BACAAJA, SEMARANG- Bullying atau perundungan bukan masalah sepele. Seringkali korban memilih diam karena malu, takut, atau tidak tahu harus bercerita kepada siapa.
Psikolog Laurencia Rizki Marhendrawati alias Kiki menyarankan korban tidak memendam pengalaman tersebut sendirian. Menurut Kiki, korban perlu berani bercerita kepada orang yang dipercaya. Jika kesulitan mengungkapkan apa yang dialami, korban bisa meminta bantuan.
Baca juga: Kasus Bullying Muncul Lagi, Sekolah Diminta Introspeksi
“Jangan malu untuk bercerita. Biasanya korban itu tertutup. Ayo terbukalah, berceritalah,” ujar Kiki, psikolog klinis RSJD Dr. Amino Gondohutomo saat ditemui, Kamis (8/10/2026).
Menurutnya, keberanian untuk bercerita penting agar korban memiliki dukungan dalam menghadapi pengalaman perundungan yang dialaminya. Jika korban tidak mampu bercerita secara langsung, Kiki menyarankan meminta orang tua untuk mengantarkan ke psikolog.
Layanan Psikologi
Menurutnya, saat ini layanan psikologi juga bisa diakses melalui sejumlah fasilitas yang tersedia secara gratis. “Kalau enggak bisa bercerita, ya minta orang tua untuk antar ke psikolog atau bagaimana,” katanya.
Kiki menyebut layanan psikologi gratis tersedia di sejumlah tempat, termasuk layanan milik Kementerian Kesehatan hingga Pemprov Jateng. Dia menilai korban tidak perlu menghadapi persoalan tersebut sendirian. Dengan bercerita dan mendapatkan dukungan, korban diharapkan lebih berani menghadapi situasi yang dialaminya.
Baca juga: Agustina: Bullying Bukan Kenakalan Biasa, Pelaku Harus Diproses
“Jadi kamu kayak punya dukungan. Dan dirimu kan terus berani ya. Berani bercerita, berani bertindak,” ujarnya. Bullying memang bukan masalah sepele. Karena luka akibat perundungan kadang tidak kelihatan di badan, tetapi bisa lama tinggal di kepala.
Jadi, buat siapa pun yang sedang mengalaminya: cerita bukan tanda kamu kalah. Diam bukan satu-satunya cara bertahan. Dan meminta bantuan bukan berarti kamu lemah. Kadang, keberanian terbesar bukan melawan balik orang yang membully. Tapi berani bilang, “Aku nggak baik-baik saja.” (bae)

