Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Parasit Komodo Mulai Terkuak, Ancaman Baru Ikut Terbaca
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Pendidikan

Parasit Komodo Mulai Terkuak, Ancaman Baru Ikut Terbaca

Nugroho P.
Last updated: Juli 12, 2026 9:01 pm
By Nugroho P.
4 Min Read
Share
ilustrasi komodo. (ugm.ac.id)
SHARE

BACAAJA, YOGYAKARTA – Komodo selama ini lebih sering dibahas dari sisi ukuran tubuh, perilaku berburu, hingga statusnya sebagai satwa langka. Namun, penelitian terbaru justru membuka sisi lain yang tak kalah penting, yakni kesehatan komodo di habitat aslinya.

Mengutip ugm.ac.id Tim peneliti dari Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada (UGM) berhasil mengungkap keberadaan sejumlah parasit yang hidup pada komodo liar di kawasan Taman Nasional Komodo, Nusa Tenggara Timur. Temuan ini menjadi pijakan awal untuk memahami ancaman penyakit yang selama ini belum banyak mendapat perhatian.

Salah satu hasil menarik dari penelitian tersebut ialah ditemukannya cacing pita endemik Kapsulotaenia sandgroundi dengan tingkat prevalensi sekitar 6,67 persen. Parasit ini memiliki telur berkapsul ganda yang membuatnya mampu bertahan di lingkungan sabana yang panas dan kering.

Guru Besar Parasitologi FKH UGM, Prof. Wisnu Nurcahyo, menjelaskan parasit tidak selalu identik dengan sumber penyakit. Dalam banyak kasus, keberadaan parasit justru bisa menjadi penanda kondisi ekosistem tempat satwa hidup.

Menurutnya, perubahan jumlah maupun jenis parasit dapat memberikan sinyal bahwa lingkungan sedang mengalami tekanan. Karena itu, pemantauan parasit menjadi bagian penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem sekaligus melindungi satwa liar.

Penelitian ini merupakan bagian dari disertasi mahasiswa doktor FKH UGM, drh. Aji Winarso. Kajian tersebut menggabungkan pendekatan parasitologi, analisis molekuler, hingga ekologi lanskap melalui konsep One Health yang menghubungkan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan.

Aji menilai aspek kesehatan komodo selama ini masih kalah populer dibanding riset populasi dan habitat. Padahal, penyakit dapat menjadi ancaman serius bagi satwa endemik yang hidup terbatas di pulau-pulau kecil.

Ia mengatakan penelitian ini bertujuan menyusun data dasar mengenai keberadaan patogen dan parasit pada komodo. Informasi tersebut diharapkan mampu menjadi sistem deteksi dini jika suatu saat muncul wabah penyakit di habitat komodo.

Sebelum penelitian dilakukan, tim terlebih dahulu mengurus izin penelitian serta persetujuan etik. Koordinasi juga dilakukan bersama Balai Taman Nasional Komodo agar seluruh proses pengambilan sampel berjalan sesuai aturan konservasi.

Sampel yang dikumpulkan meliputi feses, darah, hingga ektoparasit yang menempel pada tubuh komodo liar. Semua sampel kemudian diperiksa menggunakan mikroskop sebelum dipastikan kembali melalui analisis molekuler.

Hasil penelitian menunjukkan keberadaan cacing di saluran pencernaan maupun caplak pada kulit komodo merupakan kondisi yang umum ditemukan di alam. Meski begitu, jumlah parasit yang meningkat akibat perubahan lingkungan dapat memengaruhi kondisi kesehatan satwa tersebut.

Temuan lain yang cukup menyita perhatian adalah adanya caplak komodo yang diketahui pernah menggigit manusia di Pulau Rinca. Kondisi ini dinilai menjadi peringatan bahwa interaksi manusia dan satwa liar perlu dikelola dengan lebih hati-hati.

Caplak diketahui berpotensi membawa berbagai mikroorganisme penyebab penyakit. Jika kontak antara komodo, satwa mangsa seperti rusa dan babi, serta wisatawan semakin intens, peluang terjadinya penularan penyakit lintas spesies juga ikut meningkat.

Aji mengingatkan risiko spillover atau lompatan penyakit tidak boleh dianggap sepele, terutama di kawasan wisata yang ramai dikunjungi. Pengawasan kesehatan satwa menjadi langkah penting agar ancaman tersebut dapat dicegah sejak awal.

Tim peneliti pun mendorong pengelola Taman Nasional Komodo bersama pemerintah memperkuat sistem pemantauan kesehatan satwa secara berkala. Pendekatan One Health dinilai menjadi solusi paling tepat karena melibatkan perlindungan terhadap manusia, hewan, dan lingkungan secara bersamaan.

Selain memonitor kondisi komodo, kesehatan satwa mangsa juga perlu diawasi agar tidak menjadi sumber penyebaran penyakit. Di sisi lain, penerapan biosekuriti bagi petugas maupun wisatawan juga harus diperketat untuk meminimalkan potensi penularan zoonosis.

Lewat penelitian ini, para peneliti berharap konservasi komodo tidak hanya berfokus pada jumlah populasi, tetapi juga memperhatikan kesehatan satwa secara menyeluruh. Dengan begitu, upaya menjaga kelestarian komodo dapat berjalan lebih lengkap dan berkelanjutan. (*)

You Might Also Like

Sekolah Gratis Makin Meluas, Orangtua Jakarta Bisa Lega

SMAN 6 Semarang Jadi Sekolah Pertama Gelar UKBI 2026

Kursi Masih Banyak Kosong, SMPN 3 Plered Ungkap Penyebab Sebenarnya

Undip Bukan Kaleng-kaleng, Kampus Nomor 4 Terbaik Nasional Versi EduRank 2026

Pemprov Perkuat Sekolah Inklusi buat Penyandang Disabilitas

TAGGED:cacing pitakomodo pendidikanparasit komodopenelitian
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Kanker Pada Gen Z Makin Naik, Peneliti Bongkar Dugaan Penyebabnya
Next Article TANAM CEMARA--Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng (depan) bersama Karang Taruna Kecamatan Tugu, menanam cemara laut di Pulau Tirang, Minggu (12/7/2026). (ist) Wali Kota Agustina Bareng Karang Taruna Tanam Cemara Laut di Pulau Tirang

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Ilustrasi koruptor.

Publik Minta Koruptor Dihukum Berat tapi Tetap Adil

UU Perampasan Aset Dinilai Jadi Senjata Lawan Korupsi

DISKUSI - Diskusi tim peneliti UIN Walisongo bersama pengajar ABIM mengenai penerapan nilai moderasi dan Malaysia Madani dalam lingkungan pendidikan.

Tak Sekadar Maulid, Tim Penelitian UIN Walisongo Belajar Moderasi Islam di Pulau Pinang Malaysia

TERIMA KUNJUNGAN - 96 siswa SMK Bina Utama Kendal didampingi enam guru melaksanakan kunjungan industri ke kantor PLN Icon Plus SBU Regional Jawa Bagian Tengah di Semarang.

PLN Icon Plus SBU Regional Jawa Bagian Tengah Terima Kunjungan Industri SMK Bina Utama Kendal

SIDANG KORUPSI--Para saksi dimintai keterangan dalam sidang korupsi terdakwa Fadia Arafiq, Bupati Pekalongan, Kamis (27/8/2026). (bae)

ART ‘Disulap’ Jadi Direktur Perusahaan Keluarga Fadia, Gelagapan saat Dicecar KPK

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Pendidikan

Minum Kopi Jangan Asal, Ada Doanya, Warisan Para Sufi

September 27, 2025
Pendidikan

Ngopi Model Baru ala Mahasiswa UNY,  Kopi dari Daun Kelor, Nikmat dan Superfood

Oktober 3, 2025
Pendidikan

Jangan Keliru, Tiga Sekolah Ini Beda Jalur

Juli 21, 2026
Pendidikan

Final Cerdas Cermat Kalbar Makin Riuh, Sambas Ikut Buka Suara

Mei 18, 2026

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Parasit Komodo Mulai Terkuak, Ancaman Baru Ikut Terbaca
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?