Muhammad Fiam Setyawan adalah alumni mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam UIN Raden Mas Said Surakarta.
Kultur fanatik telah membuat perdebatan ini tergeser jauh dari realitas objektif, dan berubah menjadi perselisihan yang terus dirawat dari generasi ke generasi.
Perdebatan mengenai siapa yang layak menyandang gelar Greatest of All Time (GOAT) antara Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi agaknya telah menjadi narasi panjang yang tidak kenal habisnya dalam sejarah olahraga modern. Persaingan sengit ini setidaknya bisa diukur secara objektif melalui deretan trofi, statistik gol, hingga pencapaian Ballon d’Or. Namun, ketika gelombang rivalitas ini masuk ke area penggemar sepak bola di Indonesia, esensinya mengalami pergulatan yang emosional.
Diskusi taktis dan apresiasi di atas lapangan hijau seketika berubah menjadi benturan ego komunal netizen yang riuh di berbagai ruang digital. Fenomena fanatisme di tanah air ini tidak lagi sekadar mencerminkan kecintaan mendalam masyarakat terhadap olahraga si kulit bundar. Lebih jauh lagi, ia menjadi sebuah potret sosiologis yang memperlihatkan kerapuhan cara pandang serta logika dari sebagian pendukung.
Perselisihan sengit antara pemuja Ronaldo dan Messi mencerminkan adanya pergeseran fungsi sepak bola. Dari yang semula berfungsi sebagai sarana hiburan kini bertransformasi menjadi wahana adu gengsi. Krisis identitas inilah yang kemudian melahirkan pola hubungan emosional yang destruktif dan tidak rasional di kalangan pencinta olahraga tersebut.
Militansi yang berlebihan ini agaknya memiliki kaitan erat dengan minimnya prestasi sepak bola di level domestik. Tingginya gairah sepak bola masyarakat Indonesia tidak berbanding lurus dengan pencapaian riil tim nasional maupun klub di kompetisi lokal. Guna memenuhi dahaga akan kejayaan yang absen di rumah sendiri, sebagian pendukung akhirnya meminjam identitas dari panggung internasional dan memproduksinya secara berlebihan.
Pola perselisihan dari rivalitas keras antar-klub lokal pun dengan mudah ditransformasikan ke dalam bentuk persaingan individu megabintang internasional. Sikap agresif sebagian pendukung di Indonesia dalam membela Ronaldo atau Messi bisa jadi merupakan kebutuhan akan pengakuan identitas diri. Ketika seorang individu menghadapi keterbatasan dalam menemukan kebanggaan pada kehidupan personal, mereka cenderung memproyeksikan ego mereka pada objek lain.
Akibatnya, setiap prestasi dari sang idola diklaim sebagai bentuk validasi atas kehebatan diri sendiri. Sementara itu, ketika sang idola mengalami kekalahan atau penurunan performa, hal tersebut dirasakan sebagai ancaman eksistensial terhadap harga diri pendukung itu sendiri. Rasa bangga yang berlebihan atau kecenderungan overproud ini kerap mewujud dalam bentuk arogansi yang secara sengaja menyerang, merendahkan, dan mendehumanisasi kelompok pendukung lawan.
Ruang digital dimanfaatkan bukan sebagai forum diskusi untuk bertukar pikiran atau mengagumi taktik permainan, melainkan berubah menjadi arena pertempuran untuk saling membuktikan kelompok mana yang paling unggul. Sikap defensif yang tidak mau menerima kenyataan objektif, cacian kasar, dan ujaran kebencian akhirnya menjadi bahasa utama yang digunakan untuk melindungi sang idola. Kebanggaan yang agresif ini memperlihatkan bahwa para pendukung memposisikan diri mereka sebagai benteng pertahanan terakhir sang idola. Imbasnya mereka berusaha keras untuk saling melakukan pembelaan dan pembuktian buta.
Perilaku mengikuti sebuah figur secara mutlak tanpa memahaminya secara utuh merupakan sebuah bentuk pengabaian nyata terhadap anugerah akal yang berfungsi untuk menimbang kebenaran secara mandiri. Ketika sikap dogmatis ini diadopsi oleh pendukung pemain maupun klub bola, pada akhirnya lahirlah polarisasi ekstrem yang menafikan segala bentuk objektivitas berpikir.
Perwujudan nyata dari sikap fanatisme buta dalam rivalitas Ronaldo-Messi ini terlihat pada hilangnya proses verifikasi data yang valid. Informasi subyektif yang distortif, meme ejekan yang merendahkan, hingga narasi provokatif dari akun fanbase ditelan mentah-mentah tanpa proses penyaringan kritis sedikit pun.
Kedua belah pihak secara sadar menciptakan ekosistem yang hanya mau menerima pasokan informasi dari pendukung idola mereka sendiri. Akibatnya, pembelaan buta yang agresif mengalahkan rasionalitas sehat. Seakan-akan sang idola memengaruhi martabat dan harga diri mereka secara langsung.
Lebih jauh lagi, gejala kelumpuhan nalar ini melahirkan anggapan dogmatis bahwa sang idola memiliki sifat semacam “kemaksuman” atau kesucian yang antikritik. Sebagai contoh, ketika Ronaldo mengalami kekalahan atau Messi sedang tampil buruk, para pengikutnya segera merumuskan berbagai dalih pembelaan diri. Mereka akan sibuk mencari kambing hitam di luar sang idola. Mulai dari melemparkan kesalahan pada taktik pelatih, performa rekan setim, kesalahan wasit, hingga menciptakan teori konspirasi lain. Konstruksi berpikir seperti ini membuktikan bahwa figur individu telah menjadi sesuatu yang sakral.
Saat ini, era Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi mulai memasuki akhir. Kendati demikian, konflik emosional di kalangan pendukung di Indonesia tampak masih menyisakan bara api perselisihan yang sulit dipadamkan. Kultur fanatik telah membuat perdebatan ini tergeser jauh dari realitas objektif, dan berubah menjadi perselisihan yang terus dirawat dari generasi ke generasi. Hal ini membuktikan bahwa fanatisme agresif yang terlanjur mengikat ego personal pendukung tidak mudah luruh begitu saja oleh waktu.
Sepak bola yang secara historis seharusnya berfungsi sebagai wahana pemersatu komunal, kini justru kerap menjadi medium perselisihan. Kemerdekaan akal sehat harus direbut kembali dari belenggu fanatisme buta yang merusak. Kedewasaan pendukung hanya akan tercapai ketika kita mampu membebaskan diri dari jerat fanatisme buta dan menikmati olahraga ini secara humanis. (*)
*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.

