BACAAJA, SEMARANG – Pernah merasa seseorang sedang menyembunyikan sesuatu saat ngobrol? Banyak orang biasanya langsung memperhatikan mata lawan bicaranya. Dari situ muncul anggapan bahwa arah pandangan mata bisa membongkar apakah seseorang sedang jujur atau malah mengarang cerita.
Mitos yang cukup populer menyebut orang yang melirik ke kiri sedang berusaha mengingat sesuatu, sedangkan pandangan ke kanan dianggap tanda sedang menyusun kebohongan. Sekilas terdengar masuk akal, tetapi kenyataannya tidak sesederhana itu.
Gerakan mata ternyata tidak bisa dijadikan “alat pendeteksi kebohongan” yang berdiri sendiri. Jadi, kalau seseorang tiba-tiba melirik ke arah tertentu, jangan buru-buru menyimpulkan dia sedang bohong.
Anggapan soal arah mata tersebut berkaitan dengan teori bahwa sisi tertentu pada otak digunakan untuk mengingat, sementara sisi lainnya berkaitan dengan kreativitas. Dari teori itu kemudian muncul klaim bahwa arah pandangan mata bisa menunjukkan proses berpikir seseorang.
Namun, teori tersebut tidak cukup kuat untuk dijadikan patokan dalam menentukan seseorang berbohong atau tidak. Orang bisa menggerakkan mata karena berbagai alasan, seperti sedang berpikir, mencari kata yang tepat, merasa gugup, atau sekadar mengikuti kebiasaan.
Meski begitu, ada sejumlah perubahan perilaku yang kadang muncul ketika seseorang merasa tertekan saat menjawab pertanyaan. Misalnya, tubuh menjadi lebih tegang atau muncul gerakan yang tidak biasa dibandingkan kondisi normalnya.
Seseorang juga bisa terlihat lebih banyak berkeringat ketika merasa gugup. Napasnya dapat berubah menjadi lebih cepat atau berat, terutama jika ia berada dalam situasi yang membuatnya tidak nyaman.
Perubahan suara juga kadang terlihat. Nada bicara bisa menjadi lebih tinggi, lebih pelan, atau justru terdengar monoton karena orang tersebut sedang berusaha mengendalikan emosinya.
Ekspresi wajah pun dapat berubah. Wajah terlihat kaku, gerakan bibir berbeda, atau dahi tampak lebih tegang bisa menjadi tanda seseorang sedang merasa tidak nyaman.
Gerakan tangan juga bisa ikut berubah. Ada orang yang tanpa sadar memainkan benda, menggosok-gosokkan tangan, menyentuh hidung, atau menutup mulut ketika sedang gugup.
Sebagian orang bahkan menggunakan benda di sekitarnya sebagai semacam penghalang. Misalnya, meletakkan cangkir, kertas, pulpen, atau benda lain di antara dirinya dan lawan bicara.
Tetapi lagi-lagi, tanda-tanda tersebut bukan bukti otomatis bahwa seseorang sedang berbohong. Orang yang jujur pun bisa melakukan hal yang sama ketika sedang cemas, malu, takut dinilai, atau berada dalam situasi yang membuatnya tertekan.
Ada pula anggapan bahwa mengganti topik pembicaraan bisa membantu membongkar kebohongan. Jika seseorang terlihat sangat lega setelah topik berganti, hal itu sering dianggap sebagai tanda ia sebelumnya sedang berbohong.
Sebaliknya, orang yang kembali membawa pembicaraan ke topik awal dianggap lebih mungkin berkata jujur. Namun, pola seperti ini juga tidak bisa dijadikan patokan tunggal karena setiap orang punya respons berbeda ketika menghadapi pertanyaan yang sulit.
Cara yang lebih masuk akal adalah melihat keseluruhan perilaku dan konteks pembicaraan. Perhatikan apakah ceritanya berubah-ubah, apakah jawabannya bertentangan dengan informasi yang sudah diketahui, dan apakah ada bukti lain yang bisa diperiksa.
Jadi, mata memang bisa memberikan petunjuk soal kondisi seseorang, tetapi bukan berarti mata bisa langsung membongkar kebohongan. Menganggap seseorang pasti bohong hanya karena ia melirik ke kanan atau kiri justru bisa bikin kita salah menilai.
Kalau ingin mengetahui kebenaran sebuah cerita, jangan cuma mengandalkan bahasa tubuh. Cocokkan ucapan dengan fakta, kronologi, dan bukti yang tersedia.
Pada akhirnya, kemampuan membaca bahasa tubuh lebih tepat digunakan untuk memahami kondisi emosional seseorang, bukan sebagai “radar kebohongan”. Mata bisa memberi petunjuk, tetapi untuk menentukan benar atau tidaknya sebuah pernyataan, tetap dibutuhkan informasi yang lebih kuat. (*)

