Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Mungkinkan Kelak AI Menggantikan Peran Pengajar?
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Opini

Mungkinkan Kelak AI Menggantikan Peran Pengajar?

Redaktur Opini
Last updated: Oktober 8, 2026 8:52 am
By Redaktur Opini
6 Min Read
Share
SHARE

Muhajir, dosen Universitas Persatuan Guru Republik Indonesia Semarang (UPGRIS).

Saya mengakui betapa canggihnya AI ini. Nantinya kalau semuanya telah menggunakan AI, lalu apa artinya saya? Apa arti keberadaan saya sebagai pengajar?

Ada seorang pembantu, yang kini lebih lazim disapa asisten rumah tangga (ART), di sebuah keluarga. Mulanya ia adalah orang asing yang hadir semata untuk membenahi urusan domestik: mengepel lantai, mencuci pakaian, hingga menyiapkan hidangan.

Dulu, ia bahkan tidak bisa memasak. Namun, setelah diajari meracik pelbagai menu, masakannya perlahan justru menjadi favorit seluruh anggota keluarga. Di luar tugas utamanya, secara diam-diam ia mengamati cara sang nyonya berdandan. Saat ada waktu senggang, ia melahap buku dan majalah yang tergeletak di meja.

Hingga suatu hari, badai rumah tangga pecah. Suami-istri itu berpisah, dan sang istri memilih angkat kaki. Kelanjutan kisahnya mungkin sudah bisa ditebak. Sang tuan pulang kantor, disambut dan dibukakan pintu oleh si pembantu. Saat ia duduk melepas sepatu, si pembantu merapikannya dengan telaten. Di momen itulah terlintas sebuah gagasan di benak sang tuan: bagaimana jika pembantu ini menggantikan posisi istrinya?

Semula, ia hanyalah orang asing dengan peran terbatas. Namun, kapasitas dan keterampilannya terus berkembang. Sebagian orang mungkin menyanggah: sebagus apa pun peningkatan keterampilannya, sekat mental antara majikan dan pembantu tetaplah sulit ditembus. Tapi tunggu dulu. Mentalitas dan kelas sosial pun sejatinya bisa diubah.

Kita tentu ingat sosok Nyai Ontosoroh dalam novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer. Dari seorang gundik yang tak berdaya, ia menjelma menjadi perempuan tangguh yang sanggup mengelola rumah tangga sekaligus korporasi besar. Semua berkat keberaniannya membaca, belajar, dan menguasai bahasa asing.

Dinamika ini ternyata tidak hanya terjadi di ruang-ruang domestik atau panggung sastra. Di arena pemerintahan dan politik kekuasaan, pola “pembantu yang menggantikan posisi yang dibantu” juga tergelar secara nyata.

Lihat saja bagaimana para wakil menteri, yang secara harfiah bertugas membantu sang menteri, pada akhirnya mengambil alih kemudi utama. Posisi Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, misalnya, kemudian dilanjutkan oleh wakilnya, Suahasil Nazara. Demikian pula di Kementerian Luar Negeri, di mana Sugiono digantikan oleh sang wakil menteri, Arrmanatha Nasir.

Sekarang ini ada yang hadir dalam kehidupan kita yang menawarkan diri sebagai asisten. Ia Menawari kepada diri kita sebagai pembantu yang mampu membantu pekerjaan-pekerjaan kita. Kalau kita lupa menaruh sesuatu bisa tanya kepada dirinya. Kalau kepala kita sakit kita tanya kepada dirinya cara menanggulanginya. Kalau anak kita nakal kita bisa tanya kepada dirinya cara mengatasinya.

Kalau kita mau program diet, dia lekas membantu kita menghitung dan membuat programnya. Kalau kita dosen, pembantu itu siap membuatkan materi dan membuatkan slide presentasi yang jauh lebih baik dari yang kita buat. Saya jadi khawatir jangan-jangan nantinya asisten ini pada saatnya menggantikan posisi saya. Asisten itu disebut AI (Artificial Intelligence) atau akal imitasi.

Pekan lalu, saya mengikuti pelatihan Gemini Academy, sebuah program panduan penggunaan Gemini untuk kalangan akademisi yang dikembangkan oleh Google khusus untuk para dosen. Pelatihan ini menyediakan materi berupa PDF dan video. Para peserta mengikuti langkah demi langkah pembelajaran secara bertahap hingga mencapai tahap akhir, yaitu ujian sertifikasi sebanyak 37 soal.

Peserta yang dinyatakan lulus akan mendapatkan sertifikat serta hak untuk membuka kelas bagi mahasiswa maupun sesama dosen. Program ini dijalankan oleh para dosen secara sukarela tanpa bayaran. Beberapa peserta dengan peringkat tertinggi akan dipilih untuk menerima hadiah.

Saya mengikuti pelatihan itu dengan kecemasan. Saya mengakui betapa canggihnya AI ini. Dia membantu pekerjaan saya sebagai dosen dengan sangat cepat dan bagus. Lalu saya berpikir, nantinya kalau semuanya telah menggunakan AI, lalu apa artinya saya? Apa arti keberadaan saya sebagai pengajar? Seseorang yang ingin belajar sesuatu bisa mencari sumber sendiri, lalu bisa membuat kurikulum sendiri untuk dirinya, dan kemudian melatih dirinya sendiri.

Lalu apakah saya harus menolak AI agar terhambat untuk menyebar? Langkah ini bukan langkah yang bijak. Jika AI itu tidak menyebar dari diri saya, ia juga akan menyebar dari orang lain. Jika saya tidak mempelajarinya, maka nantinya saya hanya akan ditertawakan oleh murid dan mahasiswa saya.

Pola pikir saya seperti itu yang khawatir terhadap keberadaan atau datangnya AI menurut sebagian orang adalah pola pikir yang tidak Growth Mindset. Tapi kekhawatiran saya bukan tanpa alasan. Karena banyak pekerjaan yang telah direnggut oleh AI ini. Saya kasih contoh, ilustrator gambar, bahkan pemeran film drama cina (Dracin) kehilangan pekerjaan dan digantikan oleh sang Asisten canggih ini. Salahkah jika saya mengkhawatirkan itu semua? (*)

*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.

You Might Also Like

NU di Kanan, Muhammadiyah di Kiri, di Tengah-Tengahnya Seorang Perempuan Bingung Mau Ikut Mana

Bagaimana Quentin Tarantino Mengolok-olok Polisi di Film-Filmnya

Dari Makan Bergizi Gratis ke Makan Beracun Gratis: Menu Baru dari Dapur Kekuasaan

Matinya Altruisme?

Menengok Ulang Kontroversi “Wonderland Indonesia” yang Mengubah Cara Kita Melihat Budaya

Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article NAPI HIGH RISK - 313 narapidana berisiko tinggi (high risk) dari berbagai wilayah Ditjenpas dipindahkan ke Nusakambangan, Rabu (7/10/2026). 125 Napi Rutan Depok Dipindahkan ke Nusakambangan, Buntut Video Narkoba Viral

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Mungkinkan Kelak AI Menggantikan Peran Pengajar?

NAPI HIGH RISK - 313 narapidana berisiko tinggi (high risk) dari berbagai wilayah Ditjenpas dipindahkan ke Nusakambangan, Rabu (7/10/2026).

125 Napi Rutan Depok Dipindahkan ke Nusakambangan, Buntut Video Narkoba Viral

Borderline Personality Disorder Bukan Sekadar Mood Swing, Kenali Tandanya

Scaling Gigi Tak Harus Mahal, Ini Kisaran Harganya

Siswa SD Pemalang Meninggal, Dugaan Bullying Diselidiki

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Opini

Ketika Disiplin Diabaikan, Wajar Bila Tragedi Berulang di Perlintasan Kereta

Mei 4, 2026
Opini

Artificial Intelligence dan Manusia Literasi

September 1, 2026
Opini

Kartasura Bukan Hanya Tempat Singgah, Tapi Ruang yang Menyimpan Cerita Sejarah

Februari 12, 2026
Opini

Dengan Berhijab Perempuan Berkuasa Penuh Menentukan Cara Tubuhnya Dipandang

Maret 26, 2026

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Mungkinkan Kelak AI Menggantikan Peran Pengajar?
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?