BACAAJA, SEMARANG– Semarang tak mau cuma jadi tempat bisnis berputar. Kota Atlas ini mulai tancap gas membidik posisi sebagai hub investasi yang menghubungkan industri, logistik, pariwisata, hingga produk lokal ke pasar global. Modalnya cukup menjanjikan: ekonomi tumbuh 6,49 persen dan realisasi investasi sepanjang 2025 mencapai Rp11,15 triliun.
Capaian tersebut disampaikan Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti dalam Semarang Business Forum (SEMBIZ) ke-19 Tahun 2026 di The Suri Ballroom, Queen City Semarang, Rabu (21/10/2026).
Berdasarkan data yang dipaparkan, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kota Semarang pada 2025 mencapai Rp288,05 triliun. Realisasi investasi juga melampaui target Rp11 triliun dan menyerap sekitar 59.600 tenaga kerja. Tren positif berlanjut pada semester pertama 2026. Investasi yang masuk mencapai Rp6,57 triliun dengan penyerapan sekitar 33.900 tenaga kerja.
Bagi Agustina, angka tersebut bukan sekadar rapor ekonomi. Tantangan berikutnya adalah memastikan investasi yang masuk benar-benar membuka peluang usaha, menciptakan pekerjaan, dan menggerakkan ekonomi masyarakat. “Capaian ini menjadi modal untuk memperkuat visi Semarang sebagai pusat ekonomi yang maju, berkeadilan sosial, lestari, dan inklusif,” ujarnya.
Baca juga: Semarang Pasang Target Jadi Kota Sport Tourism
Mengusung tema Semarang Global Investment Hub: Connecting Sustainable Investment, Logistics, Tourism and Local Products to Global Markets, SEMBIZ 2026 dirancang untuk mempertemukan potensi daerah dengan investor, teknologi, modal, dan jaringan pasar.
Semarang punya sejumlah keunggulan konektivitas. Letaknya di jalur Pantura, akses Tol Trans-Jawa, Pelabuhan Tanjung Emas, Bandara Jenderal Ahmad Yani, Stasiun Tawang, serta kawasan industri menjadi modal untuk memperkuat rantai pasok dan distribusi barang.
Forum ini menghadirkan empat agenda utama, yakni Business Forum, Invest Talk, Business Matching, dan Exhibition. Harapannya, pertemuan tersebut tidak berhenti pada tukar kartu nama atau presentasi proyek, tetapi berlanjut menjadi kesepakatan bisnis konkret.
Sektor pariwisata juga menjadi salah satu andalan. Sepanjang 2025, Semarang mencatat 8.971.530 kunjungan wisatawan. Hingga September 2026, jumlahnya mencapai 7.443.948 kunjungan.
Agenda seperti Semarang Night Carnival, Festival Kota Lama, dan Festival Arak-Arakan Cheng Ho masuk dalam kalender Karisma Event Nusantara (KEN). Semarang juga menjadi tuan rumah MTQ Nasional XXXI pada September 2026 yang diikuti 38 kafilah provinsi.
Usaha Lokal
Rangkaian kegiatan itu berpotensi menggerakkan bisnis hotel, transportasi, kuliner, perdagangan, hingga ekonomi kreatif. Tantangannya, keramaian wisata perlu diterjemahkan menjadi transaksi dan pendapatan yang dirasakan pelaku usaha lokal.
Pemkot juga mengandalkan platform Waras Ekonomi untuk memperkuat UMKM. Hingga awal Oktober 2026, sebanyak 1.038 akun UMKM tercatat dalam platform tersebut. Dari jumlah itu, 609 akun telah terverifikasi profilnya.
Selain itu, sebanyak 149 pelaku usaha tercatat memiliki 58 produk dengan verifikasi lengkap. Pemkot juga memfasilitasi 43 produk olahan pangan industri kecil dan menengah (IKM) yang lolos kurasi untuk masuk jaringan ritel modern.
Ke depan, Waras Ekonomi diarahkan menjadi ekosistem yang menghubungkan pendampingan, peningkatan kualitas produk, kemitraan, dan akses pasar. Agustina mengajak dunia usaha ikut membuka peluang kemitraan produksi, pengadaan, distribusi, dan pemasaran agar pertumbuhan investasi turut mengangkat bisnis lokal.
Peluang lain datang dari pengembangan 19 aset milik Pemkot Semarang dan BUMD. Delapan di antaranya merupakan proyek utama yang telah dilengkapi model keuangan atau prastudi, sedangkan 11 lainnya masih dalam tahap awal.
Beberapa proyek yang ditawarkan antara lain: Urban Consolidation Center Terboyo: indikasi investasi Rp64 miliar-Rp78 miliar, Cold Storage Bangetayu: indikasi investasi sekitar Rp52 miliar, Pusat Data Tambakaji: indikasi investasi sekitar Rp121 miliar, Pengembangan Semarang Zoo: indikasi investasi sekitar Rp47 miliar dan Plaza Simpang Lima: indikasi investasi Rp207,9 miliar-Rp254,1 miliar.
Baca juga: Sembiz 2025, Langkah Semarang Nge-boost Investasi
Pemkot juga menjajaki pengembangan wahana air di eks Taman Lalu Lintas. Berbagai proyek tersebut menyasar sektor logistik, pangan, ekonomi digital, pariwisata, dan layanan komersial.
Untuk mempermudah penjajakan, Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) menyiapkan dukungan melalui OSS, Semarang Hub, dan GEMILANG (Gerbang Emas Investasi Peluang Tak Terbatas).
Fasilitas tersebut mencakup informasi peluang investasi, koordinasi lintas instansi, pendampingan perizinan, hingga peninjauan lokasi secara virtual. Agustina berharap investor tak hanya melihat Semarang sebagai pasar, tetapi juga sebagai mitra untuk mengembangkan bisnis dan membuka akses ke pasar baru. Target akhirnya jelas: investasi bertambah, lapangan kerja terbuka, dan rantai pasok lokal makin kuat.
Sebab, pertumbuhan ekonomi yang tinggi akan lebih bermakna jika manfaatnya ikut dirasakan warga. Jangan sampai angka investasi sudah triliunan rupiah, proyek terlihat megah, tetapi UMKM lokal hanya kebagian menjadi penonton. Semarang boleh membidik pasar global, tetapi ekonomi warganya jangan sampai tertinggal di halaman sendiri. (tebe)

