BACAAJA, JAKARTA- Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti akhirnya buka suara soal makin banyaknya sekolah dasar negeri (SDN) yang kekurangan murid baru.
Menurut Mu’ti, persoalan tersebut sudah disampaikannya secara langsung kepada Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian. Pemerintah pun bakal menggelar rapat khusus untuk mencari jalan keluar atas fenomena yang mulai terjadi di berbagai daerah.
“Secara nonformal saya sudah menyampaikan masalah menurunnya jumlah murid SD kepada Bapak Mendagri,” kata Mu’ti, Kamis (16/7/2026). Saat ini, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah sedang memetakan sekolah-sekolah yang memiliki jumlah siswa sangat minim, terutama yang total muridnya bahkan belum mencapai 60 orang.
Baca juga: SDN Purwoyoso 1 Cuma Terima 3 Murid Baru, MPLS Tetap Dibikin Serasa Pesta
“Kementerian sedang mendata sekolah yang jumlah muridnya kurang dari 60. Nanti akan diadakan rapat khusus membahas fenomena tersebut,” ujarnya. Fenomena itu terlihat nyata di SD Negeri Purwoyoso 1 Semarang. Pada hari pertama Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), Senin (13/7/2026), sekolah tersebut hanya menerima tiga siswa baru kelas I.
Pemandangan yang biasanya dipenuhi anak-anak berseragam baru dan orang tua yang mengantar, kali ini berubah sunyi. Tak ada antrean panjang, tak ada halaman sekolah yang penuh riuh suara murid baru.
Datangkan Badut
Meski begitu, para guru di sekolah tetap menyambut dua murid baru dengan penuh semangat. Bahkan, sekolah mendatangkan seorang badut untuk memeriahkan acara. Bagi mereka, sedikitnya peserta didik bukan alasan untuk mengurangi kualitas pelayanan maupun perhatian kepada siswa.
Fenomena sekolah negeri yang kehilangan peminat belakangan menjadi sorotan di berbagai daerah. Selain dipengaruhi penurunan angka kelahiran, kondisi ini juga diduga berkaitan dengan persebaran penduduk, pilihan orang tua terhadap sekolah swasta, hingga perubahan sistem penerimaan murid baru.
Baca juga: Soal Sekolah Minim Siswa, DPRD Minta Jangan Asal Digabung
Hasil pendataan yang tengah dilakukan pemerintah nantinya diharapkan menjadi dasar dalam merumuskan kebijakan agar sekolah-sekolah dengan jumlah siswa minim tetap dapat memberikan layanan pendidikan yang optimal.
Kalau dulu sekolah sibuk menyeleksi murid karena bangkunya kurang, sekarang justru bangku yang menunggu murid datang. Ironisnya, bukan ruang kelas yang mengecil, melainkan jumlah anak yang mengisinya. (tebe)

