Yuli Retno Indah Peratiwi adalah Universitas Persatuan Guru Republik Indonesia Semarang. Tinggal di Jlan Gajah, Semarang.
Tren ini selaras dengan berbagai survei preferensi kerja 2026 yang menunjukkan mayoritas Gen Z lebih memilih sistem kerja hybrid maupun remote dibandingkan WFO.
Merantau untuk kuliah berarti siap berdamai dengan biaya hidup yang terus naik. Demi menambah uang saku, mahasiswa biasanya mencari pekerjaan sampingan, mulai dari mengajar les, menjadi kasir, barista, hingga bekerja di laundry. Namun, ada pemandangan yang kini semakin lazim: mahasiswa yang tampak rebahan sambil menggulir Shopee lalu sesekali mengetik caption di gawai.
Sekilas terlihat seperti sedang bermalas-malasan. Padahal bisa saja mereka sedang bekerja. Kalau dulu mencari uang identik dengan mandi keringat, sekarang cukup bermodal kuota internet, kreativitas, dan sedikit bakat “meracuni” orang untuk membeli barang. Itulah fenomena Shopee affiliate, bukan lagi sekadar tren receh, melainkan cerminan perubahan ekonomi digital yang membuka peluang bisnis tanpa modal besar.
Daya tarik utama Shopee affiliate terletak pada modal yang tidak banyak. Mahasiswa tidak perlu menyewa toko ataupun mengurus izin usaha. Cukup memiliki gawai dan koneksi internet. Kondisi ini semakin didukung oleh tingginya pengguna internet di Indonesia.
Pada 2026, pengguna internet diperkirakan telah mencapai sekitar 235 juta jiwa dari total populasi 287 juta penduduk. Penetrasi tertinggi berasal dari generasi muda, yakni milenial dan Gen Z, yang menjadikan internet sebagai kebutuhan sehari-hari. Dengan kata lain, pasar sekaligus pelaku ekonominya berada di ruang digital yang sama.
Selain murah, pekerjaan ini juga memiliki fleksibilitas yang sangat disukai mahasiswa. Tidak ada jadwal shift ataupun kontrak kerja. Konten dapat dibuat di sela waktu kuliah. Tentu tanpa mengganggu proses belajar.
Tren ini selaras dengan berbagai survei preferensi kerja 2026 yang menunjukkan mayoritas Gen Z lebih memilih sistem kerja hybrid maupun remote dibandingkan WFO. Bagi generasi yang terbiasa mengerjakan hampir semua hal lewat layar ponsel, fleksibilitas bukan lagi bonus, melainkan menjadi standar.
Di sisi lain, peluang tersebut juga diperkuat oleh pertumbuhan e-commerce Indonesia. Laporan Google, Temasek, dan Bain & Company dalam e-conomy SEA 2025 memperkirakan nilai ekonomi digital Indonesia hampir menyentuh US$100 miliar, dengan e-commerce tetap menjadi kontributor terbesar.
Video commerce bahkan mencatat bahwa pasar terus tumbuh. Namun, algoritma tidak akan berbaik hati kepada kreator yang malas. Konten harus konsisten, relevan, dan mampu menarik perhatian di tengah banjir promosi yang muncul tiap detik.
Lalu, apakah kuliah kini menjadi sampingan, sementara affiliate berubah menjadi jurusan utama? Tentu tidak sesederhana itu. Komisi tidak turun dari langit hanya karena seseorang rebahan.
Di balik layar, afiliator tetap harus melakukan riset produk, memahami kebutuhan pasar, menyusun caption yang menarik, membaca data penjualan, hingga membangun personal branding. Semua itu merupakan keterampilan yang justru semakin dibutuhkan di era ekonomi digital.
Pada akhirnya, popularitas Shopee affiliate bukan sekadar soal menghasilkan uang dari rumah, melainkan tentang kemampuan beradaptasi dengan perubahan zaman. Rebahan boleh saja, tetapi yang bekerja tetap otak, kreativitas, dan konsistensi.
Jadi, sebelum ikut-ikutan menjadi afiliator karena sedang viral, ada baiknya bertanya kepada diri sendiri: apakah hanya mengejar cuan sesaat, atau sedang membangun keterampilan yang akan tetap bernilai ketika tren berikutnya datang? (*)
*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.

