BACAAJA, SEMARANG – Lagi ramai nih. Seorang pelatih basket di Jateng yang dikenal punya banyak prestasi diduga melakukan kekerasan dan perlakuan tidak pantas terhadap pemain.
Tudingan itu ramai dibicarakan di media sosial sejak awal Agustus 2026. Sebuah akun Threads mengunggah sejumlah klaim dan tangkapan layar percakapan yang disebut berkaitan dengan perilaku sang pelatih.
Salah satu tudingan paling serius menyebut adanya dugaan kekerasan fisik terhadap pemain. Dalam unggahan tersebut, seorang pemain disebut pernah mendapat perlakuan kasar hingga mengalami luka pada bagian wajah.
Tak berhenti di situ. Sejumlah unggahan lain juga menyinggung dugaan kekerasan verbal dan tekanan terhadap pemain. Pelatih tersebut juga dituding menggunakan posisinya untuk meminta pemain mengurus berbagai keperluan pribadi. Mulai dari urusan rumah hingga merawat hewan peliharaan.
Baca juga: Perbasi Jateng Gaspol! Siap Bangun Ekosistem Basket yang Bikin Cuan dan Prestasi Sekaligus
Dalam salah satu unggahan yang beredar, bahkan disebut ada pemain yang diminta meninggalkan kegiatan organisasi mahasiswa karena harus mengurus keperluan pribadi pelatih.
Isu lain yang ikut mencuat berkaitan dengan beasiswa pemain. Dalam tangkapan layar yang diunggah akun tersebut, pelatih diduga mengancam akan mencabut beasiswa apabila pemain tidak mengikuti perintahnya.
Selain itu, muncul pula tudingan soal penggunaan uang hasil kegiatan atau kejuaraan untuk keperluan tertentu. Klaim tersebut juga disertai tangkapan layar percakapan yang diunggah ke media sosial.
Namun, seluruh tudingan tersebut masih merupakan klaim yang beredar di media sosial. Kebenarannya belum dapat dipastikan dan masih membutuhkan klarifikasi dari pihak-pihak yang disebut. Sorotan makin ramai setelah akun tersebut menyebut sejumlah mantan pemain maupun senior yang diklaim pernah mengalami persoalan serupa.
Perbasi Selidiki
Di tengah ramainya isu itu, DPD Persatuan Bola Basket Seluruh Indonesia (Perbasi) Jateng akhirnya angkat bicara. Organisasi menyatakan telah mengetahui laporan dan informasi yang beredar.
Perbasi menilai dugaan kekerasan maupun penyalahgunaan wewenang dalam pembinaan atlet merupakan persoalan serius. “Perbasi Jateng akan mendalami kasus ini sampai tuntas,” tulis pernyataan sikap organisasi sebagaimana diunggah dalam akun Instagram resminya.
Perbasi menyatakan bakal menelusuri laporan dan bukti yang beredar secara menyeluruh serta berimbang. Semua pihak yang terlibat juga akan diberi ruang untuk memberikan klarifikasi.
Jika nantinya ditemukan adanya pelanggaran, Perbasi Jateng memastikan bakal mengambil tindakan. “Apabila dari hasil penelusuran ditemukan bahwa dugaan pelanggaran tersebut benar adanya, Perbasi Jateng akan memberikan sanksi atas pelanggaran yang terjadi,” jelasnya.
Perbasi juga membuka ruang bagi korban maupun pihak yang mengetahui kejadian tersebut untuk melapor secara resmi. Organisasi itu menegaskan pembinaan basket seharusnya menjadi ruang yang aman, mendidik dan suportif bagi atlet, bukan tempat terjadinya intimidasi, kekerasan ataupun penyalahgunaan relasi kuasa.
Baca juga: Resmi Nahkodai Perbasi Jateng, Paman John Gaspol Bikin Basket Jadi Industri
“Kami menegaskan komitmen untuk menjaga integritas olahraga bola basket dan melindungi keselamatan setiap atlet, serta tidak akan mentoleransi segala bentuk kekerasan dan penyalahgunaan kekuasaan dalam ekosistem pembinaan bola basket di Jateng,” tegasnya.
Kini bola berada di tangan proses penelusuran. Prestasi seorang pelatih tentu tetap tercatat di papan skor, tetapi dugaan perlakuan terhadap atlet juga tidak bisa begitu saja di-skip.
Sebab, medali memang bisa dipajang di lemari, tetapi rasa aman pemain seharusnya tidak pernah menjadi harga yang harus dibayar demi sebuah prestasi. (bae)

