BACAAJA, SEMARANG – Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) makin akrab dengan dunia kesehatan. Teknologi ini kini hadir di berbagai alat medis modern untuk membantu dokter bekerja lebih cepat, lebih teliti, dan lebih efisien saat menangani pasien.
Pemanfaatan AI tidak lagi sebatas aplikasi kesehatan. Sistem pintar tersebut sudah tertanam pada perangkat seperti CT Scan, MRI, USG, hingga teknologi terapi berbasis pencitraan yang digunakan di banyak rumah sakit.
Meski perkembangannya melesat, masih banyak orang yang khawatir AI suatu saat akan menggantikan profesi dokter. Anggapan itu ternyata tidak sejalan dengan pandangan para pakar kesehatan.
Global Chief Medical Officer for Diagnosis & Treatment Philips, dr. Atul Gupta, menegaskan AI memang bukan dibuat untuk mengambil alih tugas tenaga medis. Menurutnya, keputusan medis tetap menjadi tanggung jawab dokter.
Ia menyebut AI lebih tepat diposisikan sebagai asisten digital yang membantu dokter menjalankan pekerjaannya dengan lebih cepat dan akurat. Teknologi hanyalah alat pendukung, bukan pengganti pengalaman maupun penilaian klinis manusia.
Saat ini Philips telah mengembangkan lebih dari 45 fitur AI yang diterapkan pada sistem pencitraan medis. Teknologi tersebut digunakan untuk membantu proses pemeriksaan CT Scan, MRI, hingga USG.
Keberadaan AI mampu memangkas waktu pemeriksaan secara signifikan. Selain itu, kualitas gambar medis juga bisa meningkat sehingga dokter lebih mudah menemukan tanda-tanda kelainan pada tubuh pasien.
Menurut dr. Atul, AI bahkan dapat mempercepat proses pemindaian MRI hingga beberapa kali lipat. Di sisi lain, konsumsi energi alat medis juga bisa ditekan sehingga operasional menjadi lebih efisien.
Kemampuan AI tidak berhenti pada proses pemindaian. Teknologi ini juga berfungsi sebagai “mata kedua” ketika dokter membaca hasil pemeriksaan radiologi yang jumlah datanya semakin besar.
Sebagai contoh, AI dapat menandai bagian tertentu pada hasil MRI prostat yang dicurigai mengandung sel kanker. Penanda tersebut membantu dokter memberikan perhatian lebih pada area yang berpotensi bermasalah.
Walau begitu, keputusan akhir mengenai diagnosis maupun tindakan medis tetap berada di tangan dokter. AI hanya memberikan rekomendasi berdasarkan data yang dianalisis.
Ke depan, teknologi AI diperkirakan memiliki kemampuan lebih canggih. Salah satunya memprediksi risiko penyakit bahkan sebelum seseorang merasakan gejala.
Analisis data dari perangkat wearable, misalnya, dapat membantu memperkirakan kemungkinan gangguan irama jantung beberapa minggu sebelum kondisi itu benar-benar terjadi. Potensi ini dinilai membuka peluang deteksi dini yang lebih baik.
Executive Vice President sekaligus Chief Business Leader Image Guided Therapy Philips, Bert van Meurs, juga melihat AI sebagai solusi untuk memperluas akses layanan kesehatan, terutama di daerah yang kekurangan dokter spesialis.
Menurutnya, AI bisa menjadi sumber referensi tambahan bagi dokter yang masih berada pada tahap awal karier. Dengan dukungan teknologi, mereka dapat memperoleh informasi yang biasanya hanya dimiliki dokter berpengalaman.
Hal itu membuat dokter muda lebih percaya diri saat menghadapi prosedur medis yang rumit maupun pasien dengan kondisi kritis. AI membantu menyediakan informasi penting secara cepat ketika dibutuhkan.
Bert menegaskan AI bukan pesaing dokter. Sebaliknya, teknologi tersebut dirancang agar tenaga medis bisa mengambil keputusan yang lebih tepat di tengah tekanan pekerjaan yang semakin kompleks.
Beban kerja dokter memang terus meningkat. Jika dahulu hasil CT Scan hanya menghasilkan puluhan gambar, kini satu pemeriksaan dapat menghasilkan lebih dari seribu citra yang harus dianalisis dalam waktu singkat.
Lonjakan data inilah yang membuat AI menjadi alat bantu yang sangat penting. Teknologi tersebut membantu menyaring informasi, mempercepat analisis, sekaligus mengurangi risiko adanya detail yang terlewat.
Para ahli pun sepakat bahwa masa depan layanan kesehatan bukan tentang persaingan antara dokter dan AI. Justru kolaborasi keduanya diharapkan mampu menghadirkan diagnosis yang lebih akurat, pelayanan lebih cepat, dan akses kesehatan yang semakin merata bagi masyarakat. (*)

