BACAAJA, DEMAK- Desa Tamansari, Kecamatan Mranggen, Kabupaten Demak, ternyata menyimpan sejumlah potensi yang selama ini mungkin dianggap biasa saja oleh warganya.
Mulai dari taman, aktivitas keluarga, peternakan sapi dan ayam, hingga pemancingan ikan, semuanya punya peluang untuk dikembangkan menjadi daya tarik desa.
Potensi itulah yang kemudian dieksplorasi mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) Kelompok 43, Jumat (28/8/2026).
Mahasiswa menyusuri beberapa wilayah di Desa Tamansari, mulai Dusun Brawah, Jetis, hingga Sukorejo. Mereka melihat langsung aktivitas masyarakat dan berbagai potensi yang bisa dikembangkan.
Baca juga: Dari Cangkang Jadi Cuan, Mahasiswa Upgris Intip Cara Limbah Naik Kelas
Tak sekadar datang untuk mengambil gambar atau dokumentasi, eksplorasi ini dilakukan untuk memetakan peluang wisata yang realistis dan sesuai dengan kondisi desa.
Salah satu konsep yang dinilai paling memungkinkan adalah wisata edukasi. Jadi, wisatawan nantinya tidak hanya datang untuk berfoto, jalan-jalan, lalu pulang membawa foto untuk media sosial. Mereka juga bisa mendapatkan pengalaman dan pengetahuan langsung dari aktivitas yang menjadi bagian kehidupan masyarakat desa.
Kepala Desa Tamansari, Slamet Suprihatin mengatakan, konsep wisata edukasi dinilai paling sesuai dengan potensi yang ada saat ini. “Untuk Desa Tamansari, yang berpotensi untuk dikembangkan lebih kepada wisata edukasi. Kalau untuk wisata di luar itu, sementara ini belum memungkinkan,” jelas Slamet.
Potensi seperti penggemukan sapi, peternakan ayam, pemancingan ikan, hingga ruang terbuka bisa dikemas menjadi aktivitas edukatif apabila dikelola dengan serius.
Misalnya, pengunjung bisa belajar mengenal proses peternakan, cara merawat hewan, memahami aktivitas perikanan, hingga berinteraksi langsung dengan kehidupan masyarakat desa.
Pengalaman Nyata
Konsep seperti ini dinilai punya peluang karena menawarkan pengalaman yang lebih nyata. Terutama bagi anak-anak dan keluarga yang selama ini lebih sering mengenal hewan ternak lewat buku, layar ponsel, atau video di media sosial.
Melalui program eksplorasi tersebut, mahasiswa KKN UPGRIS Kelompok 43 juga mendokumentasikan berbagai potensi Desa Tamansari dalam bentuk video.
Dokumentasi itu diharapkan dapat menjadi media promosi sekaligus membantu masyarakat melihat kembali aset desa yang selama ini mungkin belum dianggap memiliki nilai wisata.
Bagi mahasiswa, kegiatan ini bukan sekadar bagian dari program KKN yang harus diselesaikan sebelum kembali ke kampus. Eksplorasi potensi desa diharapkan menjadi gambaran awal bagi masyarakat dan pemerintah desa untuk menentukan arah pengembangan wisata ke depan.
Tentunya, semua masih membutuhkan proses, perencanaan, dan pengelolaan yang matang. Sebab, menemukan potensi adalah satu hal. Mengubahnya menjadi destinasi yang benar-benar berjalan dan memberikan manfaat ekonomi bagi warga adalah tantangan berikutnya. Namun, setidaknya Tamansari kini mulai punya peta untuk melihat peluangnya sendiri.
Kadang kita sibuk mencari tempat wisata jauh-jauh sampai lupa bahwa sapi di kandang, ayam di peternakan, dan kolam pancing di kampung sendiri ternyata juga punya cerita. Tinggal bagaimana mengemasnya, jangan sampai potensinya sudah viral di video KKN, tapi setelah mahasiswa pulang, yang tersisa cuma file dokumentasi di galeri. (tebe)

