BACAAJA, SEMARANG- Di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih, muncul fenomena yang cukup menarik di masyarakat. Meski daya beli melemah dan pengeluaran harus lebih dihemat, sebagian orang justru tetap menyisihkan uang untuk membeli barang-barang kecil yang memberi rasa senang, mulai dari kosmetik, pakaian, hingga makanan favorit. Fenomena inilah yang dalam ilmu ekonomi dikenal sebagai lipstick effect.
Wahyu Widodo, Pengamat Ekonomi Dosen FEB Universitas Diponegoro. Menjelaskan bahwa istilah lipstick effect pertama kali mencuat setelah krisis ekonomi yang mengikuti tragedi serangan 11 September 2001 di Amerika Serikat.
Saat itu, masyarakat cenderung mengurangi pembelian barang mahal, tetapi tetap membeli barang-barang yang harganya lebih terjangkau untuk memberikan kepuasan bagi diri sendiri.
“Secara ekonomi, ketika kondisi sedang menurun, masyarakat cenderung membeli hal-hal yang masih terjangkau. Dulu yang banyak dibeli adalah lipstik, sehingga kemudian muncul istilah lipstick effect.
Baca juga: Purbaya Bilang Anggaran MBG akan Dipangkas hingga Kurang dari Rp200 Triliun, Beneran Pak?
Namun dalam praktiknya bukan hanya lipstik, melainkan berbagai barang yang diinginkan konsumen untuk memberikan kepuasan di tengah tekanan ekonomi,” jelas Wahyu. Selasa (7/7/2026).
Ia menegaskan, fenomena tersebut berbeda dengan tren self reward yang marak dilakukan saat kondisi ekonomi normal. Menurutnya, lipstick effect memiliki kaitan erat dengan situasi ekonomi yang sedang tertekan.
“Kalau perekonomian baik-baik saja, itu lebih kepada perilaku konsumsi biasa atau sekadar memberikan kepuasan diri. Lipstick effect muncul ketika ada tekanan ekonomi, daya beli menurun, tetapi masyarakat tetap membeli barang-barang kecil yang dianggap mampu memberikan rasa senang,” katanya.
Wahyu menyebut terdapat tiga faktor utama yang memengaruhi munculnya lipstick effect, yakni tekanan ekonomi, faktor emosional, dan faktor sosial budaya. Ketiganya mendorong konsumen tetap melakukan konsumsi meski lebih selektif dalam memilih barang.
Dampak Positif
Di sisi lain, ia menilai fenomena tersebut justru memberikan dampak positif bagi perekonomian. Meski konsumsi terhadap barang bernilai tinggi menurun, permintaan terhadap produk-produk tertentu tetap tercipta sehingga roda ekonomi terus bergerak.
“Permintaan tetap ada meskipun ekonomi sedang tertekan. Itu baik bagi perekonomian karena permintaan akan mendorong aktivitas ekonomi,” ujarnya.
Namun, Wahyu mengingatkan bahwa dampaknya terhadap individu sangat bergantung pada kemampuan masing-masing dalam mengelola keuangan. Selama pengeluaran masih sesuai anggaran, perilaku tersebut tidak menjadi persoalan.
“Kalau masih bisa memanage anggaran, saya kira tidak masalah. Tetapi kalau sampai memaksakan diri, apalagi harus berutang hanya untuk memenuhi keinginan konsumtif, itu yang berbahaya karena bisa mengganggu kondisi keuangan pribadi,” tegasnya.
Menurutnya, kepuasan tidak selalu harus diperoleh melalui aktivitas belanja. Masih banyak cara lain yang tidak membutuhkan biaya besar, bahkan tanpa mengeluarkan uang sama sekali.
Baca juga: Trans Semarang Masuk Johar, Yakin Bisa Ngeramain Pasar Lagi? Ini Kata Akademisi
“Kalau memang ingin mencari kepuasan, tidak harus selalu dengan belanja. Kalaupun membeli sesuatu, tidak harus mahal. Yang perlu dihindari adalah memaksakan diri sampai mengambil pinjaman dengan bunga tinggi hanya demi memenuhi keinginan sesaat,” katanya.
Menutup pembicaraan, Wahyu mengimbau masyarakat untuk menjadi konsumen yang rasional, terutama di tengah kondisi ekonomi yang penuh tantangan. Menurutnya, setiap orang memiliki kemampuan finansial yang berbeda sehingga keputusan belanja tidak bisa disamaratakan.
“Jadilah konsumen yang rasional. Maksimalkan kepuasan yang ingin dicapai, tetapi tetap sadar bahwa kita memiliki keterbatasan anggaran. Jangan sampai gaya hidup atau keinginan menjaga status sosial membuat pengeluaran melampaui kemampuan,” ucapnya
Di tengah tekanan ekonomi, membeli secangkir kopi, kosmetik, atau barang kecil lain mungkin terlihat sepele. Namun di balik keputusan sederhana itu, tersimpan gambaran tentang cara masyarakat bertahan, mencari kebahagiaan, sekaligus menjaga roda perekonomian tetap berputar. Meski demikian, kepuasan sesaat tetap perlu diimbangi dengan pengelolaan keuangan yang bijak agar tidak berubah menjadi beban di kemudian hari.
Kadang yang menyelamatkan suasana hati memang cuma segelas kopi atau sebatang lipstik. Tapi kalau demi secangkir kebahagiaan harus menggadaikan ketenangan finansial, mungkin yang benar-benar sedang “diskon” bukan barangnya, melainkan logika saat berbelanja. (dul)

