BACAAJA, SEMARANG – Pengamat pendidikan mengungkap, sekolah sepi peminat bukan berarti berhenti berinovasi. Kata pengamat, inovasi dan prestasi akan menjadi magnet orang tua untuk mendaftarkan anak ke sekolah.
Sepinya jumlah peserta didik baru di sejumlah sekolah negeri pada Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2026 bukan berarti sekolah kehilangan daya saing. Justru, kondisi ini dinilai bisa menjadi momentum untuk berbenah dan menghadirkan inovasi agar kembali dilirik masyarakat.
Pengamat pendidikan dari PGRI Kota Semarang, Nur Khoiri, mengatakan sekolah dengan jumlah murid yang sedikit memiliki peluang memberikan pembelajaran yang lebih optimal karena guru dapat mendampingi siswa secara lebih intensif.
Bacaaja: SDN Purwoyoso 1 Cuma Terima 3 Murid Baru, MPLS Tetap Dibikin Serasa Pesta
Bacaaja: Sekolah Dasar Negeri Sepi Peminat, Pengamat Singgung Pergeseran Penduduk
“Kalau muridnya sedikit, sebenarnya guru bisa lebih fokus mendampingi siswa. Ini justru bisa menjadi peluang untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan melahirkan lebih banyak prestasi,” ujarnya, Sabtu (18/7/2026).
Nur Khoiri mencontohkan kondisi SDN Purwoyoso yang tahun ini hanya menerima tiga siswa baru. Menurutnya, persoalan tersebut bukan diselesaikan dengan mengubah kurikulum, melainkan melalui kreativitas sekolah dalam menghadirkan program-program unggulan.
“Kurikulum tidak perlu diubah. Yang harus berubah adalah cara sekolah mengelola potensinya. Kepala sekolah dan guru harus berani membuat inovasi, program unggulan, dan kegiatan yang menarik sehingga masyarakat punya alasan memilih sekolah itu,” katanya.
Ia menilai prestasi menjadi modal penting untuk membangun kepercayaan masyarakat. Bahkan, orang tua tidak akan keberatan menyekolahkan anaknya lebih jauh jika sekolah tersebut memiliki kualitas dan rekam jejak yang baik.
“Kalau sekolahnya punya prestasi, orang tua bisa saja rela mengantar anaknya lebih jauh. Tapi kalau lokasinya jauh dan tidak ada sesuatu yang membedakan, tentu mereka akan memilih sekolah yang lebih dekat dari rumah,” jelasnya.
Di sisi lain, Nur Khoiri mengapresiasi langkah Pemerintah Kota Semarang yang menggandeng sekolah swasta untuk menampung siswa yang belum diterima di sekolah negeri melalui program bantuan pendidikan.
Menurutnya, kebijakan tersebut menjadi solusi jangka pendek yang tepat sembari pemerintah menyesuaikan pemerataan fasilitas pendidikan dengan pertumbuhan penduduk di kawasan baru.
“Program kerja sama dengan sekolah swasta ini sudah berjalan dan menurut saya sangat baik. Anak-anak yang belum tertampung di sekolah negeri tetap bisa memperoleh pendidikan tanpa terbebani biaya karena mendapat dukungan dari pemerintah daerah,” katanya.
Ia berharap upaya pemerintah diiringi dengan keseriusan sekolah untuk terus berinovasi dan meningkatkan kualitas pendidikan.
“Jangan sampai sekolah sudah sepi murid tetapi tidak melakukan terobosan. Kalau tidak ada inovasi dan tidak ada prestasi, sekolah akan semakin ditinggalkan. Sebaliknya, kalau berhasil menciptakan sekolah yang unggul, itu akan menjadi magnet yang membuat masyarakat datang dengan sendirinya,” tegasnya.
Menurutnya, di tengah perubahan demografi dan persaingan yang semakin ketat, inovasi bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan agar sekolah tetap relevan dan menjadi tujuan utama masyarakat. (dul)

