Syauqibillah Prabowo adalah mahasiswa UIN Walisongo Semarang. Tinggal di Bebengan, Boja, Kendal.
Yang menjadi masalah adalah ketika kita justru lebih percaya pada informasi yang paling heboh daripada informasi yang paling benar.
Gunung Anak Krakatau kembali erupsi. Awal September ini, aktivitas vulkaniknya meningkat dan sempat mengalami episode erupsi menerus selama sekitar 25 jam. Statusnya masih Level III atau Siaga. Bagi masyarakat yang tinggal di sekitar Selat Sunda, kabar seperti ini tentu bukan sesuatu yang bisa dianggap sebagai konten pagi sambil menyeruput kopi. Namun, setiap kali bencana datang, ada satu hal lain yang ikut mengalami erupsi: informasi di media sosial.
Ada yang membagikan informasi resmi. Ada yang mengingatkan jalur evakuasi. Ada pula yang entah mendapat ilham dari mana, tiba-tiba menjadi ahli vulkanologi, ahli konspirasi, sekaligus analis geopolitik dalam satu utas. Masalahnya, informasi keliru bukan sekadar memalukan. Dalam situasi bencana, ia bisa berbahaya.
Orang yang menerima kabar palsu tentang tsunami bisa panik dan berlari tanpa arah. Sebaliknya, orang yang terlalu sering menerima informasi palsu bisa mengalami information fatigue: semua peringatan dianggap hoaks sampai akhirnya peringatan yang benar pun diabaikan. Karena itu, mitigasi bencana tidak cukup hanya dengan memasang sensor, membangun sirene, atau membuat aplikasi yang kemudian lupa kita buka setelah tiga hari.
Kita juga membutuhkan masyarakat yang tahu apa yang harus dilakukan ketika peringatan benar-benar datang. Menariknya, pengetahuan semacam itu sebenarnya sudah lama hidup di masyarakat. Lihat saja masyarakat Simeulue, Aceh, dengan pengetahuan lokal smong. Setelah gempa besar, jika air laut tiba-tiba surut, masyarakat memahami bahwa mereka harus segera menjauh dari pantai.
Pengetahuan tersebut diwariskan melalui cerita dan budaya tutur. Dalam konteks tsunami, smong bukan sekadar warisan budaya. Tetapi bagian dari pengetahuan kebencanaan yang membantu masyarakat bertindak cepat. BNPB bahkan menjadikan kearifan lokal sebagai salah satu unsur penting dalam penguatan sistem peringatan dini. Ini menunjukkan sesuatu yang sering kita lupakan: leluhur tidak selalu punya teknologi, tetapi mereka punya pengalaman.
Mereka tidak memiliki aplikasi prakiraan bencana. Tidak ada notifikasi “Warning! Evacuate immediately!” yang muncul di layar ponsel. Tetapi mereka mengamati alam, mengingat kejadian sebelumnya, lalu meneruskan pengetahuan itu kepada generasi berikutnya. Tentu saja, bukan berarti semua mitos harus dipercaya mentah-mentah. Pengetahuan lokal tetap perlu diuji dan dipertemukan dengan ilmu pengetahuan modern.
Justru di situlah seharusnya kita berdiri. Sains memberikan data, sensor, pemodelan, dan sistem peringatan. Pengetahuan lokal memberikan konteks: bagaimana masyarakat membaca lingkungan, ke mana mereka harus pergi, dan bagaimana mereka bertindak ketika situasi darurat terjadi. Keduanya bukan musuh.
Yang menjadi masalah adalah ketika kita justru lebih percaya pada informasi yang paling heboh daripada informasi yang paling benar. Bencana tidak membutuhkan kita menjadi ahli segala hal. Ia hanya membutuhkan kita untuk tidak bodoh-bodoh amat. Sebab ketika gunung meletus, yang menyelamatkan manusia bukan teori konspirasi, bukan unggahan paling viral, dan bukan orang yang paling percaya diri berkomentar. Yang menyelamatkan adalah informasi yang benar, kesiap-siagaan, dan kemampuan untuk segera berlari ke arah yang tepat.
Gunung boleh meletus. Jangan sampai akal sehat kita ikut.(*)
*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.

