BACAAJA, JAKARTA – Latihan pengamanan demonstrasi yang digelar Polres Cilegon justru berujung masalah. Sebanyak 19 siswa SMP dan SMK Al Hadid di Kota Cilegon, Banten, harus dibawa ke rumah sakit setelah terdampak asap gas air mata yang digunakan dalam simulasi pada Kamis (8/10/2026).
Insiden ini langsung menuai sorotan Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas). Anggota Kompolnas, Mochammad Choirul Anam, menilai penggunaan gas air mata dalam latihan tersebut menunjukkan kurangnya kehati-hatian petugas.
“Ini ceroboh ya,” kata Anam kepada Kompas.com melalui pesan suara, Jumat (9/10/2026).
Menurut Anam, penggunaan gas air mata semestinya dilakukan dengan perhitungan matang. Petugas perlu memastikan latihan tidak sampai membahayakan masyarakat di sekitar lokasi, terlebih anak-anak yang sedang beraktivitas di sekolah.
Kompolnas menyayangkan kejadian tersebut dan mengingatkan agar insiden serupa tidak terulang. Anam menilai perlu ada kajian sebelum gas air mata digunakan, termasuk memperhitungkan kemungkinan dampak yang ditimbulkan di luar area latihan.
“Dan yang paling penting adalah apakah itu memengaruhi masyarakat banyak,” tuturnya.
Peristiwa itu terjadi sekitar pukul 10.00 WIB saat personel pengendalian massa (Dalmas) Polres Cilegon menggelar simulasi pengamanan demonstrasi anarkis di depan Mapolres Cilegon.
Dalam latihan tersebut, petugas menggunakan gas air mata sebagai bagian dari skenario pengendalian massa. Namun, arah angin membuat asap menyebar ke kawasan sekolah yang berjarak sekitar 150 meter dari lokasi latihan.
Kasi Humas Polres Cilegon AKP Imam Maryono menjelaskan, sejumlah siswa yang sedang berada di sekolah terkena dampak asap tersebut. Mereka mengalami mata perih hingga harus mendapatkan penanganan medis.
“Pada pelaksanaannya angin membawa asap gas air mata ke arah siswa yang lagi menonton dan terkena dampak mata perih,” ujar Imam saat dihubungi Kompas.com, Jumat (9/10/2026).
Berdasarkan data Polres Cilegon, total ada 19 siswa yang terdampak dan sempat dibawa ke rumah sakit. Meski begitu, kondisi mereka dilaporkan membaik dan seluruhnya sudah kembali masuk sekolah pada Jumat.
“Kemarin dari data ada 19 siswa yang terkena dampaknya, lalu dibawa ke rumah sakit dan sudah membaik. Hari ini semuanya sudah kembali sekolah,” kata Imam.
Polres Cilegon menyatakan bertanggung jawab atas insiden tersebut. Pihak kepolisian juga menanggung seluruh biaya pengobatan para siswa yang terdampak.
Imam turut menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat atas kejadian tersebut. Insiden ini menjadi pengingat bahwa latihan pengamanan harus memperhitungkan kondisi lingkungan sekitar agar kegiatan petugas tidak menimbulkan risiko bagi warga, terutama anak-anak di sekolah.
Sorotan Kompolnas pun mengarah pada pentingnya evaluasi penggunaan gas air mata dalam simulasi. Perencanaan yang matang, perhitungan arah angin, serta perlindungan terhadap masyarakat sekitar menjadi hal yang perlu diperhatikan agar latihan pengamanan tidak kembali berujung pada jatuhnya korban. (*)

