Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Kampus Swasta Ketar-ketir Tak Dapat Mahasiswa
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Pendidikan

Kampus Swasta Ketar-ketir Tak Dapat Mahasiswa

Sejumlah perguruan tinggi swasta tengah menghadapi situasi yang tidak mudah menjelang tahun ajaran baru.

Nugroho P.
Last updated: Juni 25, 2026 10:00 am
By Nugroho P.
5 Min Read
Share
ilustrasi kampus swasta.
SHARE

BACAAJA, JAKARTA – Sejumlah perguruan tinggi swasta tengah menghadapi situasi yang tidak mudah menjelang tahun ajaran baru. Setelah calon mahasiswa mendaftar bahkan membayar biaya awal, sebagian dari mereka justru memilih pindah ke perguruan tinggi negeri karena lolos seleksi jalur mandiri.

Fenomena ini belakangan ramai dikeluhkan oleh banyak kampus swasta di berbagai daerah. Dampaknya bukan hanya soal berkurangnya jumlah mahasiswa baru, tetapi juga menyangkut keberlangsungan operasional kampus.

Ketua Umum Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (Aptisi), Budi Djatmiko, mengatakan kondisi tersebut kini semakin sering terjadi dan dirasakan langsung oleh anggota organisasinya.

Menurutnya, persoalan itu bukan lagi sekadar kekhawatiran, melainkan sudah menjadi kenyataan yang dihadapi banyak kampus swasta.

Keluhan tersebut mengemuka dalam rapat kerja Aptisi yang digelar beberapa waktu lalu di Bandung. Banyak pengelola kampus menyampaikan keresahan yang sama terkait menurunnya jumlah mahasiswa baru.

Budi menjelaskan, sejumlah wilayah bahkan mencatat penurunan cukup signifikan setelah jalur mandiri perguruan tinggi negeri dibuka lebih luas.

Di beberapa daerah, kampus swasta disebut kehilangan sekitar 30 hingga 40 persen calon mahasiswa yang sebelumnya telah menyatakan minat untuk kuliah di sana.

Mereka yang semula sudah mendaftar dan menjalani proses administrasi di kampus swasta akhirnya memilih hengkang setelah dinyatakan lolos seleksi di perguruan tinggi negeri.

Situasi ini membuat kampus swasta berada dalam posisi sulit karena perencanaan penerimaan mahasiswa menjadi tidak menentu.

Tidak sedikit calon mahasiswa yang sudah membayar uang registrasi awal, lalu mengajukan pengunduran diri ketika mendapat kursi di kampus negeri.

Menurut Aptisi, kondisi tersebut diperparah oleh jadwal penerimaan jalur mandiri yang sering berlangsung hingga mendekati masa perkuliahan dimulai.

Akibatnya, kampus swasta kesulitan memastikan jumlah mahasiswa yang benar-benar akan melakukan daftar ulang.

Budi juga menyoroti kebijakan kuota jalur mandiri di sejumlah perguruan tinggi negeri berbadan hukum yang dinilai semakin besar dari tahun ke tahun.

Menurutnya, kapasitas penerimaan yang luas membuat persaingan antara kampus negeri dan swasta menjadi semakin tidak seimbang.

Di sisi lain, kondisi ekonomi masyarakat yang belum sepenuhnya pulih juga ikut memengaruhi pilihan calon mahasiswa.

Banyak keluarga lebih memilih perguruan tinggi negeri yang dianggap memiliki daya tarik lebih besar dari sisi reputasi maupun peluang kerja.

Kondisi tersebut membuat kampus swasta harus bekerja lebih keras untuk mempertahankan jumlah mahasiswa baru.

Padahal, selama lebih dari satu dekade terakhir, tren jumlah mahasiswa baru di sejumlah kampus swasta disebut terus mengalami tekanan.

Selain persoalan jalur mandiri, munculnya berbagai program studi baru di kampus negeri juga dinilai menambah tantangan bagi perguruan tinggi swasta.

Program-program baru itu kerap menyasar bidang yang selama ini menjadi andalan kampus swasta dalam menarik mahasiswa.

Akibatnya, pangsa pasar yang sebelumnya menjadi ruang tumbuh bagi kampus swasta semakin menyempit.

Menurut Aptisi, dampak yang muncul tidak hanya dirasakan oleh kampus besar, tetapi juga perguruan tinggi kecil dan menengah di daerah.

Banyak kampus swasta menggantungkan biaya operasional dari uang kuliah dan kontribusi mahasiswa baru.

Dana tersebut digunakan untuk membayar gaji dosen, tenaga kependidikan, pemeliharaan gedung, hingga pengembangan fasilitas kampus.

Ketika jumlah mahasiswa turun drastis, kondisi keuangan kampus otomatis ikut terganggu.

Beberapa perguruan tinggi bahkan harus melakukan berbagai langkah penyelamatan agar tetap bisa beroperasi.

Ada yang memilih bergabung dengan institusi lain melalui proses merger demi mempertahankan keberlangsungan pendidikan.

Sebagian kampus juga terpaksa mengurangi aktivitas akademik tertentu karena keterbatasan anggaran.

Dalam kasus yang lebih berat, ada perguruan tinggi yang akhirnya menghentikan operasional karena tidak mampu memenuhi kebutuhan minimum untuk berjalan.

Aptisi menilai persoalan ini perlu mendapat perhatian serius karena menyangkut keseimbangan ekosistem pendidikan tinggi nasional.

Jika tren tersebut terus berlanjut tanpa solusi yang jelas, kampus swasta dikhawatirkan semakin kesulitan bersaing di tengah dominasi perguruan tinggi negeri.

Padahal, selama ini perguruan tinggi swasta memiliki peran besar dalam memperluas akses pendidikan tinggi di berbagai daerah.

Karena itu, berbagai pihak berharap ada langkah yang dapat menciptakan iklim persaingan yang lebih sehat agar kampus swasta tetap memiliki ruang untuk tumbuh dan bertahan di masa depan. (*)

You Might Also Like

Tak Ada Pejabat Temui Massa Aksi, PMII Semarang: Mengecewakan! Kami Datang Bawa Kajian

Mahasiswa UGM Rancang Rompi Cerdas Pemetaan Kanker Payudara

Robot Detektor Gas ala Siswa SMP Muhammadiyah 1 Gombong, Inovasi Super Keren Demi Keselamatan

Ratusan Dosen Digembleng Jadi Agen Pancasila

Bocah Boyolali Bikin NASA Kasih Salut

TAGGED:kampus swastakekurangan mahasiswamahasiswa
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Beasiswa Jalan Terus, Tapi Siswa Perokok Kena Sorotan KDM
Next Article Jelang Pembukaan Seleksi CASN 2026, Pemprov: Jangan Percaya Calo Berkedok Orang Dalam

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Nrimo Ing Pandum, Jalan Jawa Menuju Hati Tenang

Wayang Jadi Jurus Dakwah Sunan Kalijaga

Warga Takut Kasus Geotermal Dieng Terulang di Gunung Ungaran

CEK KESEHATAN RUTIN - PLN Icon Plus SBU Regional Jawa Bagian Tengah mendorong seluruh personel untuk mengenali kondisi tubuh melalui pelaksanaan Daily Health Checking. Pemeriksaan rutin kesehatan ini dilakukan bagi personel sebelum memulai aktivitas kerja.

PLN Icon Plus Dorong Penerapan Budaya HSSE melalui Daily Health Checking

AKSI DI GUBERNURAN--Warga yang melakukan aksi jalan kaki dari Gedong Songo membaur dengan massa aksi Jateng Guyub di depan Gubernuran, Semarang, Kamis (24/9/2026). (bae)

Jalan Kaki dari Gedong Songo, Warga Suarakan Penolakan Geotermal di Gubernuran

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Pendidikan

Pergeseran Arah Anggaran Pendidikan 2026: Alokasi Daerah Dipangkas, MBG Digas Pol

Januari 24, 2026
Pendidikan

Siswa SMAN 1 Salatiga Diajak Bongkar Mitos Vape

Juni 4, 2026
Pendidikan

Rahasia di Balik Mandi Wajib, Bukan Cuma Soal Suci, Tapi Begini

September 17, 2025
Advokat Peradi SAI Kota Semarang, Evarisan saat diskusi dalam program Titik Kumpul 2 SKS hasil kerja sama Peradi SAI dan media BacaAja, Rabu (8/4/2026). (bae)
Pendidikan

Advokat Peradi SAI Semarang Sorot Pasal Karet: Mudah Digunakan Jerat Demonstran

April 9, 2026

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Kampus Swasta Ketar-ketir Tak Dapat Mahasiswa
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?