BACAAJA, SEMARANG – Ribuan mahasiswa di Kota Semarang kembali turun jalan. Menyuarakan kritik terhadap pemerintah melalui aksi massa yang mereka sebut sebagai Panca Tuntutan Rakyat (Pantura), Rabu (26/8/2026).
Aksi tersebut menjadi wadah mahasiswa menyampaikan keresahan terhadap kondisi bangsa yang dinilai semakin jauh dari cita-cita kemerdekaan dan amanat konstitusi.
Sekitar pukul 18.00 WIB, massa mahasiswa berhenti di depan Gedung Mandala Bhakti atau Museum Tugu Muda. Di lokasi tersebut, mahasiswa membacakan pernyataan sikap sekaligus menyampaikan Panca Tuntutan Rakyat (Pantura) yang mereka tujukan kepada pemerintah.
Pernyataan sikap dibacakan Nur Majid Taufiqurrahman dari BEM Universitas Diponegoro (Undip).
Bacaaja: Aksi Mahasiswa Semarang Memanas, Massa dan Polisi Adu Dorong di Jalan Pemuda
Bacaaja: Polisi Adang Mahasiswa Massa Aksi Tugu Muda di Jalan Pemuda
“Kami melihat tingkah laku dari elite negara yang kian hari membawa arah bangsa ini menjauh dari cita-cita luhur kemerdekaan,” kata Nur Majid, Rabu (26/8/2026).
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi alasan mahasiswa kembali menggaungkan Panca Tuntutan Rakyat atau Pantura.
Ada lima tuntutan yang disampaikan mahasiswa. Pertama, mereka meminta pemerintah menurunkan harga bahan pokok dan BBM.
Kedua, mahasiswa meminta TNI dan Polri dikembalikan pada fungsi utamanya. Ketiga, mereka mendesak pemerintah melakukan evaluasi total terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG) serta menghentikan program Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).
Tuntutan keempat berkaitan dengan persoalan agraria dan bencana. Mahasiswa meminta kepemilikan tanah dikembalikan kepada rakyat serta rehabilitasi segera dilakukan di wilayah-wilayah yang terdampak bencana.
Sementara tuntutan kelima adalah menghentikan praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) di lingkungan pemerintahan.
“Dengan ini, kami berharap api perjuangan terus menjalar ke seluruh penjuru negeri,” ujarnya.
Aksi tersebut juga menjadi bentuk solidaritas mahasiswa terhadap masyarakat di sejumlah daerah yang tengah menghadapi bencana. Solidaritas itu ditujukan kepada masyarakat di Aceh, Flores, Papua, Kalimantan, Sumatera, serta wilayah lain yang terdampak bencana.
“Kita sebagai sesama saudara sebangsa yang tertindas,” katanya.
Nur Majid mengatakan, mahasiswa sebelumnya telah menyampaikan aspirasi Pantura di depan Gedung DPRD. Namun, mereka mengaku belum mendapatkan respons yang diharapkan.
“Kita sudah pernah menyampaikan aksi ini, aspirasi Pantura ini di depan Gedung DPRD, namun tidak pernah ada respons,” ujarnya.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat mahasiswa mempertanyakan fungsi DPR sebagai wakil rakyat dalam menampung dan memperjuangkan aspirasi masyarakat.
Karena itu, mahasiswa memilih kembali turun dan melebur bersama masyarakat. Mereka ingin menunjukkan bahwa gerakan mahasiswa tidak berdiri sendiri, tetapi tetap bersama rakyat dalam menghadapi berbagai persoalan.
“Kita ingin kembali untuk melebur dengan masyarakat, bahwasanya kita masih bersama mereka,” tutur Nur Majid.
Ia berharap suara mahasiswa dari Semarang dapat terdengar hingga ke pemerintah pusat.
“Semoga akhirnya terdengar di telinga pemerintah, sampai ke telinga pemerintah pusat,” katanya.
Pernyataan sikap tersebut kemudian ditutup dengan sejumlah seruan yang menggema di sekitar Gedung Mandala Bhakti.
“Hidup mahasiswa!” seru Nur Majid.
“Hidup rakyat Indonesia!” jawab massa aksi.
“Hidup perempuan yang melawan!” lanjutnya, disambut sorakan peserta aksi.
Mahasiswa kemudian menegaskan kembali semangat perjuangan mereka.
“Semarang, 26 Agustus, sampai merdeka sepenuhnya,” tutupnya. (dul)

