BACAAJA, PATI – Warga Desa Kajen, Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati masih menjaga tradisi Jeguran Blumbang yang digelar setiap malam 1 Suro. Tradisi mandi bersama di kolam tua sebelah barat makam Syekh Ahmad Mutamakkin itu tetap bertahan di tengah perubahan zaman.
Sejak sore, kawasan blumbang mulai ramai dipadati warga dan peziarah. Anak-anak, remaja, hingga orang dewasa datang untuk mengikuti ritual sekaligus menikmati suasana malam 1 Suro yang sudah menjadi tradisi tahunan.
Bagi masyarakat Kajen, jeguran bukan sekadar mandi di kolam. Ritual ini dipercaya sebagai simbol membersihkan raga dan jiwa sebelum memasuki tahun baru Islam.
Bacaaja: Semangkuk Jenang dan Cerita Lama Ramaikan Suro Triwindu
Bacaaja: Trek Menantang, Ini Alasan Jalur Baru ke Puncak Suroloyo via Nyatnyono Jadi Favorit Pendaki
Perangkat Desa Kajen, Abdul Karim, mengatakan tradisi tersebut sudah diwariskan sejak zaman nenek moyang. Menurutnya, warga laki-laki biasanya melakukan jeguran di blumbang, sedangkan perempuan cukup mandi di rumah lalu melanjutkan salat dan wiridan.
“Bagi masyarakat Kajen, menyambut Malam 1 Suro terasa kurang afdhal tanpa melakukan jeguran, khususnya bagi kaum laki-laki,” tutur Abdul Karim.
Tradisi ini juga diiringi keyakinan bahwa air blumbang membawa karomah. Banyak orang datang dengan harapan memperoleh kesehatan dan keberkahan.
“Ada keyakinan bahwa mandi di sini dapat menghilangkan penyakit, membuat awet muda, dan mendatangkan keberkahan,” ujarnya.
Abdul Karim mengaku sering melihat cerita unik dari para pengunjung. Salah satunya ada peziarah yang datang hanya membawa botol kosong untuk mengambil air blumbang sebagai ikhtiar kesembuhan.
Sebelum malam puncak dimulai, warga sekitar sudah bergotong royong menguras kolam cagar budaya tersebut. Para pemuda bersama warga setempat membersihkan kolam dengan alat penyedot air sebelum diisi kembali menggunakan air dari sumur bor.
Seluruh kegiatan itu didukung pemerintah desa. Semangat gotong royong menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari tradisi yang sudah berlangsung turun-temurun.
Abdul Karim mengakui kondisi blumbang kini tidak sama seperti dulu. Sumber air yang dulu muncul dari beberapa titik kini sudah tidak lagi terbuka.
Meski begitu, ia berharap generasi muda tetap menjaga warisan tersebut agar tidak hilang ditelan zaman.
“Kita mengenal para leluhur lewat peninggalan-peninggalan yang ada saat ini. Sejarah tidak boleh dan tidak akan pernah bisa dihilangkan,” pungkas Abdul Karim. (fira/bae)

