BACAAJA, SEMARANG– Mengajari anak mengaji mungkin tak membuat seseorang kaya raya. Namun, perannya dalam membentuk karakter generasi muda jelas tak bisa dianggap remeh.
Kabar baiknya, Pemkot Semarang menambah jumlah penerima bisyaroh bagi guru Taman Pendidikan Alquran (TPQ) dan Lembaga Pendidikan Alquran (LPQ) menjadi 4.000 orang pada 2026. Jumlahnya naik 1.000 orang dibandingkan periode sebelumnya.
Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng Pramestuti menyebut penambahan penerima bantuan tersebut sebagai bentuk dukungan terhadap keberlangsungan pendidikan keagamaan sekaligus apresiasi bagi para guru yang konsisten membimbing anak-anak.
Perkembangan jumlah penerima berlangsung bertahap. Pada September 2025, penerima bisyaroh bertambah dari 3.000 menjadi 3.500 orang. Tahun ini, jumlahnya kembali naik menjadi 4.000 orang, dengan bantuan sebesar Rp1,5 juta per triwulan.
Baca juga: Pesantren Khusus Tunanetra di Semarang, Santri Dibekali Keterampilan
Artinya, dalam kurun waktu tersebut, jumlah penerima bertambah sekitar 33,3 persen. Tambahan ini memperluas jangkauan dukungan bagi para pendidik yang selama ini ikut menjaga pendidikan agama di lingkungan masyarakat.
“Santri yang sebagian besar saat ini menjadi Guru Madin dan TPQ memiliki peran penting dalam mengenalkan Alquran, membiasakan ibadah, serta menanamkan akhlak dan kepedulian sosial kepada anak-anak. Pengabdian mereka menjadi bagian penting dalam membentuk generasi yang berilmu dan berkarakter,” ujar Agustina saat peringatan Hari Santri di Balai Kota Semarang, Kamis (22/10/2026).
Dukungan terhadap pendidikan keagamaan tak berhenti pada bantuan rutin. Pemkot Semarang juga memberikan apresiasi khusus kepada guru Madrasah Diniyah (Madin) yang telah mengabdikan diri selama puluhan tahun.
Hadiah Umrah
Tiga guru Madin Nahdlatul Ulama (NU) menerima hadiah umrah dalam rangkaian Khataman Al-Qur’an dan Istighotsah Pengurus Wilayah NU Jawa Tengah di Kantor PWNU Jateng, Rabu (21/10/2026) malam.
Mereka adalah Muh. Rosail yang telah mengabdi selama 37 tahun, Nur Cholis selama 29 tahun, dan Siti Aminah selama 26 tahun. Penghargaan tersebut menjadi bentuk terima kasih atas dedikasi mereka dalam mendidik dan membimbing masyarakat melalui pendidikan agama.
Agustina berharap apresiasi tersebut bisa menambah semangat para guru untuk terus menebarkan ilmu dan kebaikan. Menurutnya, pendidikan keagamaan bukan sekadar mengajarkan pengetahuan tentang agama, tetapi juga membentuk kebiasaan beribadah, memperkuat moral, dan menumbuhkan tanggung jawab sosial.
Di Kota Semarang, terdapat 174 Madrasah Diniyah dengan 981 guru dan 632 santri. Selain itu, ada 293 pondok pesantren yang menaungi 18.040 santri dengan dukungan 1.585 guru.
Baca juga: Puluhan Tahun Mengajar Ngaji, Tiga Guru Madin di Semarang Dapat Hadiah Umrah
Besarnya ekosistem pendidikan tersebut memperlihatkan bahwa guru agama punya peran penting dalam membangun kualitas sumber daya manusia. Kolaborasi pemerintah, organisasi keagamaan, dan masyarakat pun dibutuhkan agar pendidikan karakter terus berjalan.
Penambahan penerima bisyaroh menjadi langkah untuk memperluas dukungan bagi guru TPQ/LPQ. Namun, pengabdian yang berlangsung bertahun-tahun tentu membutuhkan perhatian berkelanjutan, bukan hanya apresiasi sesekali.
Sebab, membentuk generasi berakhlak tak bisa dikerjakan dengan sistem kebut semalam. Guru ngaji mengajarkan kesabaran setiap hari, dan sudah semestinya penghargaan terhadap mereka juga tak berhenti pada seremoni. (tebe)

