Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: ARPI Sorot Status Karyawan SPPG: Itu Masuk Kategori Pekerja, Kenapa Disebut Relawan?
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Info

ARPI Sorot Status Karyawan SPPG: Itu Masuk Kategori Pekerja, Kenapa Disebut Relawan?

Penggunaan istilah relawan untuk karyawan SPPG justru berpotensi membuat posisi para pekerja menjadi tidak jelas.

R. Izra
Last updated: Juni 25, 2026 7:33 am
By R. Izra
5 Min Read
Share
SAMPAIKAN KETERANGAN - Koordinator ARPI, Dani Eko Wiyono. memberi keterangan kepada wartawan, Rabu (24/6/2026).
SAMPAIKAN KETERANGAN - Koordinator ARPI, Dani Eko Wiyono. memberi keterangan kepada wartawan, Rabu (24/6/2026).
SHARE

BACAAJA, SEMARANG – Di tengah berbagai persoalan ekonomi yang dihadapi masyarakat, mulai dari naiknya harga kebutuhan pokok hingga ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK), kalangan buruh meminta pemerintah lebih serius mendengar suara pekerja. Salah satu yang menjadi perhatian adalah nasib para pekerja di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang hingga kini masih disebut sebagai relawan.

Koordinator Aliansi Rakyat Peduli Indonesia (ARPI), Dani Eko Wiyono, mengatakan kondisi buruh saat ini tidak sedang baik-baik saja. Kenaikan upah yang diterima pekerja dinilai belum mampu mengejar laju kenaikan biaya hidup yang terus terjadi dalam beberapa tahun terakhir.

Menurutnya, setiap kenaikan harga energi maupun kebijakan ekonomi lainnya selalu berdampak berantai. Tidak hanya pada biaya transportasi, tetapi juga harga sembako dan kebutuhan sehari-hari yang harus ditanggung masyarakat.

Bacaaja: Siapa yang Lapar? Pengusaha SPPG Protes MBG Dihentikan saat Libur Sekolah
Bacaaja: PMII Semarang Kembali Turun Jalan Sorot MBG: Harus Transparan, Bisa Diawasi Rakyat

“Yang paling merasakan dampaknya ya buruh dan rakyat kecil. Penghasilan naik sedikit, tapi kebutuhan hidup naik jauh lebih cepat,” kata Dani. Rabu (24/6/2026).

Kondisi tersebut, lanjutnya, juga berpotensi memicu bertambahnya angka PHK. Saat biaya operasional perusahaan meningkat, pekerja sering kali menjadi pihak yang pertama terkena dampak efisiensi.

“Kalau perusahaan menanggung biaya yang makin besar, biasanya yang paling mudah dikurangi adalah tenaga kerjanya. Itu yang kami khawatirkan,” ujarnya.

Selain persoalan ekonomi, Dani turut menyoroti pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang saat ini menjadi salah satu program prioritas pemerintah. Ia menegaskan pihaknya tidak menolak program tersebut karena pada dasarnya memiliki tujuan yang baik untuk meningkatkan kualitas gizi masyarakat.

Namun, ia mengingatkan agar pelaksanaannya dilakukan secara transparan dan tidak menimbulkan persoalan baru di lapangan.

“Kami mendukung program pemerintah selama memang bermanfaat untuk rakyat dan bisa dipertanggungjawabkan. Jangan sampai tujuan programnya baik, tetapi pelaksanaannya justru menimbulkan masalah,” katanya.

Salah satu persoalan yang disoroti ARPI adalah status para pekerja di SPPG yang selama ini disebut sebagai relawan. Menurut Dani, istilah tersebut perlu dikaji ulang karena para pekerja tetap menjalankan pekerjaan rutin dan menerima bayaran atas pekerjaan yang mereka lakukan.

“Kalau ada orang menerima pekerjaan, menerima perintah, lalu menerima upah, menurut Undang-Undang Ketenagakerjaan itu masuk kategori pekerja. Jadi kami mempertanyakan kenapa masih disebut relawan,” ujarnya.

Ia menilai penggunaan istilah relawan justru berpotensi membuat posisi para pekerja menjadi tidak jelas. Padahal mereka bekerja setiap hari untuk memastikan proses produksi dan distribusi makanan dalam program MBG berjalan lancar.

Dani juga menyoroti belum jelasnya pihak yang bertanggung jawab atas hubungan kerja para pekerja tersebut. Hingga kini, menurutnya, masih belum ada kepastian apakah tanggung jawab itu berada di tangan Badan Gizi Nasional (BGN), yayasan pengelola, atau pihak lainnya.

“Kalau suatu saat terjadi masalah, siapa yang bertanggung jawab? Siapa yang memberikan kontrak kerja mereka? Ini yang sampai sekarang belum jelas,” katanya.

Menurut Dani, kejelasan status kerja menjadi penting karena para pekerja SPPG menjalankan aktivitas yang memiliki risiko. Mereka bekerja dalam waktu yang panjang, bahkan sebagian harus mulai bekerja sejak malam hingga menjelang pagi untuk menyiapkan makanan.

Dalam kondisi seperti itu, risiko kecelakaan kerja, kebakaran, maupun gangguan kesehatan tetap ada. Karena itu, pekerja harus mendapatkan perlindungan yang memadai, termasuk jaminan keselamatan kerja.

“Jangan sampai program yang dibuat untuk menyejahterakan rakyat malah membuat pekerjanya tidak terlindungi. Kalau terjadi kecelakaan kerja atau risiko lainnya, harus jelas siapa yang bertanggung jawab,” tegasnya.

ARPI berharap pemerintah segera memberikan kepastian terkait status para pekerja SPPG sekaligus memastikan hak-hak mereka terpenuhi. Bagi Dani, keberhasilan Program Makan Bergizi Gratis tidak hanya diukur dari jumlah penerima manfaat, tetapi juga dari sejauh mana negara hadir melindungi orang-orang yang bekerja di balik program tersebut.

“Yang kami minta sederhana, pekerja harus mendapat kejelasan dan perlindungan. Karena mereka juga bagian penting dari keberhasilan program ini,” pungkasnya. (dul)

You Might Also Like

Dari Komisi Polisi ke Komisi Diplomasi, Sahroni Resmi Geser Jalur

Vonis Tipis Kasus MHS Bikin Pertanyaan Keadilan Makin Nyaring

Keracunan MBG di Garut Pecahkan Rekor, 657 Siswa Jadi Korban

Jalan Prof Hamka-Ngaliyan Sudah Mulus, tapi Warga Masih Khawatir Soal Silayur

Perbaikan Jalan Kaligawe Semarang Dikebut

TAGGED:arpikaryawanMBGpekerjarelawansppg
Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Pemkot Gaspol Bangun Ketahanan Pangan
Next Article UMKM - Ilustrasi pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Saleh Dorong Kredit Murah untuk UMKM, Bank Jateng Diminta Perluas Pembiayaan

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Kemarau Baru Mulai, BPBD Jateng Sudah Kucurkan 654 Ribu Liter Air Bersih

PDIP Balik Serang Isu BEM UBK Terima Uang

LATIHAN MILITER - Sejumlah calon pengelola Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) dan calon pengelola Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) yang akan mengikuti Latihan Dasar Kemiliteran (Latsarmil) Komponen Cadangan (Komcad). (DOK. Setjen Infohan Kemhan)

Tiga Calon Manajer KDMP Meninggal saat Latihan Dasar Militer, DPR: Evaluasi Total!

Bidan Janjikan Kursi BUMN, Uang Puluhan Juta Malah Melayang

Kemarau Baru Mulai, Delapan Daerah Jateng Sudah Siaga Kekeringan

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Daerah

Semarang Ngebut Mau Bebas TBC 2028, Layanan Kesehatan Canggih Udah Nongol di Puskesmas

September 4, 2025
3 pengendara motor yang melintas di turunan gombel. Kamis (26/3/2026). (dul)
Info

Turunan Gombel Lama Ditutup April-November, Jalan Bakal Diperbaiki Total

Maret 27, 2026
Sepak Bola

Piala Dunia Antarklub 2025 Dimulai, Inter Miami Diimbangi Al Ahly

Juni 15, 2025
Ilustrasi perbandingan karyawan SPPG dan guru honorer.
Info

Pendidikan Kalah Sama Makan Siang? Guru Honorer Curhat Sulitnya jadi PPPK saat SPPG Diprioritaskan

Januari 23, 2026

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: ARPI Sorot Status Karyawan SPPG: Itu Masuk Kategori Pekerja, Kenapa Disebut Relawan?
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?