BACAAJA, SEMARANG- Dari sarang burung walet, gula merah, salak, hingga produk kayu, berbagai komoditas Jawa Tengah terus mencari pasar di luar negeri. Sepanjang 2026, nilai ekspor Jawa Tengah disebut telah mencapai sekitar Rp10,9 triliun.
Angka tersebut disampaikan Kepala Badan Karantina Indonesia Abdul Kadir Karding dalam kegiatan Jaring Asmara Pelaku Usaha Ekspor dan Impor di Kantor Balai Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan Jateng.
Karding menyebut capaian tersebut menunjukkan geliat ekspor Jateng masih cukup positif. Sejumlah komoditas lokal bahkan menjadi bagian dari produk yang ikut menggerakkan perdagangan ke pasar internasional.
“Ini bagus ini, Rp10,9 triliun kalau enggak salah data terakhir tadi itu 2026 itu ekspor Jawa Tengah,” kata Karding, Senin (24/8/2026). Menurutnya, sarang burung walet, gula merah, hingga produk kayu menjadi beberapa komoditas yang turut menopang aktivitas ekspor dari Jateng. “Meningkat, meningkat. Bagus ini. Neracanya bagus ini,” ujarnya.
Baca juga: Ekspor Ngebut, Cabai Ikut Melambung
Namun, meningkatnya nilai ekspor tidak lantas membuat pekerjaan selesai. Justru ketika produk semakin banyak masuk pasar internasional, tantangan berikutnya adalah memastikan kualitasnya mampu bertahan menghadapi standar yang berbeda-beda di setiap negara.
Karding mencontohkan Tiongkok yang memiliki persyaratan cukup ketat untuk sejumlah komoditas, termasuk sarang burung walet. Bagi eksportir, standar tersebut bisa menjadi tantangan tersendiri. Bahkan, dalam kasus tertentu, produk yang tidak memenuhi ambang batas dapat membuat perusahaan terkena suspend.
Karena itu, Karding menegaskan Indonesia tidak bisa sekadar meminta negara tujuan melonggarkan ketentuannya. Pelaku usaha justru perlu didorong agar produknya mampu memenuhi standar yang telah ditetapkan. “Tiongkok tentu punya standar yang mau tidak mau harus kita ikuti,” katanya.
Pasar Internasional
Untuk itu, Badan Karantina Indonesia akan memperkuat pendampingan kepada pelaku usaha. Tujuannya agar standar produk yang dihasilkan di dalam negeri dapat disesuaikan dengan persyaratan pasar internasional.
“Bagaimana caranya standar-standar itu bisa paralel atau sama dengan kebutuhan pembeli yang ada di berbagai negara,” jelasnya. Upaya memperkuat ekspor tersebut juga dibahas bersama lebih dari 40 perusahaan dalam forum Jaring Asmara.
Para pelaku usaha menyampaikan berbagai persoalan yang mereka hadapi, mulai dari regulasi, pelayanan, hingga proses pemeriksaan komoditas. Masukan tersebut menjadi bahan evaluasi agar pelayanan karantina tidak justru menjadi titik yang memperlambat arus perdagangan.
Baca juga: Primadona Baru Ekspor Jateng, Daun Cincau Kering Makin Diminati
Karding mengatakan penguatan ekspor juga harus dibarengi peningkatan kualitas. Sebab, semakin besar volume barang yang dikirim ke luar negeri, semakin besar pula tuntutan agar produk tersebut memenuhi standar pasar.
“Peningkatan kuantitas ekspor harus berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas produk agar komoditas Jateng semakin mampu bersaing di pasar internasional,” tegasnya.
Dengan capaian sekitar Rp10,9 triliun, Jateng kini tak hanya dituntut memperbanyak produk yang keluar negeri. Tantangan berikutnya adalah memastikan sarang walet, gula merah, salak, produk kayu, dan komoditas lainnya tetap lolos standar dan dipercaya pasar dunia. (dul)

