BACAAJA, SEMARANG – Dialek Semarangan disebut mulai tergerus sejak bahasa “Jakartanan” masuk lewat radio-radio FM era 1980-an. Dari situlah gaya bahasa “lo-gue” perlahan memapar anak muda.
“Bahasa Jakartanan ini masuk Semarang merusak bahasa daerah itu sejak 80-an,” kata pemerhati bahasa, Hartono Samidjan, Kamis (14/5/2026).
Menurut Hartono, penyiar radio waktu itu banyak memakai gaya bahasa Jakarta yang dianggap lebih modern dan gaul. Lama-lama generasi muda ikut meniru.
Bacaaja: Dialek Semarangan Sangat Egaliter, “Ndasmu” Pun Dianggap Wajar
Bacaaja: Dialek Semarangan Bertahan di Tengah Gempuran Bahasa Jaksel dan Slang TikTok
“Sehingga generasi selanjutnya itu lebih fasih bukan bahasa Indonesia yang benar, tapi bahasa Indonesia model Jakarta,” ujarnya.
Efeknya masih terasa sampai sekarang. Hartono bilang, di pusat-pusat nongkrong anak muda seperti mall, bahasa “lo-gue” justru lebih dominan dibanding dialek Semarang.
Apalagi anak-anak sekarang lebih sering sibuk main HP dibanding ngobrol langsung seperti generasi dulu. Padahal permainan tradisional dulu jadi ruang penting buat bahasa Semarangan berkembang.
“Kalau dulu kan masih ada orang main kelereng, main petak umpet, main gobak sodor. Itu terjadi dialog”.
“Lah sekarang mainnya HP kok,” lanjutnya.
Eksistensi Dialek Semarangan masih tertolong karena warganya, termasuk anak mudanya tidak malu menggunakan bahasa lokalnya.
Sebab dari segi karakter, dialek Semarangan memang egaliter dan santai.
Ia membandingkan dengan budaya Solo yang punya aturan unggah-ungguh lebih ketat. Di sana, sebagian anak muda kadang memilih bahasa Indonesia supaya aman saat bicara dengan orang tua.
“Kalau di Solo yang harus ada unggah-ungguh-nya, yang tidak bisa krama memilih pakai bahasa Indonesia biar aman,” katanya.
Sedangkan di Semarang, gaya ngomong ngoko ke orang tua masih dianggap wajar selama nadanya sopan dan tidak nyentak. (bae)

