BACAAJA, SEMARANG- Program Studi Administrasi Bisnis Fisip Undip terus mendorong internasionalisasi kampus lewat cara yang nggak melulu formal di dalam kelas.
Lewat kelompok mahasiswa SDGs Bizflare, Undip menggelar program BizCulture Global Initiative bertajuk Agroforestry Coffee Experience: From Forest to Cup-Tawangmangu di kawasan perkebunan kopi Tawangmangu, Sabtu (9/5).
Program ini jadi bagian dari pembelajaran berbasis pengalaman atau experiential learning yang menggabungkan edukasi, budaya, keberlanjutan lingkungan, dan kolaborasi internasional.
Yang bikin menarik, kegiatan ini nggak cuma diikuti mahasiswa lokal, tapi juga sepuluh mahasiswa internasional peserta Diponegoro Exchange Experience Programme (DEEP).
Baca juga: Fisip Undip Gelar Pelatihan Packaging bagi Pelaku UMKM Rowosari
Mereka berasal dari Ho Chi Minh University of Banking Vietnam, Bochum University of Applied Sciences Jerman, serta Kazan (Volga Region Federal University) Rusia.
Selama kegiatan, peserta diajak melihat langsung sistem perkebunan kopi berbasis agroforestri, mulai proses budidaya sampai pengolahan kopi yang jadi sumber ekonomi masyarakat sekitar. Nggak cuma belajar soal kopi, mahasiswa juga berdiskusi langsung dengan pelaku UMKM dan warga setempat soal pengembangan usaha lokal.
Dosen Pendamping
Kegiatan tersebut didampingi dosen Administrasi Bisnis Fisip Undip, di antaranya Dr Reni Shinta Dewi, Robertmi Jumpakita Pinem, Dhaifina Idznitia Apriyani Naimi, dan Wildan Avian Pratama.
Kepala Program Studi Administrasi Bisnis Fisip Undip, Reni Shinta Dewi mengatakan, program itu memberi pengalaman nyata bagi mahasiswa internasional untuk memahami praktik usaha di Indonesia.
“Mahasiswa tidak hanya belajar di dalam kelas, tetapi juga mendapatkan pengalaman langsung melalui interaksi dengan masyarakat dan pelaku usaha lokal,” ujarnya.
Selain eksplorasi kebun kopi, peserta juga diajak ikut agrowisata petik stroberi dan mengunjungi Kemuning Sky Hills untuk mengenal potensi wisata dan ekonomi kreatif daerah.
Baca juga: Undip Bantu UMKM Jabungan Tentukan Harga Jual Produk
Salah satu peserta asal Rusia, Lukmanova Liana mengaku pengalaman melihat perkebunan kopi secara langsung jadi hal baru baginya. Menurutnya, di Rusia tanaman kopi sangat jarang ditemukan karena faktor iklim. Ia juga mengaku senang bisa berinteraksi langsung dengan masyarakat lokal sekaligus mengenal budaya Indonesia lebih dekat.
Program tersebut sekaligus mendukung implementasi SDGs, khususnya SDG 12 tentang konsumsi dan produksi berkelanjutan, SDG 15 tentang ekosistem daratan, serta SDG 17 mengenai kemitraan global.
Di tengah banyak kampus berlomba jadi “internasional” lewat gedung dan jargon keren, Undip memilih ngajak mahasiswa asing turun langsung ke kebun. Karena kadang cara paling efektif mengenalkan Indonesia bukan lewat brosur, tapi lewat secangkir kopi dan obrolan hangat dengan warga desa. (tebe)

