BACAAJA, EROPA – Gelombang panas ekstrem lagi bikin Eropa kelimpungan. Suhu udara melonjak tajam di banyak negara, bahkan sejumlah wilayah mencatat rekor terpanas sepanjang sejarah yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Kondisi ini memicu kekhawatiran besar, bukan cuma soal kesehatan warga, tetapi juga dampaknya terhadap aktivitas ekonomi, infrastruktur, hingga layanan publik yang ikut terganggu.
Organisasi Meteorologi Dunia atau WMO bersama berbagai lembaga terkait kini bergerak cepat mengaktifkan sistem peringatan dini dan langkah antisipasi kesehatan untuk menekan risiko korban jiwa.
Fenomena ini sebenarnya sudah lama diprediksi para ilmuwan. Laporan Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim atau IPCC menyebut cuaca panas ekstrem diperkirakan bakal muncul lebih sering, lebih lama, dan dengan intensitas yang semakin tinggi.
Eropa sendiri kini menyandang status sebagai benua dengan tingkat pemanasan paling cepat di dunia. Kenaikan suhu rata-rata dalam beberapa dekade terakhir terus menunjukkan tren yang mengkhawatirkan.
Kepala Informasi Iklim WMO, John Kennedy, mengatakan kondisi saat ini merupakan gambaran nyata dari perubahan iklim yang sedang berlangsung di berbagai belahan dunia.
Menurutnya, sejak gelombang panas besar yang terjadi pada 1976, suhu rata-rata Eropa telah naik sekitar dua derajat Celsius. Dampaknya, kejadian cuaca ekstrem pun semakin sering muncul.
Korban jiwa akibat cuaca panas mulai bermunculan. Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, mengungkapkan lebih dari 1.300 kematian berlebih tercatat sejak 21 Juni yang berkaitan langsung dengan suhu ekstrem tersebut.
Jumlah warga yang terdampak pun tidak sedikit. WHO memperkirakan lebih dari 150 juta orang di Eropa merasakan langsung efek dari gelombang panas yang menyebar hampir ke seluruh kawasan.
Jerman menjadi salah satu negara yang paling terdampak. Dalam tiga hari berturut-turut, negara itu terus memecahkan rekor suhu tertinggi baru.
Kota Coschen di wilayah timur Jerman mencatat suhu mencapai 41,7 derajat Celsius. Sebanyak 252 stasiun cuaca di negara tersebut juga melaporkan rekor suhu tertinggi sepanjang masa.
Layanan meteorologi Jerman menyebut fenomena ini sebagai peristiwa bersejarah karena puluhan wilayah secara bersamaan mengalami suhu di atas 40 derajat Celsius.
Di Perancis, suhu rata-rata nasional menyentuh angka 30 derajat Celsius pada 24 Juni, menjadikannya hari terpanas dalam sejarah pencatatan negara tersebut.
Kota Pulluau di bagian barat Perancis bahkan mengalami suhu mencapai 43,8 derajat Celsius, mengalahkan rekor-rekor sebelumnya yang tercipta pada 2003 dan 2019.
Spanyol juga tak kalah panas. Sejumlah kota mencatat suhu jauh di atas 40 derajat Celsius sepanjang akhir Juni.
Bilbao menjadi salah satu wilayah dengan lonjakan paling mencolok setelah termometer menunjukkan angka 42,7 derajat Celsius, rekor tertinggi yang pernah tercatat pada bulan Juni di kota itu.
Inggris Raya pun ikut merasakan dampaknya. Selama tiga hari berturut-turut, negara tersebut memecahkan rekor suhu tertinggi untuk bulan Juni.
Wilayah Inggris bagian selatan dilaporkan menyentuh suhu 37,3 derajat Celsius, dan angka itu masih berpotensi mengalami revisi lebih tinggi setelah proses verifikasi data selesai.
Belanda mengambil langkah yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Dinas meteorologi KNMI mengeluarkan Red Alert untuk delapan provinsi sekaligus karena ancaman panas ekstrem.
Negara itu juga mencatat rekor suhu nasional baru pada bulan Juni dengan angka mencapai 39,4 derajat Celsius.
Hungaria tak luput dari gelombang panas ini. Kawasan dekat Budapest mencatat suhu 40,7 derajat Celsius dan diperkirakan masih akan meningkat dalam beberapa hari berikutnya.
Polandia serta Republik Ceko juga melaporkan suhu tertinggi sepanjang sejarah yang menembus lebih dari 40 derajat Celsius.
Austria mencatat suhu 40 derajat Celsius di Wina, sementara status siaga merah tetap diberlakukan untuk ibu kota guna mengantisipasi risiko kesehatan masyarakat.
Di Denmark, rekor lama yang bertahan sejak 1975 akhirnya tumbang setelah dua wilayah berbeda mencatat suhu mencapai 37 derajat Celsius.
Swiss juga mengalami kondisi serupa. Kota Basel mencatat suhu 39 derajat Celsius yang menjadi rekor baru untuk bulan Juni.
Para ahli menyebut panas ekstrem sebagai silent killer atau pembunuh senyap karena dampaknya sering kali tidak langsung terlihat dan kerap kurang mendapat perhatian.
Data global menunjukkan sekitar 489 ribu kematian terkait panas terjadi setiap tahun sepanjang periode 2000 hingga 2019. Angka itu diyakini berpotensi meningkat jika perubahan iklim terus berlangsung tanpa pengendalian yang efektif.
WHO menjelaskan bahwa stres panas terjadi ketika tubuh tidak mampu membuang panas sebanyak yang diterima atau dihasilkan. Dalam situasi tertentu, mekanisme pendinginan alami melalui keringat menjadi tidak efektif.
Yang kini juga menjadi perhatian serius adalah fenomena tropical night atau malam tropis, yaitu kondisi ketika suhu malam tidak pernah turun di bawah 20 derajat Celsius.
Padahal malam hari seharusnya menjadi waktu tubuh untuk beristirahat dan memulihkan diri dari tekanan suhu siang hari. Jika malam tetap panas, tubuh terus bekerja tanpa jeda selama 24 jam penuh.
Kelompok lansia, anak-anak, ibu hamil, pekerja lapangan, hingga penderita penyakit kronis menjadi pihak yang paling rentan. Namun, para ahli mengingatkan bahwa dalam kondisi panas ekstrem berkepanjangan, siapa pun bisa terdampak tanpa terkecuali. (*)

