BACAAJA, SEMARANG – Siapa bilang Semarang sepi dari aktivitas literasi? Anggapan bahwa Kota Atlas adalah “kuburan seni” atau kurang ramah bagi kegiatan kreatif tampaknya perlu dipikir ulang. Lebih dari 500 orang berkumpul di Gramedia Jalma Semarang untuk mengikuti kegiatan Baca Senyap dalam rangka perayaan ulang tahun ke-30 Penerbit Kepustakaan Populer Gramedia (KPG), Sabtu (13/6/2026).
Acara yang digelar di Gramedia Jalma Semarang, yang sebelumnya dikenal sebagai Gramedia Pandanaran, menjadi salah satu bukti bahwa minat membaca di Semarang ternyata masih hidup dan terus bertumbuh. Tak tanggung-tanggung, kegiatan ini didukung lebih dari 30 komunitas literasi dari Semarang dan berbagai kota di sekitarnya.
Mengusung tema “Belajar Membaca, Belajar Bernalar”, rangkaian perayaan HUT ke-30 KPG berlangsung selama tiga hari.
Bacaaja: Gramedia Jalma Semarang: Toko Buku Kayak Tempat Healing, Ada Playground dan Kafe
Bacaaja: Mahasiswa Internasional Ikut Nongkrong di Perpustakaan Desa Campuranom
Pembukaannya dilakukan melalui kegiatan Baca Senyap yang kini semakin populer di berbagai kota Indonesia. Ratusan peserta yang telah mendaftar akan membaca buku pilihan mereka masing-masing di berbagai sudut Gramedia Jalma yang kini didesain lebih nyaman sebagai ruang berkumpul para pecinta buku.
Tradisi Baca Senyap sendiri sudah menjadi bagian dari perayaan ulang tahun KPG sejak tahun lalu. Saat pertama kali digelar di Gramedia Jalma Melawai, Jakarta, kegiatan tersebut berhasil menarik sekitar 300 peserta.
Gerakan ini terinspirasi dari konsep Silent Book Club yang berkembang di Amerika Serikat dan kemudian dipopulerkan di Indonesia oleh Duta Baca Jakarta 2023, Hestia Istiviani.
Kegiatan literasi khusus anak-anak
Tak hanya menyasar pembaca dewasa, KPG juga menyiapkan kegiatan khusus untuk anak-anak. Lewat program bertajuk “Pecahkan Kasus Misteri: Penghuni Rumah Kosong”, peserta akan diajak masuk ke dunia detektif melalui perpaduan antara mendongeng dan permainan interaktif.
Cerita yang diangkat berasal dari karya Benny Rhamdani dalam buku Kumpulan Cerita Misteri BOBO. Kisah tersebut akan dibawakan oleh pendongeng muda Salsabilla Nadifa Setiawan sebelum peserta diajak memecahkan berbagai teka-teki bersama komunitas Detectives.id. Acara ini juga akan dipandu oleh Duta Baca Semarang 2024, Aisha Rheavashti Alulazaki.
Editor Kiddo KPG, Pradikha Bestari, mengatakan kegiatan tersebut diharapkan bisa menjadi ruang nostalgia bagi para orang tua yang tumbuh bersama majalah BOBO sekaligus mempererat hubungan mereka dengan anak-anak.
“Keseruan masa kecil orang tua bisa dibagikan ke anak. Harapannya hubungan keluarga juga jadi lebih dekat,” ujarnya.
Rangkaian perayaan berlanjut pada Senin (15/6/2026) melalui diskusi buku bertajuk “Hidup di Tanah Rawan Bencana Iklim”. Diskusi ini mengangkat isu perubahan iklim yang semakin relevan bagi Semarang sebagai kota pesisir yang menghadapi berbagai tantangan lingkungan.
KPG menggandeng Institute for Essential Services Reform (IESR) dan menghadirkan sejumlah narasumber seperti Falasifah dari ALBITEC, Immakulata Soraya dari IESR, serta Andya Primanda, editor buku Kitab Iklim.
Buku tersebut merupakan karya yang menghimpun pemikiran lebih dari seratus ilmuwan, aktivis, dan pakar dunia mengenai krisis iklim serta langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk mengatasinya.
Selain berbagai kegiatan literasi, pengunjung juga bisa menikmati promo spesial selama perayaan berlangsung. Setiap pembelian buku KPG minimal Rp250 ribu berhak mendapatkan satu buku gratis melalui program Blind Date with Book, yakni memilih buku misterius berdasarkan petunjuk kecocokan yang tersedia.
Tak hanya itu, pembeli juga mendapatkan potongan harga hingga 25 persen ditambah diskon 5 persen bagi pengguna aplikasi MyValue.
Puluhan komunitas literasi terlibat
Kesuksesan perayaan HUT ke-30 KPG di Semarang tak lepas dari dukungan berbagai komunitas literasi. Mulai dari Klub Buku Semarang, Semarang Book Party, Grobak Hysteria, Semarang Baca, Kampung Dongeng Semarang, Kongsi Baca, Klub Buku Santai, hingga komunitas dari Solo, Boyolali, Pati, Purwokerto, Banyumas, dan berbagai kota lainnya turut ambil bagian.
Manager Produksi dan Redaksi KPG, Christina M. Udiani, menilai antusiasme tersebut menjadi bukti bahwa ekosistem literasi di Semarang masih sangat hidup.
“Dukungan komunitas dan warga Semarang menunjukkan bahwa budaya membaca masih tumbuh. Semoga ini menjadi amunisi untuk menjaga kewarasan nalar dan keberanian mengambil sikap,” katanya.
Memasuki usia ke-30 tahun, KPG berharap semakin banyak masyarakat yang menjadikan membaca bukan sekadar hobi, melainkan bagian dari kehidupan sehari-hari untuk belajar, berpikir kritis, dan memahami dunia dengan lebih baik. (*)

