BACAAJA, BANJARNEGARA– Jateng punya modal besar untuk mengembangkan pariwisata berbasis desa. Saat ini tercatat ada 899 desa wisata yang tersebar di berbagai wilayah, dengan potensi mulai dari alam, budaya, religi hingga wisata buatan.
Pemprov bahkan menargetkan perintisan 1.000 desa wisata baru pada tahun ini. Namun, target tersebut dinilai perlu dibarengi strategi agar desa wisata yang baru tumbuh tidak sekadar menjadi tambahan daftar, tetapi benar-benar mampu mendatangkan wisatawan dan menggerakkan ekonomi masyarakat.
Ketua Forum Komunikasi Desa Wisata Jateng, Aris Widianto menyatakan, pihaknya siap mendukung program tersebut. Meski begitu, ia mengingatkan masih banyak pekerjaan rumah dalam pengelolaan desa wisata yang sudah ada.
“Sebenarnya kondisi di lapangan saat ini kalau boleh dibilang sedang surut, karena dari 899 desa wisata, paling hanya sekian persen yang hidup. Ini perlu sentuhan supaya 1.000 desa wisata ini bisa belajar dari desa wisata yang lama,” tutur Aris seusai mengisi Bimbingan Teknis Tata Kelola Desa Wisata di Desa Kaliajir, Purwanegara, Banjarnegara, belum lama ini.
Baca juga: Blankspot Jadi Hotspot: Internet Gratis Pemprov Jateng Bikin Desa Wisata Makin Hits
Menurut Aris, desa wisata baru sebaiknya tidak dibentuk untuk saling berebut wisatawan. Sebaliknya, desa-desa tersebut perlu dibangun sebagai bagian dari ekosistem pariwisata yang saling melengkapi. “Kami berharap mereka tidak menjadi kompetitor baru, tapi menjadi kolaborator dari desa wisata lainnya,” ujarnya.
Salah satu strategi yang dinilai penting adalah memperkuat kolaborasi antardaerah. Potensi wisata di sejumlah desa dapat dikemas dalam satu kawasan atau jalur perjalanan sehingga wisatawan tidak hanya berhenti di satu lokasi.
Konsep integrasi tersebut dapat dikembangkan melalui kawasan aglomerasi pariwisata. Forum Komunikasi Desa Wisata Jateg juga telah menginisiasi pendampingan di kawasan pantai utara maupun pantai selatan. Pendampingan tersebut diarahkan untuk memperkuat kelembagaan dan tata kelola desa wisata.
Jadi Kunci
Dua aspek itu dinilai menjadi kunci karena masih ada pengelola yang menjadikan desa wisata sebagai pekerjaan sampingan. Akibatnya, pengelolaan destinasi belum berjalan secara optimal dan berkelanjutan.
“Kita harus bisa menciptakan formula sistem pengelolaan desa wisata yang profesional. Kami di Forum Komunikasi Desa Wisata sudah menyusun kurikulum tersebut, yang semoga bisa ditularkan kepada teman-teman di desa-desa wisata yang baru berdiri,” kata Aris.
Pengembangan desa wisata juga tidak bisa hanya mengandalkan pengelola dan pemerintah. Kolaborasi dengan pelaku industri pariwisata mulai didorong, termasuk agen perjalanan dan sektor perhotelan.
Aris menyebut sejumlah pengelola desa wisata telah melakukan bundling dengan industri perhotelan. Bahkan, beberapa hotel ikut memberikan pembinaan kepada pengelola, terutama dalam pengelolaan homestay.
Baca juga: Jateng Targetkan 1.000 Desa Wisata + 1.000 Kreator di 2027
“Beberapa teman-teman pengelola desa wisata sudah berkolaborasi, melakukan bundling dengan industri perhotelan. Beberapa hotel juga sudah ikut melakukan pembinaan, terkait dengan pengelolaan homestay, ada juga pelatihan merapihkan kasur, dan sebagainya,” tuturnya.
Kolaborasi semacam itu dinilai bisa membantu desa wisata meningkatkan standar pelayanan. Sebab, wisatawan tidak hanya mencari pemandangan atau atraksi, tetapi juga pengalaman dan kenyamanan selama berada di destinasi.
Menurut Aris, berbagai inisiatif tersebut menunjukkan desa wisata di Jawa Tengah sebenarnya memiliki modal untuk menyambut wisatawan. Tantangannya kini adalah bagaimana membuat potensi tersebut lebih dikenal.
Aris menilai, promosi menjadi pekerjaan berikutnya yang tidak kalah penting, terutama bagi desa wisata yang baru merintis. Pemerintah dapat membantu mempertemukan pengelola desa wisata dengan pelaku industri pariwisata melalui kegiatan table top business-to-business (B2B) meeting. Dengan cara itu, desa wisata bisa langsung memperkenalkan paket wisata kepada agen perjalanan maupun pelaku usaha pariwisata.
Selain itu, dukungan untuk kegiatan family trip juga dinilai bisa menjadi cara untuk memperkenalkan destinasi baru kepada calon wisatawan. Dengan begitu, target 1.000 desa wisata baru tidak berhenti pada persoalan angka. Desa-desa tersebut diharapkan bisa saling terhubung, memiliki tata kelola yang lebih profesional, serta mempunyai akses promosi dan pasar.
Sebab, menambah jumlah desa wisata relatif mudah dihitung. Tantangan sebenarnya adalah membuat desa wisata tersebut tetap hidup setelah seremoni peresmian selesai. (tebe)

