BACAAJA, SEMARANG – Warga Jawa Tengah mulai perlu bersiap menghadapi musim hujan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan sebagian wilayah Jateng bakal memasuki musim hujan pada November 2026, sementara daerah lainnya menyusul pada Desember.
Hujan yang beberapa kali mengguyur dalam sepekan terakhir belum berarti musim hujan sudah benar-benar tiba. Menurut BMKG, kondisi tersebut masih masuk masa peralihan dari musim kemarau menuju musim hujan.
Prakirawan Cuaca Stasiun Meteorologi Ahmad Yani Semarang, Winda Ratri, mengatakan awal musim hujan di sebagian besar wilayah Jawa Tengah diperkirakan terjadi pada November. Hal itu disampaikannya melalui sambungan telepon, Senin (12/10/2026).
Wonosobo dan Purbalingga Lebih Dulu Diguyur Hujan
Winda menjelaskan, sejumlah daerah diprediksi mulai memasuki musim hujan pada dasarian I November, yakni periode 10 hari pertama bulan tersebut.
Wilayah yang masuk dalam perkiraan itu antara lain Kabupaten Wonosobo, sebagian Banjarnegara, sebagian Temanggung, Purbalingga, sebagian Tegal, Brebes, serta sebagian wilayah selatan dan Banyumas.
Sementara itu, daerah lain di kawasan Pegunungan Tengah diperkirakan menyusul pada dasarian II dan III November. Adapun sejumlah wilayah lainnya baru memasuki musim hujan pada dasarian I dan II Desember.
Dengan jadwal yang berbeda-beda, masyarakat di setiap daerah diimbau tetap memantau perkembangan informasi cuaca. Sebab, waktu dimulainya musim hujan tidak serentak di seluruh wilayah Jawa Tengah.
Curah Hujan Diprediksi Normal, Ada Wilayah Lebih Kering
Selain memprediksi waktu kedatangan musim hujan, BMKG juga memperkirakan sifat hujan di Jawa Tengah secara umum berada dalam kategori normal.
Meski begitu, ada beberapa wilayah yang berpotensi mengalami curah hujan di bawah normal atau lebih sedikit dibandingkan kondisi biasanya.
Daerah yang perlu mencermati perkiraan tersebut meliputi Kabupaten Jepara, sebagian kecil wilayah Cilacap, wilayah Demak bagian utara yang berbatasan dengan Jepara, serta Pati.
Winda menjelaskan, kondisi tersebut berarti jumlah hujan yang turun di wilayah-wilayah itu diperkirakan lebih rendah dibandingkan rata-rata biasanya. Karena itu, masyarakat tetap perlu menyesuaikan antisipasi dengan kondisi lingkungan masing-masing.
Musim Hujan Berlangsung 7–8 Bulan
BMKG memperkirakan musim hujan di Jawa Tengah berlangsung sekitar tujuh hingga delapan bulan. Durasi tersebut lebih pendek dibandingkan kondisi normal.
Menurut Winda, sekitar 97 persen wilayah mengalami kemunduran durasi musim hujan selama satu hingga tiga dasarian atau lebih. Dasarian sendiri merupakan pembagian waktu selama 10 hari yang digunakan dalam pemantauan iklim.
Di tengah masa peralihan ini, masyarakat diminta lebih waspada terhadap kemungkinan cuaca ekstrem dan hujan lebat. Perubahan cuaca yang terjadi dalam masa transisi bisa memicu gangguan aktivitas hingga meningkatkan risiko bencana di wilayah rawan.
BMKG juga mengingatkan warga agar tidak menunggu hujan deras datang untuk mulai melakukan persiapan. Salah satu langkah sederhana yang bisa dilakukan adalah mengecek saluran air, termasuk got yang tersumbat, supaya aliran air tetap lancar dan risiko genangan bisa ditekan.
Antisipasi sejak dini dinilai penting, terutama bagi warga yang tinggal di kawasan rawan banjir, longsor, atau genangan. Dengan memantau informasi cuaca dan memastikan lingkungan siap menghadapi hujan, dampak buruk selama musim penghujan diharapkan bisa diminimalkan. (*)

