Juli Prasetya, seorang penulis muda asal Banyumas. Menulis puisi, cerpen, dan esai. Sekarang ia sedang berproses di Bengkel Idiotlogis asuhan Cepung.
Entitas dasar manusia, di antaranya ialah memiliki imajinasi, perasaan, kehendak, dan kreativitas, itu menjadi dasar dari segala laku literasi manusia.
AI (Artificial Intellegence/ akal imitasi) menjadi satu topik yang tak habis-habis untuk dikupas dan dibahas. Sebagian orang mendukung dengan adanya AI karena dapat membantu kerja dan kinerja mereka di kantor ataupun di rumah. Sementara sebagian yang lain menganggap bahwa AI adalah sebuah ancaman bagi umat manusia. Karena banyak kerja-kerja manusia kemudian bisa digantikan dengan robot dengan kecerdasan buatan.
Mungkin kita sedang mengalami semacam kekhawatiran ancaman terkait dengan AI. Bisa disebut, AI seperti menggantikan peran seorang penulis, musisi, dan pelukis misalnya. Ia bisa melakukan apa saja sebaik dan bahkan lebih baik dari manusia, lantaran mereka sering dipakai untuk membantu mengerjakan proyek tertentu. Seperti dulu yang terjadi pada proyek penyusunan rekomendasi buku sastra dan sastrawan yang menjadi kurikulum sekolah. Itu semua tidak lepas dari peran AI, sehingga dalam penyusunannya dipenuhi dengan kalimat-kalimat yang kaku dan ngawur di sana-sini. Dan tentu saja ini menimbulkan pro dan kontra di antara para penulis, sastrawan, dan orang-orang yang berkepentingan terhadap program sastra masuk kurikulum tersebut.
Di titik ini seharusnya kita sudah dapat mencermati bahwa kinejra AI masih belum sempurna, dan masih banyak menyimpan kesalahan di sana sini. Meskipun ia memiliki bank data yang tak terbatas, tapi ketika sang operatornya adalah orang-orang dengan kemampuan minim, atau orang yang tidak gemar membaca buku, mustahil ia bisa mengoperasikan AI dengan benar dan optimal.
Oleh karena itu kita sebagai manusia jangan merasa takut dan khawatir kepada AI. Kita jadikan ia semacam partner. Atau kalau mau lebih logis, kita gunakan ia hanya sebagai alat untuk menunjang dan membantu pekerjaan kita. Selama itu tidak menyalahi aturan-atruan main dalam dunia literasi, seperti adanya plagiasi dan penyimpangan data yang tak benar.
Maka di sini kemampuan kita sebagai manusia yang dapat berpikir dan menganalisis hal-hal tertentu, menjadi saringan terakhir terbaik untuk menyaring data-data yang kiranya diperlukan. Manusia yang bisa melakukan itu adalah manusia literasi. Manusia yang sudah dipenuhi pengalaman membaca dan menulis, serta memiliki kesadaran dalam berpikir secara sistematis, kritis, dan kepekaan, sekaligus memiliki perasaan, cita rasa, dan gayanya sendiri yang unik. Itulah yang tidak dimiliki oleh AI. Ia tidak memiliki perasaan sama sekali, dan tak memiliki kehendaknya sendiri. Ia juga tidak memiliki emosi sama sekali. Lantas, bagaimana bisa kita takut dengan kecerdasan buatan yang seperti ini?
Sebagai manusia yang diciptakan Tuhan dengan berbagai macam kelebihan, dan dalam bentuk yang sebaik-baiknya, sebenarnya kita tidak perlu khawatir dengan kemajuan teknologi dan kemajuan zaman. Sebab itu semua adalah suatu keniscayaan. Percepatan kemajuan teknologi ini sudah pernah diramalkan oleh para intelektual dan pemikir dunia. Teknologi akan semakin cepat perkembangannya dalam rentang ratusan tahun umur budaya dan peradaban manusia.
Semakin lama semakin canggih dan semakin luar biasa percepatannya. Dan percepatan perkembangan teknologi semacam ini tentu saja memiliki dampak negatif maupun positif. Sebagai manusia yang memiliki rasa optimis yang tinggi, sudah seharusnya kita menyambut peradaban dan teknologi maju ini untuk membantu dan memajukan kehidupan manusia, kita gunakan teknologi itu sebagai alat yang membantu kehidupan manusia.
AI tidak memiliki imajinasi, dan perasaan. Ia hanya menjawab pertanyaan yang kita ajukan dengan referensi dan data yang ia punya, yang terkadang banyak salah dan ngawurnya. Ia adalah robot, yang tidak memiliki imajinasi, perasaan dan kehendaknya sendiri. Entitas dasar manusia, di antaranya ialah memiliki imajinasi, perasaan, kehendak, dan kreativitas, itu menjadi dasar dari segala laku literasi manusia.
Cara menjadi penulis yang baik adalah dengan menjadi pembaca yang baik. Penulis dan pembaca yang baik sudah barang tentu memiliki pendalaman perasaan, imajinasi, kreativitas yang baik. Tanpa entitas-entitas tersebut mustahil seorang penulis dan pembaca yang baik dan bagus akan terlahir, mustahil seorang manusia dengan kesadaran literasi bakal terlahir. (*)
*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.

