BACAAJA, SEMARANG- Proyek Giant Sea Wall (tanggul laut raksasa) dinilai bisa menjadi bagian dari penataan kawasan pesisir Jateng, terutama untuk membantu mengatasi persoalan banjir dan rob yang masih menghantui sejumlah wilayah.
Wakil Ketua DPRD Jateng, Sarif Abdillah mengatakan, pembangunan tersebut diharapkan tidak hanya membuat kawasan pesisir lebih tertata dan bersih, tetapi juga membuka peluang agar lahan di sekitarnya kembali produktif.
“Proyek yang menurut saya bagus untuk penataan di kawasan pesisir. Kita berharap ke depan ini menjadi salah satu program yang memberikan dampak positif, pertama menanggulangi problematika banjir di sekitar kawasan pesisir,” kata Sarif, ditemui seusai mengikuti rapat paripurna, Rabu (30/9/2026).
Baca juga: Proyek Tanggul Laut Semarang Udah Jalan, Mengapa Walhi Konsisten Mengkritik?
Meski demikian, Sarif mengingatkan agar pembangunan tetap memperhatikan dampak lingkungan. Kajian Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) menurutnya harus dilakukan secara objektif dan sesuai aturan.
“Jangan sampai dalam konteks penilaian Amdal ini hanya subjektif, hanya murni proyek. Memang kita harap betul situasi lingkungan harus dilihat,” ujarnya.
Keterlibatan Masyarakat
Ia juga meminta masyarakat yang berada di kawasan terdampak dilibatkan dalam proses pembangunan. Menurutnya, kebutuhan warga harus menjadi salah satu dasar dalam menentukan arah pembangunan.
“Pembangunan berbasis kebutuhan dan situasi masyarakat. Apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh masyarakat itu penting untuk disampaikan secara terbuka,” katanya.
Baca juga: Sepuluh Pemprov Kumpul di Semarang, Bahas Sampah sampai Tembok Laut Raksasa
Sarif menegaskan, dampak proyek juga perlu dilihat secara menyeluruh agar manfaat pembangunan di satu kawasan tidak justru menimbulkan persoalan baru di wilayah pesisir lainnya.
Sebab, kalau tanggulnya sukses menahan air tetapi warga justru harus menahan napas karena kehilangan ruang hidup, berarti yang dibangun mungkin memang tanggul, tapi solusinya belum tentu. (dul)

