Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Menyibak Jalan Menuju Konstanz
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
OpiniPlesir

Menyibak Jalan Menuju Konstanz

Redaktur Opini
Last updated: Oktober 1, 2026 8:42 am
By Redaktur Opini
6 Min Read
Share
SHARE

Setia Naka Andrian, Sekretaris Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UPGRIS. Saat ini sedang menjalani Residensi Sastrawan di Mancanegara dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikdasmen di Konstanz University of Applied Sciences (HTWG) Baden-Württemberg, Jerman.

Dalam residensi di Konstanz kali ini, selain mencoba menjahit peristiwa baru, saya juga mendapat kesempatan untuk menemukan jejaring baru.

Saya hanya terdiam dan kemudian belum bisa berpikir panjang ketika Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikdasmen baru saja melayangkan kabar pembukaan program Residensi Sastrawan ke Mancanegara 2026. Oleh karena di situ tempat residensi sudah ditentukan, yakni Wonju-Korea Selatan, The Korea-Indonesia Center, Hankuk University of Foreign Studies, Seoul Korea Selatan, dan Konstanz Jerman. Meski belakangan, kabarnya yang tadinya yang akan dikirim ke Jerman ada dua orang, karena suatu hal yang baik atas kerja sama Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa dengan pihak mitra, akhirnya satu orang lainnya dikirim ke Iowa.

Sesungguhnya bukan persoalan apa-apa, hanya saja bagi saya ketika tempat residensi itu sama sekali tidak ada dalam bayangan saya sebelumnya. Bahkan setidaknya, dua kali residensi saya tempuh di Leiden Belanda pada 2019 dan 2024. Tentu saya belum berani menaruh harapan besar untuk lamaran saya kali ini.

Lamaran pun saya susun. Syukur alhamdulillah, pada saat pengumuman tiba, saya dinyatakan lolos untuk mengikuti residensi di Konstanz melalui jalur HTWG Konstanz University Jerman sebagai pintu masuknya. Yang tentu, selepas masuk melalui pintu yang sudah disiapkan dengan jalan baik dari Bu Andi Nurhaina itu, kemudian saya harus mencari pintu lain untuk memperpanjang jalan lawatan, jalan lain untuk menumbuhkan napas baru untuk menggiring diri dalam laku-laku berikutnya.

Saya pun tak sepenuhnya paham, kenapa saya terpilih dan mendapatkan kesempatan untuk menjalani residensi di Konstanz kali ini. Hanya saja, dalam lamaran saya melampirkan salah satu kegiatan di Writer Club Zug Switzerlands, yang tentu atas kebaikan mas Sigit Susanto, dalam kegiatan itu didapati pembacaan salah satu puisi saya dalam bahasa Indonesia yang diterjemahkan dalam bahasa Jerman oleh mas Sigit dan Remo Felix (Kang Guru). Waktu itu pun, atas kebaikan mas Krisna Diantha yang telah memberi penginapan dua malam menikmati Switzerlands.

Kali ini pun, masih sama. Mas Sigit selalu menjadi pemandu sudah sejak 2019 silam. Meski kali ini, mas Sigit dan Mbakyu Claudia (istrinya), bahkan seorang temannya (Mbak Nyoman Hartini) turut serta menyambut kedatangan kami di Zurich, dan kemudian melanjutkan perjalanan dengan kereta hingga Stasiun Konstanz.

Mas SIgit dan Mbakyu Claudia mengantarkan hingga benar-benar saya diterima Bu Andi di Konstanz. Selepas itu mas Sigit merasa lega. Anak kampung dari salah satu desa di Kendal sudah diserah-terimakan denga aman dengan lurahnya Konstanz! Sudah dikenalkan kepada mas Zaim, yang pada 4 Oktober nanti saya diundang untuk kegiatan meditasi yang akan mengenalkan saya dengan salah seorang penyair dari Konstanz.

Tapi yang sebenarnya saya tak sepenuhnya tahu, mengenai alasan saya lolos residensi kali ini. Sebab tentunya ada pula hal lain yang memang saya lampirkan dan saya upayakan dalam lamaran itu. Meski sungguh, pada tahun sebelumnya, yakni 2025, saya juga mengajukan lamaran dalam program residensi yang sama. Waktu itu saya tidak lolos. Memang, tahun lalu saya mengajukan lamaran (boleh memilih) di Leiden Belanda. Saya pun berpikir, apa memang terlalu nyaman jika saya melakukan residensi di Belanda lagi. Meski sesungguhnya, masih banyak hal yang harus saya lanjutkan dan saya tunaikan pelan-pelan dari Leiden itu.

Hanya saja, saya merasa bersyukur, mendapatkan kesempatan residensi pada tahun ini setidaknya menjadi jalan baru, menjadikan saya harus berupaya untuk menyibak jalan baru. Atau setidaknya, saya diharuskan untuk memiliki cara pandang lain dalam melihat sesuatu. Saya pun merasa, bahwa residensi di Konstanz kali ini saya merasa ada kemiripan ketika saya pada 2019 menjalani residensi di Polewali Mandar Sulawesi Barat, yang sama-sama merupakan program dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa pula.

Ya, ada kemiripan, selain memang waktunya juga tak jauh beda, jika dulu satu bulan, kali ini ditempuh lima pekan. Meski kesamaan utamanya, saya sama-sama hadir di sebuah lokasi yang di situ saya harus dihadapkan dengan berbagai peristiwa yang baru. Ketika saya residensi di Leiden, saya bertugas menyelami serpihan peristiwa dari kampung halaman saya yang tersimpan rapi di Leiden.

Meski dalam waktu yang tidak begitu panjang ini, tetap saya syukuri. Termasuk ada sedikit waktu untuk membuat janji bertemu untuk merawat hubungan dengan beberapa teman di Leiden, hingga akhirnya tulisan ini pun saya kerjakan ketika di Leiden. Sebab bagi saya, mana mungkin saya bisa berpaling begitu saja dengan Leiden, ketika di wilayah Schengen, tentu tak akan sepenuhnya tunai jika saya belum sowan ke Leiden, jika saya belum berkunjung ke sebuah puisi Chairil Anwar yang begitu besar di pajang di salah satu dinding di Leiden. Menginaplah di Leiden di rumah Teh Lina dan Kang Kos di Splinterlaan Leiderdorp, lalu bertemu kawan-kawan di Leiden, dan sowan Bapak-Ibu Kos di Leiden (Teh Tuti dan Kang Robert).

Ya, setidaknya dalam residensi di Konstanz kali ini, selain mencoba menjahit peristiwa baru, saya juga mendapat kesempatan untuk menemukan jejaring baru. Entah seperti apa jalan-jalan selanjutnya, tapi saya yakin segala yang saya tempuh pasti merupakan titik awal untuk mengisi titik-titik berikutnya! (*)

Splinterlaan Leiderdorp-Leiden, September 2026

*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.

You Might Also Like

Benteng Van der Wijck Siap Naik Kelas

Desa Kecil Rasa Surga, Hidden Gem Dunia Bikin Betah

Transisi Energi atau Transisi Bencana?

Upaya Menghindarkan Masyarakat dari Beban Kerusakan Ekologis

Tembok Mural hingga Festival Mooncake Internasional, Geliat Wisata Pecinan Semarang

Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Ilustrasi polisi sedang melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP.) (grafis/wayu) Misteri Kematian Sutrimo Penjaga Rumah Febrie Ardiansyah Terungkap
Next Article Tertipu Online Shop? Ini Jalur Lapor Polisi

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Usai Sidak Lapas Cibinong, Ombudsman Diingatkan Hati-Hati Disantet

Mau Liburan ke Luar Negeri? Paspor Anak Wajib Siap, Begini Buatnya

Ilustrasi anak terserang Super Flu.

Influenza Naik, Anak Kecil Jadi Sorotan

Tertipu Online Shop? Ini Jalur Lapor Polisi

Menyibak Jalan Menuju Konstanz

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Plesir

Owabong Diserbu Libur Lebaran, Pengunjung Membludak Hampir Tiga Puluh Ribu

April 1, 2026
Opini

Menengok Ulang Kontroversi “Wonderland Indonesia” yang Mengubah Cara Kita Melihat Budaya

Juni 26, 2026
Plesir

Halte Buah Jepang, Cantik dan Penuh Cerita

Agustus 2, 2026
Opini

Dari Rob sampai COP: Dilema-Dilema Keadilan Iklim

November 20, 2025

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Menyibak Jalan Menuju Konstanz
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?