BACAAJA, SEMARANG – Keluhan soal kondisi sosial ternyata nggak cuma bisa disampaikan lewat demo atau debat di media sosial. Teater Gemati memilih cara lain, yakni lewat pertunjukan satir berjudul “Keraton Siluman”.
Pentas ini bakal digelar Sabtu (23/5/2026) di Balairung Universitas PGRI Semarang. Konsepnya dibikin ringan, penuh lawakan, tapi isinya nyentil berbagai persoalan yang lagi ramai di masyarakat.
Sutradara Atut Ayam bilang, pertunjukan ini lahir dari keresahan terhadap situasi sosial sekarang. Menurutnya, banyak kebijakan dan kondisi publik yang kadang terasa absurd, lalu jadi bahan refleksi lewat panggung teater.
Bacaaja: Kritik MBG Disuarakan, Teror Datang Bertubi-tubi
Bacaaja: Nobar Pesta Babi, Kampus Ini Didatangi Sosok Berseragam TNI
“Ini refleksi sosial dan budaya yang kami kemas jadi pertunjukan,” katanya, Kamis (21/5/2026).
Dalam cerita nanti, penonton diajak masuk ke “Negeri Wacanda”. Isinya penuh sindiran soal miskomunikasi kebijakan, ketimpangan sosial, sampai kebiasaan masyarakat yang gampang menyalahkan keadaan.
Semua dibawakan dengan gaya komedi supaya lebih mudah diterima penonton muda. Atut menyebut, kritik sosial nggak harus selalu disampaikan dengan marah-marah.
“Berorasi sekarang bisa lewat karya seni juga. Enggak harus selalu turun ke jalan,” ujarnya.
Lewat “Keraton Siluman”, Gemati juga ingin ngajak anak muda lebih peduli dengan kondisi sekitar. Bukan cuma sibuk mengeluh, tapi juga ikut berpikir bagaimana menghadapi perubahan zaman.
Atut menilai, generasi muda sekarang harus mulai sadar pentingnya pendidikan, literasi, dan kesiapan bersaing di era digital. Menurutnya, itu lebih penting daripada sekadar sibuk menyalahkan pemerintah tiap ada persoalan.
“Balik lagi ke diri kita sendiri, sudah siap apa belum untuk bangkit dan survive,” katanya.
Supaya makin menarik, Gemati menggandeng sejumlah pemain yang sudah dikenal publik. Ada Jarwo Kwat, Denny Candra, sampai Ian Bukan Kasela yang ikut tampil bersama pemain lokal Semarang. (bae)

