BACAAJA, CANGGU – Ada masa ketika sebuah band memilih menghilang setelah dihantam berbagai persoalan. Tradisigila malah mengambil jalan berbeda: kembali ke studio, meracik lagu, lalu menggeber karya baru.
Band yang kini berbasis di Bali tersebut resmi merilis album ketiganya, Street Love Memories, pada Agustus 2026. Album ini menjadi kelanjutan dari produktivitas mereka setelah kembali aktif pada 2025. Tak tanggung-tanggung, dalam waktu sekitar satu setengah tahun, Tradisigila sudah mengeluarkan tiga album.
“Album pertama kami rilis pada Maret 2025, kemudian album kedua pada Oktober masih di tahun yang sama. Dan Agustus 2026 kami merilis album ketiga,” ujar Fandem Fay, vokalis, gitaris sekaligus founder Tradisigila.
Buat band yang sempat vakum dan mengalami bongkar pasang personel, ritme tersebut jelas bukan pekerjaan santai. Namun, Tradisigila seolah ingin membuktikan bahwa jeda panjang tidak selalu berarti kehilangan arah.
Kadang justru menjadi waktu untuk mengumpulkan tenaga sebelum kembali membuat suara. Kini Tradisigila diperkuat Fandem Fay, Bang Bibir pada bass dan backing vocal, serta Rizal Lala di drum.
Baca juga: 17 Band Tampil di Final Lomba Band Christopherus Music School
Kalau melihat judul albumnya, satu hal langsung terasa: cinta sedang berkuasa di sini. Namun, Tradisigila tidak menerjemahkan cinta sebatas kisah dua orang yang sedang kasmaran.
Cinta di Street Love Memories jauh lebih luas. Ada cinta kepada pasangan, persahabatan, orang tua, kehidupan, sampai cinta yang berujung patah hati. Sepuluh lagu menjadi isi album ini, yakni “Cinta Selamanya”, “Kebanggaan”, “Melangkah Hingga Tua”, “Kuta Malam Ini”, “Bunga Primadona”, “Gadis Nakal”, “Babu I Love You”, “Terkadang Hidup Memuakkan”, “My Father”, dan “Street Love Memories”.
“Beda dengan album sebelumnya, di album ketiga ini lebih variatif,” kata Fandem. Variasi tersebut tidak hanya datang dari musik dan cerita, tetapi juga dari keterlibatan musisi lain. Tradisigila membuka ruang kolaborasi lintas genre untuk memperkaya warna album.
“Ada beberapa kolaborasi dengan musisi lain. Penasaran siapa? Dengarkan saja albumnya yang sudah bisa dinikmati di berbagai platform digital,” ujarnya.
Sebagian besar lagu merupakan karya Tradisigila. Sementara dua lagu lainnya ditulis oleh Hendy Hen, rekan mereka.
Dengan komposisi tersebut, Street Love Memories sengaja dibuat tidak monoton. Ada cerita manis, ada yang nakal, ada yang romantis, bahkan ada pula yang mengingatkan bahwa hidup kadang memang bikin kepala ingin istirahat sejenak.
Album ketiga ini juga punya cerita perjalanan tersendiri. Proses rekaman dilakukan di Denpasar, Jepara, Semarang, dan Ambarawa. Pengerjaannya berlangsung sekitar satu bulan pada awal 2026.
Merasa Nyaman
Namun, Denpasar menjadi kota yang paling banyak menyita waktu rekaman. Bukan tanpa alasan. Tradisigila merasa nyaman mengerjakan musik mereka di Pulau Dewata.
Bali sekaligus menjadi tempat tiga personel tersebut melanjutkan perjalanan hidup sebagai anak rantau. “Kami semua bertato dan kami sama-sama anak rantau yang sekarang stay dan berjuang di Pulau Dewata,” tutur Fandem.
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi cukup menggambarkan fase baru Tradisigila. Mereka bukan lagi sekadar band yang mencoba kembali setelah vakum. Ada kehidupan baru yang harus dijalani, pekerjaan yang harus diperjuangkan, sekaligus musik yang terus dirawat.
Kehadiran Bang Bibir sebagai personel baru juga membuat energi band terasa lebih segar. Bersama Rizal Lala, ketiganya kini mencoba menjaga Tradisigila tetap hidup sekaligus produktif. Fandem sebagai motor band pun masih berada di garis depan, mengawal arah musik dan perjalanan kelompok tersebut.
Secara visual, tema cinta juga dibawa ke artwork album. Sampul Street Love Memories didominasi warna pink dengan sosok cupid nakal yang membawa simbol cinta.
Baca juga: Teater Belum Mati di Semarang, Keraton Siluman Bikin Penonton Ketawa Sampai Sakit Perut
Sekilas terlihat manis. Tapi melihat judul lagunya, pendengar mungkin akan menemukan bahwa cinta versi Tradisigila tidak selalu berbunga-bunga. Ada “Cinta Selamanya”, tetapi ada pula “Terkadang Hidup Memuakkan”.
Ada “My Father”, yang membawa cinta kepada orang tua, tetapi juga ada cerita tentang hubungan, malam, perempuan, persahabatan, hingga patah hati. Jadi, album ini boleh saja berwarna pink. Tapi isinya tidak melulu manis.
Tradisigila berharap Street Love Memories bisa diterima pendengar dari berbagai kalangan dan menjadi pintu untuk kembali meramaikan perjalanan musik mereka di Indonesia.
Setelah pernah hilang dari radar, mereka kini kembali membawa tiga hal: personel yang lebih solid, energi yang baru, dan sepuluh lagu yang semuanya punya urusan dengan cinta.
Pada akhirnya, Street Love Memories mungkin bukan cuma tentang bagaimana mencintai seseorang. Ini juga tentang mencintai proses, bertahan ketika keadaan tidak ramah, dan tetap membuat musik meski hidup berkali-kali menyuruh berhenti.
Tradisigila sudah kembali. Dan kalau melihat tiga album dalam waktu relatif singkat, sepertinya mereka belum menemukan tombol “pause”. (tebe)

