BACAAJA, BOYOLALI – Suasana haru menyelimuti Asrama Haji Donohudan, Boyolali, saat puluhan calon jemaah haji dipastikan gagal berangkat ke Tanah Suci tahun ini. Di tengah wajah-wajah penuh semangat menuju Makkah, ada juga jemaah yang harus menerima kenyataan pahit karena kondisi kesehatan mereka dinilai tidak memungkinkan untuk terbang.
Jumlahnya tidak sedikit. Sebanyak 69 calon jemaah haji dinyatakan tidak lolos pemeriksaan kesehatan setelah menjalani pengecekan di Embarkasi Solo. Keputusan itu membuat banyak keluarga terpukul karena perjalanan yang sudah ditunggu bertahun-tahun akhirnya harus tertunda di detik-detik terakhir.
Bukan cuma calon jemaah yang gagal berangkat, ada juga lima pendamping yang memilih menunda perjalanan hajinya. Mereka memutuskan tetap tinggal mendampingi pasangan masing-masing yang dipulangkan karena kondisi kesehatan tidak memungkinkan melanjutkan perjalanan jauh ke Arab Saudi.
Momen pemulangan itu disebut berlangsung penuh emosi. Ada yang menangis, ada pula yang tetap mencoba tegar meski terlihat sulit menyembunyikan rasa kecewa. Sebagian jemaah sebelumnya bahkan sudah mengenakan pakaian ihram dan berpamitan dengan keluarga besar sebelum akhirnya menerima kabar tidak layak terbang.
Humas PPIH Embarkasi Solo, Nabiila Azka Amaalia, menjelaskan bahwa keputusan tersebut diambil demi keselamatan jemaah sendiri. Kondisi fisik menjadi faktor utama karena perjalanan ibadah haji membutuhkan stamina kuat, apalagi cuaca di Arab Saudi sedang cukup ekstrem.
Menurut Nabiila, total ada 74 orang yang akhirnya batal berangkat, termasuk lima pendamping yang memilih tetap menemani pasangannya di Indonesia. Keputusan itu diambil setelah pemeriksaan kesehatan dilakukan secara menyeluruh sejak kloter pertama hingga kloter terakhir.
Ia mengatakan beberapa pendamping sebenarnya tetap diizinkan berangkat meski pasangannya dipulangkan. Namun ada yang memilih tetap tinggal demi mendampingi suami atau istri mereka di rumah.
Banyak jemaah disebut sudah masuk tahap akhir persiapan keberangkatan. Bahkan koper dan perlengkapan haji mereka sudah tersusun rapi di asrama. Namun hasil pemeriksaan kesehatan menjadi penentu akhir apakah seseorang layak terbang atau tidak.
Kondisi ini juga membuat para petugas harus bekerja ekstra hati-hati. Mereka tidak ingin ada jemaah yang dipaksakan berangkat tetapi justru mengalami kondisi darurat kesehatan saat berada di pesawat atau ketika menjalani ibadah di Tanah Suci.
Masa operasional keberangkatan Embarkasi Solo yang hampir selesai juga membuat peluang keberangkatan ulang semakin kecil. Meski ada beberapa jemaah yang kondisinya sempat membaik, waktu yang tersedia sudah sangat mepet.
Kloter 81 yang masuk pada Rabu siang menjadi rombongan terakhir di Asrama Haji Donohudan tahun ini. Dengan masuknya kloter terakhir tersebut, seluruh proses pemberangkatan praktis tinggal menyisakan tahap akhir.
Meski sebagian besar jemaah sudah diberangkatkan, masih ada lima calon haji yang menjalani observasi kesehatan. Petugas berharap kondisi mereka bisa segera membaik agar tetap memiliki kesempatan menyusul keberangkatan bersama kloter terakhir.
Harapan itu masih terbuka, meski waktunya sangat terbatas. Petugas kesehatan terus memantau kondisi para jemaah tersebut sambil menunggu hasil pemeriksaan lanjutan sebelum keputusan final diambil.
Di sisi lain, kabar duka juga datang dari Embarkasi Solo. Hingga saat ini tercatat lima calon jemaah haji meninggal dunia sebelum sempat menuntaskan perjalanan ibadah ke Tanah Suci.
Situasi tersebut membuat suasana keberangkatan tahun ini terasa campur aduk. Ada rasa bahagia dari ribuan jemaah yang akhirnya bisa berangkat setelah menunggu lama, tetapi juga ada kesedihan dari mereka yang harus menunda impian berhaji.
Banyak calon jemaah yang gagal berangkat diketahui sudah menunggu antrean bertahun-tahun. Karena itu, keputusan dipulangkan akibat alasan kesehatan menjadi pukulan berat, terutama bagi jemaah lanjut usia yang khawatir kesempatan berhajinya semakin sulit di masa depan.
Meski demikian, pihak embarkasi memastikan jemaah yang batal berangkat tetap punya peluang untuk kembali dijadwalkan pada musim haji berikutnya. Namun nantinya mereka harus menjalani pemeriksaan kesehatan ulang sebelum dinyatakan layak terbang.
Petugas juga terus mengingatkan pentingnya menjaga kondisi tubuh jauh sebelum jadwal keberangkatan haji tiba. Banyak jemaah yang sebenarnya sudah memiliki riwayat penyakit tertentu tetapi memaksakan diri karena takut gagal berangkat.
Padahal ibadah haji membutuhkan kesiapan fisik yang cukup berat. Aktivitas berjalan jauh, cuaca panas ekstrem, serta kepadatan jutaan orang membuat kondisi tubuh harus benar-benar stabil agar ibadah bisa dijalani dengan aman.
Di tengah suasana haru itu, sebagian jemaah yang batal berangkat tetap mencoba ikhlas menerima keputusan petugas kesehatan. Ada yang memilih pulang sambil terus berdoa agar tahun depan masih diberi kesempatan dan kesehatan untuk kembali mencoba berangkat ke Tanah Suci.
Sementara itu, keluarga yang mengantar ke Donohudan juga tampak memberi semangat kepada para jemaah yang tertunda keberangkatannya. Meski sedih, mereka berharap keputusan tersebut justru menjadi bentuk perlindungan agar tidak terjadi hal yang lebih berbahaya selama proses ibadah berlangsung.
Musim haji tahun ini akhirnya bukan hanya tentang perjalanan spiritual menuju Makkah, tetapi juga tentang menerima kenyataan bahwa kesehatan tetap menjadi syarat utama yang tidak bisa ditawar demi keselamatan seluruh jemaah. (*)

