BACAAJA, SEMARANG- Sebanyak 482 santri di Jateng menerima beasiswa dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah pada 2026. Bantuan ini diberikan kepada 424 mahasantri Ma’had Aly dan 58 santri penggerak yang kuliah di perguruan tinggi umum sekaligus tinggal di pondok pesantren.
Gubernur Jateng, Ahmad Luthfi menyerahkan bantuan secara simbolis dalam acara pembekalan di Gedung Gradhika Bhakti Praja, Semarang, Senin (19/10/2026). Ia menegaskan, beasiswa tersebut diberikan hingga penerima menyelesaikan pendidikan.
Baca juga: 942 Santri Berebut Beasiswa Pemprov Jateng
Luthfi mengatakan, dukungan pendidikan bagi santri menjadi bagian dari upaya pemerintah untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia, baik dari sisi akademis maupun pembentukan karakter. “Santri adalah garda terdepan tidak hanya dalam ilmu dunia dan akhirat, tetapi juga menjaga NKRI dari degradasi moral,” ujar Luthfi, Senin (19/10/2026).
Wagub Jateng, Taj Yasin Maimoen menjelaskan, program ini juga menjadi bentuk perhatian pemerintah terhadap pendidikan pesantren yang selama ini dinilai belum banyak tersentuh bantuan jika dibandingkan dengan perguruan tinggi umum.
Sementara itu, Ketua Lembaga Fasilitasi dan Sinergitas Pesantren (LFSP) Jawa Tengah, Hasyim Muhammad, menyebut pemberian beasiswa khusus bagi mahasantri Ma’had Aly dan santri penggerak tersebut baru pertama kali dilaksanakan di Jawa Tengah.
Ketersediaan Anggaran
Menurut Hasyim, jumlah penerima tahun ini masih menyesuaikan dengan ketersediaan anggaran daerah. Pemprov Jateng mengutamakan pemerataan agar bantuan bisa dirasakan lebih banyak santri.
“Beasiswa ini memang angka penerimaannya tidak banyak karena menyesuaikan dengan anggaran. Untuk saat ini diutamakan lebih banyak santri yang menerima, baik Ma’had Aly maupun santri penggerak,” terang Hasyim.
Baca juga: Beasiswa Santri Jateng, Dari 942 Pendaftar, Cuma 73 yang Lolos!
Ia berharap kuota penerima dan nominal beasiswa Pesantren Obah dapat ditingkatkan pada tahun-tahun mendatang agar semakin banyak santri di Jawa Tengah yang memperoleh bantuan pendidikan hingga lulus.
Program ini menjadi angin segar bagi santri yang ingin menyelesaikan pendidikan tinggi. Namun, pekerjaan rumah berikutnya adalah memastikan dukungan pendidikan semacam ini terus berkembang, sehingga kesempatan kuliah tidak berhenti pada mereka yang kebetulan masuk daftar penerima. Sebab, cita-cita boleh setinggi langit, tetapi biaya semester tetap punya tenggat pembayaran. (dul)

