BACAAJA, SEMARANG – Nama Sunan Kalijaga tidak bisa dilepaskan dari sejarah perkembangan Islam di tanah Jawa. Salah satu hal yang membuat dakwahnya menarik adalah cara menyampaikan ajaran Islam lewat sesuatu yang sudah lebih dulu akrab dengan kehidupan masyarakat, termasuk seni pertunjukan wayang.
Alih-alih langsung berhadapan dengan tradisi yang sudah mengakar, Sunan Kalijaga memilih masuk melalui pintu budaya. Wayang, tembang, gamelan, hingga berbagai tradisi masyarakat dimanfaatkan sebagai media untuk mengenalkan nilai-nilai Islam dengan bahasa yang lebih mudah diterima.
Cara seperti ini membuat dakwah tidak terasa seperti sesuatu yang datang untuk menghapus kehidupan masyarakat. Pesan agama justru disampaikan lewat kesenian dan kebiasaan yang sudah dikenal, sehingga masyarakat bisa menikmati pertunjukan sekaligus mendapatkan pesan moral dan spiritual.
Jawa Saat Islam Mulai Berkembang
Pada masa perkembangan Islam di Jawa, kehidupan masyarakat masih dipengaruhi tradisi Hindu-Buddha serta berbagai kepercayaan lokal. Ritual, simbol, dan kesenian sudah menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat.
Situasi tersebut membuat pendekatan dakwah tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Perubahan keyakinan membutuhkan proses, komunikasi, dan cara penyampaian yang sesuai dengan kondisi masyarakat saat itu.
Sunan Kalijaga kemudian dikenal menggunakan pendekatan kultural. Nilai-nilai Islam disampaikan melalui bentuk kesenian yang sudah familiar, sehingga masyarakat tidak merasa sedang berhadapan dengan sesuatu yang sepenuhnya asing.
Wayang Jadi Pintu Masuk Dakwah
Wayang menjadi salah satu media yang paling dikenal dalam strategi dakwah Sunan Kalijaga. Pertunjukan yang sebelumnya dekat dengan cerita dan tradisi masyarakat kemudian diberi muatan pesan tentang akhlak, ketauhidan, kehidupan sosial, dan nilai kebaikan.
Cerita wayang memungkinkan pesan tersebut disampaikan melalui tokoh, dialog, konflik, dan simbol. Penonton tidak hanya datang untuk menyaksikan hiburan, tetapi juga bisa menangkap pesan moral yang diselipkan di sepanjang pertunjukan.
Dalam sejumlah kisah tradisional tentang dakwah Sunan Kalijaga, pertunjukan wayang juga dikaitkan dengan ajakan mengucapkan syahadat.
لا إله إلا الله محمد رسول الله
Lā ilāha illallāh, Muḥammadur Rasūlullāh.
Artinya: “Tiada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah.”
Kisah tersebut menggambarkan bagaimana pertunjukan seni dijadikan ruang untuk memperkenalkan ajaran Islam tanpa harus membuat masyarakat merasa digurui.
Tidak Cuma Wayang
Strategi Sunan Kalijaga ternyata tidak berhenti di dunia pewayangan. Ia juga dikenal menggunakan tembang sebagai sarana menyampaikan pesan spiritual.
Salah satu karya yang secara tradisional dikaitkan dengannya adalah Lir-Ilir. Tembang tersebut menggunakan bahasa dan simbol yang dekat dengan kehidupan masyarakat Jawa, tetapi mengandung pesan tentang kebangkitan, perubahan diri, dan kehidupan spiritual.
Ada pula Rumeksa Ing Wengi yang dikenal luas dalam tradisi masyarakat Jawa. Melalui tembang dan syair, pesan keagamaan bisa menyebar lebih luas karena mudah diingat dan dinyanyikan kembali.
Cara tersebut cukup efektif untuk masyarakat yang ketika itu belum tentu memiliki akses terhadap pembelajaran agama secara formal.
Gamelan Ikut Jadi Media Dakwah
Selain wayang dan tembang, gamelan juga memiliki tempat dalam strategi kultural yang dikaitkan dengan dakwah Sunan Kalijaga.
Tradisi Sekaten misalnya, dikenal sebagai salah satu bentuk pertemuan antara budaya Jawa dan aktivitas dakwah Islam. Gamelan menjadi daya tarik bagi masyarakat untuk datang ke lingkungan masjid.
Masyarakat yang awalnya tertarik dengan bunyi gamelan kemudian berinteraksi dengan lingkungan keagamaan. Dari sinilah pesan Islam dapat diperkenalkan secara bertahap.
Pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa dakwah tidak selalu harus dilakukan lewat ceramah panjang. Seni, musik, tradisi, dan ruang berkumpul juga bisa menjadi sarana komunikasi keagamaan.
Tradisi Lokal Tidak Langsung Dihapus
Salah satu karakter pendekatan Sunan Kalijaga yang sering dibahas adalah kemampuannya beradaptasi dengan budaya lokal. Tradisi yang sudah hidup di tengah masyarakat tidak serta-merta ditolak seluruhnya.
Dalam berbagai kisah tentang dakwahnya, perubahan dilakukan dengan memberi makna baru terhadap praktik sosial masyarakat. Tradisi yang sebelumnya berkaitan dengan kepercayaan tertentu diarahkan menjadi kegiatan sosial dan keagamaan yang lebih sesuai dengan nilai Islam.
Contohnya adalah tradisi selametan yang kemudian berkembang luas dalam kehidupan masyarakat Jawa. Tradisi ini memiliki banyak bentuk dan konteks, sehingga tidak tepat jika seluruh praktik selametan dianggap berasal dari satu tokoh atau satu peristiwa saja.
Namun, dalam sejarah dakwah Islam di Jawa, tradisi kenduri atau selametan memang kerap dibahas sebagai contoh bagaimana kegiatan sosial masyarakat diberi nuansa keislaman.
Masjid Juga Mengikuti Budaya Jawa
Pendekatan budaya juga terlihat dari bentuk arsitektur bangunan Islam di Jawa. Masjid-masjid awal tidak harus meniru bentuk bangunan Timur Tengah.
Masjid Agung Demak misalnya, dikenal dengan bentuk atap bertingkat atau tumpang yang menjadi ciri arsitektur tradisional Jawa. Bangunan semacam ini memperlihatkan bagaimana ekspresi Islam di Jawa berkembang bersama karakter budaya setempat.
Masjid akhirnya tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga ruang berkumpul dan pusat aktivitas masyarakat.
Kenapa Wayang Bisa Menarik?
Ada alasan sederhana mengapa wayang menjadi media yang kuat. Masyarakat sudah mengenalnya jauh sebelum Islam berkembang di Jawa.
Ketika sesuatu yang sudah akrab dipakai untuk menyampaikan pesan baru, orang biasanya lebih mudah mengikuti alurnya. Mereka tidak perlu terlebih dahulu memahami istilah-istilah agama yang rumit untuk menikmati ceritanya.
Pesan tentang kejujuran, kesabaran, tanggung jawab, kepemimpinan, hubungan antarmanusia, hingga pengenalan tentang Tuhan dapat disampaikan melalui cerita.
Di sinilah kekuatan pendekatan Sunan Kalijaga yang sering dibicarakan dalam sejarah dakwah Jawa: budaya dijadikan jembatan, bukan tembok.
Dakwah yang Menyesuaikan Zaman
Warisan strategi tersebut memberi gambaran bahwa cara menyampaikan agama sangat berkaitan dengan kondisi masyarakat. Pesan yang sama bisa diterima secara berbeda jika disampaikan dengan pendekatan yang berbeda.
Sunan Kalijaga dikenal memilih bahasa budaya yang dekat dengan kehidupan masyarakat Jawa. Wayang, tembang, gamelan, dan tradisi sosial menjadi media komunikasi untuk mengenalkan nilai-nilai Islam.
Karena itu, kisah dakwah Sunan Kalijaga bukan cuma cerita tentang seorang tokoh dan wayang. Di dalamnya ada pelajaran mengenai pentingnya memahami masyarakat, membaca budaya, lalu menyampaikan pesan agama dengan cara yang komunikatif.
Wayang akhirnya bukan sekadar tontonan dalam kisah dakwah tersebut. Ia menjadi salah satu contoh bagaimana seni bisa dipakai sebagai ruang bertemu antara budaya Jawa dan nilai-nilai Islam. (*)

