BACAAAJA, SEMARANG – Sidang kasus pencucian uang korupsi lahan BUMD Cilacap mendadak membahas “perang jenderal”.
Bukan dari jaksa atau terdakwa, melainkan dari Novita Permatasari, istri mantan Pangdam IV/Diponegoro Letjen TNI Widi Prasetijono yang hadir sebagai saksi di Pengadilan Tipikor Semarang, Senin (15/6/2026).
Di depan majelis hakim, Novita terang-terangan menyebut perkara yang menjerat suaminya tak lepas dari persaingan para petinggi TNI yang sama-sama mengincar kursi Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD).
Bacaaja: Jenderal TNI Eks-Ajudan Jokowi Ditahan, Skandal Mega Korupsi BUMD Cilacap
Bacaaja: Ngeri! Istri Eks-Pangdam Widi Ungkap Aliran Duit Korupsi Rp18,5 M Buat Kampanye Prabowo
Pengakuan itu muncul saat kuasa hukum Gus Yazid, Zainal Petir, menanyakan apakah benar ada “perang bintang” di balik munculnya kasus ini.
“Iya benar,” jawab Novita.
Novita lalu menyebut tiga nama jenderal yang disebut berada dalam pusaran persaingan tersebut.
Mereka adalah suaminya, Letjen TNI Widi Prasetijono, Jenderal TNI Tandyo Budi yang kini menjabat Wakil Panglima TNI, serta Letjen TNI Deddy Suryadi yang saat ini menjadi Pangdam Jaya.
“Letjen Widi, Jenderal Tandyo Budi, dan Letjen Deddy,” bebernya.
Ketiganya sama-sama mantan Pangdam Diponegoro. Bahkan, dua di antaranya dulunya dikenal delat dengan keluarga Jokowi.
“Suami saya dulu ajudan Pak Jokowi, kalau Pak Deddy ajudan istri Jokowi,” ujarnya.
Terdakwa Ahmad Yazid Basyaiban alias Gus Yazid juga ikut menanggapi kesaksian itu. Menurut dia, isu persaingan para jenderal tersebut memang sudah lama ia dengar.
Kasus yang kini disidangkan merupakan pengembangan dari dugaan korupsi pengadaan lahan sekitar 700 hektare di kawasan Carui, Kabupaten Cilacap.
Lahan tersebut dibeli PT Cilacap Segara Artha (BUMD Pemkab Cilacap) dari PT Rumpun Sari Antan senilai sekitar Rp237 miliar dan belakangan dipersoalkan karena dugaan kerugian negara serta sengketa penguasaan lahan. (bae)

