Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
  • Info
    • Ekonomi
      • Sirkular
    • Hukum
    • Olahraga
      • Sepak Bola
    • Pendidikan
    • Politik
      • Daerah
      • Nasional
  • Unik
    • Kerjo Aneh-aneh
    • Lakon Lokal
    • Tips
    • Viral
    • Plesir
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
Reading: Sisi Gelap Logika Efisiensi
Baca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.coBaca yang penting, yang penting baca - Bacaaja.co
Follow US
  • Info
  • Unik
  • Opini
  • Tumbuh
  • Fokus
© 2025 Bacaaja.co
Opini

Sisi Gelap Logika Efisiensi

Redaktur Opini
Last updated: Mei 25, 2026 9:57 am
By Redaktur Opini
4 Min Read
Share
SHARE

Dirman adalah Sarjana Pertanian Universitas Hasanuddin dengan minat kajian di bidang ekonomi, ekologi, dan sosiologi.

Ukuran keberhasilan industri seharusnya tidak hanya dilihat dari besarnya produksi dan keuntungan ekonomi, tetapi juga dari bagaimana biaya sosial dan ekologis diperlakukan.

 

Dalam banyak kasus, harga sebuah produk sering dianggap mencerminkan seluruh biaya yang dibutuhkan untuk memproduksinya. Semakin murah harga yang ditawarkan, semakin efisien pula proses produksinya. Setidaknya, begitu logika pasar bekerja.

Namun pertanyaannya, apakah harga benar-benar mencerminkan seluruh biaya yang sesungguhnya?

Pada industri ekstraktif seperti tambang dan quarry, jawabannya sering kali tidak sesederhana itu. Banyak biaya sosial dan ekologis justru tidak masuk ke dalam harga produksi utama. Perusahaan menghitung biaya alat, energi, tenaga kerja, dan logistik secara rinci.

Namun biaya debu yang mengganggu kesehatan warga, kerusakan tata air, meningkatnya risiko banjir, hingga penurunan kualitas lingkungan sekitar sering tidak benar-benar dihitung sebagai bagian dari ongkos produksi.

Fenomena serupa juga terlihat pada industri fast fashion yang mampu menjual pakaian murah karena ditopang upah tenaga kerja rendah dan biaya lingkungan yang ditekan seminimal mungkin. Kasus runtuhnya Rana Plaza di Bangladesh pada 2013 yang menewaskan lebih dari 1.100 pekerja menunjukkan bagaimana efisiensi produksi sering dibayar mahal oleh buruh.

Di saat yang sama, berbagai kawasan industri tekstil di negara berkembang juga menghadapi pencemaran sungai akibat limbah pewarna dan buruknya pengelolaan limbah industri. Konsumen menikmati pakaian murah, tetapi sebagian biaya produksinya dibayar melalui keselamatan buruh dan kualitas lingkungan yang menurun.

Dalam teori ekonomi, kondisi ini dikenal sebagai eksternalitas, yaitu ketika aktivitas ekonomi menghasilkan dampak yang ditanggung pihak lain di luar pelaku utama. Akibatnya, harga produk terlihat lebih murah dibanding biaya sosial yang sebenarnya.

Kalau boleh sedikit satir, ada industri yang tampak sangat efisien karena sebagian pengeluarannya “dicicil” oleh lingkungan dan masyarakat sekitar.

Laporan United Nations Environment Programme menunjukkan bahwa degradasi lingkungan akibat aktivitas ekonomi terus meningkatkan kerentanan sosial dan tekanan terhadap kualitas hidup masyarakat.

Sementara itu, World Bank mencatat bahwa pencemaran dan kerusakan lingkungan memicu kerugian ekonomi besar melalui meningkatnya biaya kesehatan, hilangnya produktivitas, dan rusaknya sumber daya alam.

Ironisnya, proyek yang sebenarnya mahal bagi lingkungan justru tampak murah dalam laporan investasi karena sebagian bebannya dipindahkan ke publik. Dampaknya efisiensi sering berubah menjadi ilusi statistik.

Angka produksi terlihat meningkat, tetapi masyarakat sekitar mulai mengeluarkan biaya lebih besar untuk kesehatan, air bersih, atau menghadapi risiko lingkungan yang sebelumnya tidak ada.

Karena itu, ukuran keberhasilan industri seharusnya tidak hanya dilihat dari besarnya produksi dan keuntungan ekonomi, tetapi juga dari bagaimana biaya sosial dan ekologis diperlakukan.

Pengendalian debu, perlindungan sumber air, rehabilitasi lingkungan, hingga perlindungan kesehatan masyarakat semestinya diposisikan sebagai bagian dari biaya produksi, bukan sekadar tambahan sukarela atau program CSR seremonial.

Produk yang terlihat murah belum tentu benar-benar murah. Bisa jadi, sebagian tagihannya hanya dipindahkan ke masyarakat dan lingkungan sekitar. Dan jika sebuah industri hanya tampak efisien setelah biaya sosial-ekologisnya disembunyikan, mungkin yang selama ini disebut harga pasar hanyalah angka yang belum selesai menghitung kenyataan.(*)

 

*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.

You Might Also Like

Ketika Disiplin Diabaikan, Wajar Bila Tragedi Berulang di Perlintasan Kereta

Bisakah Kita Bertahan Lebih Lama Ketika Dunia Sudah Semakin Kacau?

Bagimana Krisis Iklim Mengganggu Hubungan Keluarga

Mardiono vs Agus Suparmanto, Drama Faksi PPP yang Tak Pernah Usai

Karang Gigi Merusak Senyum Kamu? Jangan Nekat Bersihin Sendiri

Share This Article
Facebook Whatsapp Whatsapp
Previous Article Denok Kenang 2026: Bukan Soal Cantik dan Ganteng, Tapi Siapa yang Bisa “Jual” Semarang
Next Article JUARA TURNAMEN--Tim Blakutak menunjukkan sertifikat juara turnamen Free Fire Clash Squad 4v4 di Openaire Resto Semarang. (ist) Blakutak Juara! Menangkan Persaingan Sengit Turnamen FF di Openaire Semarang

Ikuti Kami

FacebookLike
InstagramFollow
TiktokFollow

Must Read

Mata Sembap Habis Nangis? Lima Trik Ini Bikin Fresh Lagi

Bupati Sukoharjo Etik Suryani.

Bupati Sukoharjo Kejar Setoran! Diduga Peras Perangkat Daerah

Ilustrasi petugas Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) saat melakukan Operasi Tangkap Tangan (OTT).

Bupati Sukoharjo Terjaring OTT KPK, Diperiksa Semalam Suntuk di Mapolresta Solo

Rambut Tetap Fresh Meski Berhijab, Ini Trik Simpel Biar Gak Apek

Nama Tatar Sunda Ramai Dibahas, DPR Ingatkan Kerja Nyata Tetap Prioritas

- Advertisement -
Ad image

You Might Also Like

Tangkapan layar channel YouTube Ganjar Pranowo.
Opini

Siswa SD di Ngada Bundir, Ganjar: Ini Bukan Tragedi Personal, tapi Jeritan Sunyi Generasi

Februari 12, 2026
Opini

Indah Bisa Saja Mendatangkan Musibah

April 8, 2026
Ilustrasi pemain ebeg saat kesurupan.
Opini

Pengalaman Kesurupan Pemain Ebeg Banyumasan

April 28, 2026
Opini

Belajar dari Venezuela: Melawan Politik Energi Asimetris

Januari 15, 2026

Diterbitkan oleh PT JIWA KREASI INDONESIA

  • Kode Etik Jurnalis
  • Redaksi
  • Syarat Penggunaan (Term of Use)
  • Tentang Kami
  • Kaidah Mengirim Esai dan Opini
Reading: Sisi Gelap Logika Efisiensi
© Bacaaja.co 2026
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?