digunakan.

Amalia berharap data tersebut dapat menjadi masukan bagi pemerintah dalam menyusun program perumahan, terutama untuk memperbaiki kondisi hunian warga di Jakarta Barat.

Perbaikan Rumah Perlu Menyasar Kualitas Hunian

Besarnya angka rumah tangga yang belum memiliki rumah sendiri dan keluarga yang masih tinggal di hunian tidak layak menunjukkan perlunya kebijakan perumahan yang lebih terarah.

Pemerintah tidak hanya perlu memperluas akses masyarakat terhadap kepemilikan rumah, tetapi juga memastikan bangunan yang ditempati memenuhi aspek keselamatan dan kesehatan.

Bagi keluarga berpenghasilan rendah, biaya memperbaiki atap, dinding, maupun bagian rumah lainnya bisa menjadi beban tersendiri. Dukungan program perbaikan rumah menjadi penting agar mereka tidak terus tinggal dalam kondisi yang berisiko bagi kesehatan.

Data BPS juga bisa digunakan untuk menentukan wilayah prioritas, sehingga program bantuan perumahan dapat menyasar masyarakat yang paling membutuhkan.

Dengan perencanaan yang tepat, persoalan perumahan diharapkan tidak hanya dilihat dari jumlah rumah yang tersedia, tetapi juga dari kualitas tempat tinggal yang benar-benar dinikmati masyarakat. (*)

You Might Also Like

Agustina: Kota Hebat Itu Nggak Cuma Beton dan Aspal

AXIS CUP 2026 Ngegas di 88 Kota: Push Rank Kini Bisa Jadi Jalan Karier

IKN Dikepung Tambang Ilegal, 13.000 Hektare Lahan Tercemar

Dikritik, Diragukan, Terus… Jadi Penentu Kemenangan

Bandara ‘Ilegal’ Diresmikan Jokowi, Pengamat: Negara dalam Negara

TAGGED:BPSrtlhrumahrumah tak layak huni
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Tito Sentil APBD Jakarta, 821 Ribu Rumah Tak Layak Huni
Next Article Topan Champi Hantam Taiwan, Dua WNI Terluka

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Gaji Pas-pasan, Tanggung Jawab Besar: Guru TK Jadi Idola Pertama Anak

Di Tengah Banjir Informasi Digital, Media Lokal Dituntut Jaga Kepercayaan Publik

Media Lokal Dituntut Tak Sekadar Kejar Traffic, Komunitas Jadi Peluang Bisnis Baru

Ayo Mlaku Bareng Warga 2026: Agustina Pamer Penghargaan Nasional Kota Semarang

Topan Champi Hantam Taiwan, Dua WNI Terluka

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Info

LDA Minta Dana Hibah Keraton Diaudit

Februari 10, 2026
Penumpang kereta api turun dari gerbong kereta di Stasiun Tawang Semarang.
Info

KAI Klaim Kereta Lebaran 2026 Makin Tepat Waktu, Bikin Perjalanan Pemudik Lebih Pasti

Maret 27, 2026
Lima pelaku demo rusuh mengenakan baju tahanan, salah satu di antaranya merupakan pelajar SMK yang nekat demo usai dapat imbauan dari guru.
Hukum

Satu Pelaku Demo Rusuh di Semarang Masih Pelajar SMK, Nekat Abaikan Saran Guru

September 20, 2025
BARONGSAI - Sejumlah pemain barongsai mengenakan baju hijau, tengah memegang kepala barongsai dan memegang dupa, Jumat (25/9/2026). Mereka baru saja mengikuti atraksi untuk meramaikan gelaran Mooncake Festival di Kawasan Pecinan Semarang. (dul)
Info

Barongsai Turun ke Jalan, Rangkaian Mooncake Festival Bikin Warga Berkerumun

September 25, 2026

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: BPS Buka Data Perumahan, 18 Juta Keluarga Tinggal di Rumah Tak Layak
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?