BACAAJA, SEMARANG – Kesbangpol Jateng ngaku tegas soal seleksi Paskribraka. Gak ada namanya titip-titip nama. Seleksi Paskibraka bukan jastip.
Seleksi Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Jawa Tengah ternyata tak lepas dari berbagai “atensi”. Ada saja yang mencoba menghubungi panitia. Tapi satu hal dipastikan Kesbangpol Jateng, tidak ada ruang buat titip nama.
Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Jawa Tengah, Harso Susilo, menegaskan seluruh peserta yang lolos dipilih murni berdasarkan hasil penilaian dewan juri.
Bacaaja: Paskibraka Bukan Cuma Kibarkan Bendera, 45 Anak Muda Digembleng Jadi Duta Pancasila
Bacaaja: Polemik Pendirian Gereja di Leyangan sampai Komnas HAM, PJ Kades Bantah Persulit Perizinan
“Memang ada yang menghubungi, minta tolong atau memberi atensi. Tapi saya abaikan. Kami tetap berpegang pada hasil penilaian juri. No titip-titip, no jastip,” kata Harso, Selasa (4/8/2026).
Menurutnya, proses seleksi berlangsung ketat. Bukan cuma soal tinggi badan atau postur, tapi juga kemampuan fisik, kesehatan, psikologi, wawasan kebangsaan, hingga kedisiplinan.
Penilaian akhir pun berada di tangan tim juri dari Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP).
Harso bahkan punya analogi unik saat menggambarkan sosok Paskibraka yang dicari.
“Saya maunya ayam Bangkok, siap bertarung. Jangan cuma kelihatan besar, tapi ketika dilepas tidak siap bersaing,” ujarnya.
Artinya, peserta yang dipilih bukan sekadar punya penampilan meyakinkan, tetapi juga benar-benar siap menjalankan tugas dengan mental dan kemampuan terbaik.
Harso juga mengungkapkan, di tingkat nasional tidak selalu peserta dengan nilai tertinggi yang dipilih menjadi wakil daerah.
Ia mencontohkan Dimas Putra asal Salatiga yang berhasil lolos ke tingkat pusat meski bukan berada di peringkat pertama seleksi Jawa Tengah.
Sebab, tim nasional juga mempertimbangkan keserasian postur seluruh anggota dari berbagai provinsi agar formasi pengibaran bendera terlihat ideal.
“Kalau terlalu tinggi sendiri nanti malah seperti tiang listrik di tengah barisan. Jadi ada banyak pertimbangan di tingkat nasional,” katanya sambil tersenyum.
Tak hanya itu, pemeriksaan kesehatan juga dilakukan sangat detail. Bahkan ada peserta asal Kota Semarang yang harus gugur karena tidak memenuhi syarat kesehatan gigi.
“Semuanya diperiksa. Kesehatan gigi pun menjadi syarat penting. Jadi memang tidak hanya fisik dan tinggi badan,” jelasnya.
Di sisi lain, Harso mengakui pelaksanaan Paskibraka tahun ini ikut terdampak efisiensi anggaran.
Jika kebutuhan ideal mencapai lebih dari Rp1 miliar, anggaran yang tersedia hanya sekitar Rp500-600 juta.
Akibatnya, masa pemusatan latihan harus dipersingkat dan peserta tetap menjalani karantina di asrama BPSDMD, bukan di hotel.
Meski begitu, Harso memastikan kualitas pembinaan tidak akan dikorbankan.
“Yang kami kurangi hanya durasi pemusatan. Latihan tetap maksimal, makan, kesehatan, hingga pembinaan tetap kami utamakan. Jangan sampai kualitas anak-anak ini turun hanya karena efisiensi anggaran,” pungkasnya. (dul)

