Dirman adalah Sarjana Pertanian Universitas Hasanuddin dengan minat kajian di bidang ekonomi, ekologi, dan sosiologi.
Ukuran keberhasilan industri seharusnya tidak hanya dilihat dari besarnya produksi dan keuntungan ekonomi, tetapi juga dari bagaimana biaya sosial dan ekologis diperlakukan.
Dalam banyak kasus, harga sebuah produk sering dianggap mencerminkan seluruh biaya yang dibutuhkan untuk memproduksinya. Semakin murah harga yang ditawarkan, semakin efisien pula proses produksinya. Setidaknya, begitu logika pasar bekerja.
Namun pertanyaannya, apakah harga benar-benar mencerminkan seluruh biaya yang sesungguhnya?
Pada industri ekstraktif seperti tambang dan quarry, jawabannya sering kali tidak sesederhana itu. Banyak biaya sosial dan ekologis justru tidak masuk ke dalam harga produksi utama. Perusahaan menghitung biaya alat, energi, tenaga kerja, dan logistik secara rinci.
Namun biaya debu yang mengganggu kesehatan warga, kerusakan tata air, meningkatnya risiko banjir, hingga penurunan kualitas lingkungan sekitar sering tidak benar-benar dihitung sebagai bagian dari ongkos produksi.
Fenomena serupa juga terlihat pada industri fast fashion yang mampu menjual pakaian murah karena ditopang upah tenaga kerja rendah dan biaya lingkungan yang ditekan seminimal mungkin. Kasus runtuhnya Rana Plaza di Bangladesh pada 2013 yang menewaskan lebih dari 1.100 pekerja menunjukkan bagaimana efisiensi produksi sering dibayar mahal oleh buruh.
Di saat yang sama, berbagai kawasan industri tekstil di negara berkembang juga menghadapi pencemaran sungai akibat limbah pewarna dan buruknya pengelolaan limbah industri. Konsumen menikmati pakaian murah, tetapi sebagian biaya produksinya dibayar melalui keselamatan buruh dan kualitas lingkungan yang menurun.
Dalam teori ekonomi, kondisi ini dikenal sebagai eksternalitas, yaitu ketika aktivitas ekonomi menghasilkan dampak yang ditanggung pihak lain di luar pelaku utama. Akibatnya, harga produk terlihat lebih murah dibanding biaya sosial yang sebenarnya.
Kalau boleh sedikit satir, ada industri yang tampak sangat efisien karena sebagian pengeluarannya “dicicil” oleh lingkungan dan masyarakat sekitar.
Laporan United Nations Environment Programme menunjukkan bahwa degradasi lingkungan akibat aktivitas ekonomi terus meningkatkan kerentanan sosial dan tekanan terhadap kualitas hidup masyarakat.
Sementara itu, World Bank mencatat bahwa pencemaran dan kerusakan lingkungan memicu kerugian ekonomi besar melalui meningkatnya biaya kesehatan, hilangnya produktivitas, dan rusaknya sumber daya alam.
Ironisnya, proyek yang sebenarnya mahal bagi lingkungan justru tampak murah dalam laporan investasi karena sebagian bebannya dipindahkan ke publik. Dampaknya efisiensi sering berubah menjadi ilusi statistik.
Angka produksi terlihat meningkat, tetapi masyarakat sekitar mulai mengeluarkan biaya lebih besar untuk kesehatan, air bersih, atau menghadapi risiko lingkungan yang sebelumnya tidak ada.
Karena itu, ukuran keberhasilan industri seharusnya tidak hanya dilihat dari besarnya produksi dan keuntungan ekonomi, tetapi juga dari bagaimana biaya sosial dan ekologis diperlakukan.
Pengendalian debu, perlindungan sumber air, rehabilitasi lingkungan, hingga perlindungan kesehatan masyarakat semestinya diposisikan sebagai bagian dari biaya produksi, bukan sekadar tambahan sukarela atau program CSR seremonial.
Produk yang terlihat murah belum tentu benar-benar murah. Bisa jadi, sebagian tagihannya hanya dipindahkan ke masyarakat dan lingkungan sekitar. Dan jika sebuah industri hanya tampak efisien setelah biaya sosial-ekologisnya disembunyikan, mungkin yang selama ini disebut harga pasar hanyalah angka yang belum selesai menghitung kenyataan.(*)
*Tulisan dari penulis esai dan artikel tidak mewakili pandangan dari redaksi. Hal-hal yang mengandung konsekuensi hukum di luar tanggung jawab redaksi.

