BACAAJA, SEMARANG- Pemprov Jateng tengah menyiapkan Festival Literasi Jawa Tengah 2026 yang akan digelar pada September mendatang di Kota Semarang. Festival ini dikemas bukan sekadar sebagai pameran buku, melainkan ruang kolaborasi yang mempertemukan penulis, akademisi, santri, penerbit, hingga masyarakat dalam satu perayaan literasi.
Bunda Literasi Provinsi Jawa Tengah, Nawal Arafah Yasin, mengatakan festival tahun ini bakal melibatkan pegiat literasi dari 35 kabupaten dan kota di Jawa Tengah.
Salah satu nama yang dipastikan menjadi magnet pengunjung adalah penulis best seller Tere Liye. “Insyaallah akan dihadiri oleh penulis Tere Liye,” kata Nawal saat menerima audiensi Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Jateng, Rahmah Nur Hayati di Semarang, Kamis (16/7/2026).
Baca juga: Dua Pelajar Banjarnegara Bikin Heboh Panggung Literasi Nasional
Menurut Nawal, konsep festival kali ini dibuat lebih dekat dengan masyarakat. Literasi tidak lagi dipandang sebagai aktivitas yang hanya berlangsung di perpustakaan, tetapi menjadi ruang terbuka untuk belajar, berdiskusi, bertukar gagasan, sekaligus berkarya.
“Kami ingin mendekatkan kegiatan literasi kepada masyarakat. Jadi bukan hanya kegiatan di perpustakaan, tetapi benar-benar menjadi ruang bersama untuk belajar, berdiskusi, dan berkarya,” ujarnya.
Koleksi Terbaru
Panitia menyiapkan sekitar 65 stan. Sebanyak 35 stan akan diisi oleh perwakilan kabupaten dan kota se-Jawa Tengah, sementara sisanya ditempati penerbit, percetakan, serta pelaku industri buku. Sejumlah penerbit nasional juga dijadwalkan hadir membawa koleksi buku terbaru.
Tak hanya buku-buku baru, festival ini juga menghadirkan kekayaan intelektual masa lampau. Salah satu yang paling dinanti adalah pameran manuskrip kitab klasik karya KH Bisri Mustofa, ulama kharismatik asal Rembang sekaligus ayah dari budayawan KH Mustofa Bisri atau Gus Mus. Manuskrip berbahasa Arab tersebut menjadi bagian penting sejarah keilmuan Islam di Indonesia.
Rangkaian acara lainnya juga dibuat beragam agar bisa dinikmati semua kalangan. Mulai dari bedah buku, seminar, pentas seni mahasiswa, kompetisi literasi santri, debat mahasiswa, hingga lomba drum band untuk anak-anak PAUD.
Baca juga: Nawal Yasin Ajak Pesantren Hidupkan Lagi “DNA Literasi”
Melalui festival ini, Pemprov berharap budaya membaca semakin tumbuh dan ekosistem literasi makin kuat. Harapannya, festival tidak hanya melahirkan masyarakat yang gemar membaca, tetapi juga memunculkan lebih banyak penulis, pemikir, dan inovator dari berbagai daerah di Jateng.
Di era ketika orang lebih hafal isi kolom komentar daripada isi buku, Festival Literasi Jateng 2026 datang membawa pengingat sederhana: kadang, halaman yang paling mengubah hidup bukan yang ada di media sosial, melainkan yang ada di dalam buku. (tebe)

