BACAAJA, JAKARTA – atusan anak di Sidoarjo harus mendapat perawatan setelah mengalami keluhan kesehatan usai menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG). Kondisi ini tak cuma jadi perhatian soal kesehatan fisik, tetapi juga menyisakan persoalan lain: bagaimana memulihkan rasa aman anak-anak setelah kejadian tersebut.
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi mengatakan pihaknya siap turun tangan jika anak-anak membutuhkan pendampingan psikologis. Terlebih, ada sejumlah anak yang disebut mengalami trauma setelah kejadian dugaan keracunan tersebut.
Arifah menyampaikan hal itu saat mendampingi Wakil Badan Gizi Nasional (BGN) Trenggono mengunjungi pasien yang masih menjalani perawatan di Rumah Sakit Notopuro Sidoarjo, Jumat (4/9/2026). Menurutnya, pendampingan bisa dilakukan bersama pihak pesantren agar anak-anak bisa kembali beraktivitas dengan nyaman.
“Nah, dari kasus ini mungkin yang akan kita lakukan adalah pendampingan bila dibutuhkan. Karena ada anak-anak yang mengalami trauma, ada juga yang tidak,” kata Arifah.
Ia mengatakan pihak Pondok Pesantren Manba’ul Hikam sebenarnya bisa lebih dulu memberikan pendekatan kepada para santri. Salah satunya melalui kegiatan trauma healing untuk membantu anak-anak menghadapi dampak psikologis setelah kejadian.
“Kalau memang pihak pondok pesantren bisa melakukan pendekatan, seperti trauma healing untuk anak-anak, ya Alhamdulillah. Tetapi seandainya masih membutuhkan, kami siap untuk berkolaborasi agar anak-anak ini siap kembali ke sekolah,” ujarnya.
Kasus dugaan keracunan MBG tersebut terjadi pada Selasa (1/9/2026). Ratusan santri dan santriwati Ponpes Manba’ul Hikam di Tanggulangin, Sidoarjo, Jawa Timur, serta siswa dari sekolah lain dilaporkan mengalami gangguan kesehatan setelah menyantap makanan MBG.
Mayoritas korban merupakan anak usia SMP hingga SMA. Mereka mengalami sejumlah keluhan seperti mual, muntah, dan pusing sehingga harus mendapat penanganan medis di rumah sakit.
Menu yang dikonsumsi para korban disebut berasal dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kalitengah Tanggulangin. Kasus tersebut kemudian mendapat perhatian pemerintah dan masih dalam proses investigasi.
Arifah mengatakan selama ini Kementerian PPPA juga ikut memberikan edukasi kepada anak-anak mengenai pentingnya makanan bergizi. Edukasi itu diberikan agar anak-anak memahami bahwa makanan bergizi punya peran penting bagi tumbuh kembang mereka.
“Jadi, selama ini kita memberikan edukasi tentang makanan bergizi untuk anak-anak. Kan biasanya anak-anak maunya makanan-makanan fast food. Kita memberikan informasi dan edukasi bahwa makanan yang dimakan adalah makanan yang bergizi,” katanya.
Menurut Arifah, program MBG pada dasarnya juga hadir untuk memenuhi kebutuhan anak-anak terhadap makanan yang bergizi. Karena itu, edukasi mengenai gizi tetap perlu berjalan beriringan dengan pelaksanaan program tersebut.
“Jadi, di satu sisi kita memenuhi apa yang diinginkan anak-anak, tetapi edukasi tentang pentingnya gizi itu juga akan disampaikan,” ujarnya.
Di sisi lain, penanganan korban dugaan keracunan masih berlangsung. Hingga Kamis (4/9/2026) pukul 08.00 WIB, tercatat 748 pasien yang disebut menjadi korban dalam kasus tersebut.
Dari jumlah itu, sebanyak 20 orang masih menjalani perawatan di rumah sakit. Sementara 728 pasien lainnya sudah diperbolehkan pulang setelah mendapatkan penanganan medis.
Kementerian PPPA menegaskan pendampingan psikologis akan diberikan sesuai kebutuhan. Fokusnya bukan hanya membantu anak melewati rasa trauma, tetapi juga memastikan mereka bisa kembali menjalani kegiatan belajar dan aktivitas sehari-hari tanpa terus dibayangi rasa takut.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa ketika terjadi persoalan pada program yang menyasar anak-anak, pemulihan tidak berhenti setelah kondisi fisik korban membaik. Rasa aman dan kondisi psikologis anak juga perlu ikut diperhatikan. (*)

