Yuli Retno Indah Peratiwi adalah Universitas Persatuan Guru Republik Indonesia Semarang. Tinggal di Jalan Gajah, Semarang.
Nostalgia sering muncul ketika seseorang menghadapi ketidakpastian, ketidakpuasan, atau rasa kehilangan.
Akhir-akhir ini, beranda TikTok dipenuhi tren kembali ke 2016. Filter dog ears, efek Rio de Janeiro, VSCO, hingga lagu-lagu seperti “Closer” dari The Chainsmokers dan “Faded” karya Alan Walker kembali berseliweran seolah waktu berhenti di sana. Yang menarik, bukan hanya Gen Z yang ikut menyelam, tetapi juga Gen Alpha, yaitu generasi yang pada 2016 masih terlalu kecil untuk benar-benar memiliki kenangan tentang masa itu.
Lalu, mengapa masa yang dulu terasa biasa saja kini menjadi objek pemujaan? Ada apa dengan 2016? Barangkali sama seperti mantan: dulu terasa membosankan, sekarang justru dikenang sebagai “red flag” yang menarik dan dirindukan. Fenomena ini menunjukkan bahwa kita sedang merindukan masa yang bahkan tidak sepenuhnya kita alami secara sadar. Psikologi menyebutnya anemoia, yakni kerinduan terhadap waktu, tempat, atau era yang tidak pernah dialami secara pribadi.
Yang lebih menarik sekaligus menggelisahkan, jarak nostalgia kini semakin pendek. Jika dulu siklus nostalgia berkisar 20-30 tahun, kini cukup sekitar satu dekade. Kritikus budaya Simon Reynolds menyebut kecenderungan ini sebagai retromania. Di era digital, masa lalu sebenarnya tidak pernah benar-benar hilang. Semuanya tersimpan dan bisa diakses sekitarnya melalui TikTok, YouTube, maupun Spotify.
Kita hidup dalam kondisi atemporalitas, yaitu ketika 1999, 2016, dan 2026 hadir bersamaan di layar yang sama. Internet yang dulu terasa seperti warung kopi, berisik, sederhana, tetapi hangat, kini lebih menyerupai mal megah: terang, dingin, dan semua orang sibuk berfoto. Perubahan yang semakin cepat ini, terlebih dengan hadirnya AI, menyebabkan manusia membutuhkan acuan yang stabil.
Paparan informasi tanpa henti membuat banyak orang mengalami cognitive overload, yakni kondisi ketika memori kerja kewalahan memproses banyak informasi. Dampaknya tidak main-main: konsentrasi menurun, mudah lupa, cemas, hingga kualitas pengambilan keputusan ikut menurun. Dalam kondisi ini, nostalgia menjadi semacam tombol “riset” bagi pikiran yang kelelahan.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa nostalgia sering muncul ketika seseorang menghadapi ketidakpastian, ketidakpuasan, atau rasa kehilangan. Nostalgia berfungsi sebagai mekanisme adaptif yang membantu menjaga kesinambungan identitas dan menghadirkan rasa memiliki melalui ikatan sosial simbolis terhadap masa yang dianggap lebih sederhana. Singkatnya, kita lelah terus-menerus up date, sehingga diam-diam ingin kembali ke pengaturan pabrik: 2016.
Ada pula sisi lain yang membuat 2016 terasa menarik. Saat itu, hidup belum sepenuhnya berubah menjadi kompetisi personal branding. Kini kita berlari dalam maraton tanpa garis finis: mengejar karier, konten, dan validasi. Tekanan itu menciptakan burnout, dan paradoksnya semakin diperkuat oleh AI.
Budaya “kalau AI bisa, berarti kamu juga harus lebih cepat” membuat ekspektasi kerja terus meningkat. Harvard Business Review bahkan mencatat bahwa mengoreksi keluaran AI kerap lebih menguras energi mental dibandingkan dengan mengerjakan tugas dari nol. Produktivitas naik, tetapi beban mental ikut melonjak.
Mungkin karena itulah nostalgia terhadap 2016 bukan sekadar bentuk pelarian, melainkan protes halus generasi muda terhadap dunia yang bergerak terlalu cepat. Jadi, apakah kita benar-benar merindukan 2016, atau sebenarnya merindukan versi diri yang belum lelah? Ironisnya, kerinduan itu tetap kita unggah dengan filter estetik dan tagar, lalu diputar kembali oleh algoritma yang sejak awal membuat kita kelelahan. (*)
*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.

