BACAAJA, SEMARANG – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jateng mencatat dampak kekeringan terus meluas seiring memasuki puncak musim kemarau.
Hingga pertengahan Agustus 2026, sebanyak 177 kecamatan dan 432 desa terdampak kekeringan, sementara 30 kabupaten/kota telah menyalurkan bantuan air bersih kepada masyarakat.
Kepala Pelaksana BPBD Jateng, Bergas Catursasi Penanggungan mengatakan, saat ini terdapat 25 kabupaten/kota yang telah menetapkan status siaga kekeringan.
“Siaga kekeringan itu ada 25 kabupaten/kota, sedangkan daerah yang sudah melaksanakan distribusi air bersih untuk masyarakat sebanyak 30 kabupaten/kota,” ujar Bergas, saat di temui di kantornya, Selasa (18/8/2026).
Menurutnya, kebutuhan air bersih terus meningkat dalam beberapa bulan terakhir. Jika pada Maret distribusi air masih relatif rendah, maka pada Juli jumlah air yang disalurkan melonjak hingga mencapai sekitar 10 juta liter.
Baca juga: Ancaman Kekeringan di Semarang Bukan Cuma karena Kemarau
Sementara pada pertengahan Agustus ini, distribusi air bersih sudah mendekati 9 juta liter. BPBD memperkirakan kebutuhan air hingga akhir Agustus dapat mencapai sekitar 30 juta liter. “Trennya yang harus kita antisipasi. Pertengahan Agustus ini sudah sekitar 9 juta liter. Perkiraan sampai akhir bulan bisa mencapai 30 juta liter,” katanya.
Daerah yang paling banyak menerima bantuan air bersih antara lain Klaten, Pemalang, Banjarnegara, Purbalingga, Blora, dan Grobogan. Wilayah-wilayah tersebut menjadi daerah dengan tingkat kebutuhan air bersih tertinggi selama musim kemarau tahun ini.
Meski demikian, Bergas memastikan ketersediaan air bersih masih mencukupi. BPBD bersama pemerintah kabupaten/kota telah menyiapkan cadangan distribusi air untuk memenuhi kebutuhan masyarakat terdampak.
Ketersediaan Anggaran
Selain mengandalkan anggaran pemerintah, penanganan kekeringan juga mendapat dukungan dari berbagai pihak melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), PMI, TNI, Polri, hingga dunia usaha.
BPBD mencatat kontribusi bantuan non-APBD tersebut mencapai sekitar 6,7 juta liter air bersih. “Justru keterlibatan CSR harus terus didorong. Nanti ke depan penanganan bisa dibagi berdasarkan wilayah sehingga saat terjadi kekeringan tinggal dilakukan koordinasi,” jelasnya.
Menghadapi kondisi kemarau yang masih berlangsung, BPBD mengimbau masyarakat untuk lebih bijak menggunakan air. Masyarakat juga didorong mulai menerapkan pola penghematan dan pemanfaatan kembali air yang masih layak digunakan untuk kebutuhan tertentu.
Baca juga: Kemarau Baru Mulai, Delapan Daerah Jateng Sudah Siaga Kekeringan
“Pada saat ini kita harus bisa menghemat air. Sebisa mungkin memilah penggunaan air dan memanfaatkan kembali air yang masih bisa digunakan,” pungkas Bergas.
BPBD memperkirakan puncak musim kemarau masih berlangsung hingga Agustus dan berlanjut pada September. Namun berdasarkan informasi BMKG, sejumlah wilayah di Jawa Tengah mulai menunjukkan tanda-tanda hujan sehingga diharapkan kondisi kekeringan dapat berangsur membaik dalam beberapa waktu ke depan.
Di saat langit masih pelit menurunkan hujan, angka distribusi air justru rajin naik. Kalau biasanya yang ditunggu warga adalah hujan, musim kemarau kali ini yang lebih ditunggu justru truk tangki. Semoga sebelum ember benar-benar jadi barang paling berharga di rumah, awan Jateng sudah kembali ingat cara menurunkan hujan. (dul)

