BACAAJA, SEOUL – Di tengah ritme hidup yang makin cepat dan penuh tuntutan, waktu istirahat sering jadi hal pertama yang dikorbankan. Banyak orang rela begadang demi kerjaan, tugas, atau sekadar mengejar target harian, sampai akhirnya rasa capek jadi sesuatu yang dianggap biasa.
Fenomena ini terasa banget di Seoul, kota yang dikenal dengan gaya hidup super sibuk dan kompetitif. Di sana, kurang tidur bukan lagi masalah individu, tapi sudah jadi isu yang dirasakan banyak orang secara luas.
Melihat kondisi itu, pemerintah kota setempat justru mengambil langkah yang nggak biasa. Mereka menggelar lomba tidur siang atau “power nap contest” di kawasan Sungai Han, tempat yang biasanya dipenuhi aktivitas santai warga.
Sekilas terdengar seperti candaan, tapi acara ini punya tujuan serius: mengingatkan publik bahwa istirahat itu penting dan nggak boleh dianggap remeh. Dengan konsep yang santai dan unik, isu kesehatan jadi terasa lebih dekat dan mudah dipahami.
Acara yang sudah masuk tahun ketiga ini berhasil menarik perhatian ratusan peserta. Mereka datang dengan berbagai gaya, bahkan ada yang memakai kostum unik, membuat suasana lomba jadi campuran antara santai, lucu, dan penuh pesan tersirat.
Menariknya, peserta nggak cuma diminta tidur begitu saja. Mereka harus datang dalam kondisi lelah, sudah makan, dan siap “berkompetisi” untuk mendapatkan kualitas tidur siang terbaik di tengah keramaian.
Salah satu peserta, Park Jun-seok, mengaku kesehariannya jauh dari kata cukup istirahat. Ia harus membagi waktu antara kuliah dan kerja paruh waktu, sehingga tidur malamnya sering cuma tiga sampai empat jam.
“Antara persiapan ujian dan kerja part-time, saya sering kekurangan tidur. Jadi biasanya cuma bisa gantinya lewat tidur siang sebentar,” ujarnya, menggambarkan realita yang dialami banyak anak muda di sana.
Cerita serupa datang dari Yoo Mi-yeon, yang bahkan datang dengan kostum koala. Ia mengikuti lomba ini bukan sekadar seru-seruan, tapi karena mengalami kesulitan tidur atau insomnia.
“Saya sering susah tidur dan gampang kebangun. Jadi ikut ini sekalian ingin ngerasain tidur yang benar-benar nyenyak,” katanya, jujur soal kondisi yang ternyata cukup umum terjadi.
Saat lomba dimulai, para peserta memakai penutup mata, sementara panitia memantau detak jantung untuk memastikan mereka benar-benar masuk fase istirahat yang stabil. Suasana yang biasanya ramai berubah jadi hening, seolah kota besar itu ikut berhenti sejenak.
Di balik keunikannya, lomba ini sebenarnya membawa pesan kuat soal pentingnya tidur siang singkat atau power nap. Banyak orang menganggap tidur siang itu malas, padahal manfaatnya cukup besar untuk tubuh dan otak.
Sejumlah riset bahkan menunjukkan bahwa orang yang rutin tidur siang punya kondisi otak yang lebih sehat dibanding mereka yang jarang istirahat di siang hari. Hal ini berkaitan dengan fungsi kognitif dan daya tahan mental.
Peneliti dari University College London, Victoria Garfield, menjelaskan bahwa volume otak cenderung menyusut seiring bertambahnya usia. Namun, kebiasaan tidur siang bisa membantu memperlambat proses tersebut.
Dengan kata lain, power nap bukan sekadar “curi waktu tidur”, tapi bagian dari strategi menjaga kesehatan jangka panjang. Bahkan, efeknya bisa memperlambat penuaan otak hingga beberapa tahun.
Selain itu, kurang tidur juga sering dikaitkan dengan meningkatnya hormon stres, risiko penyakit jantung, hingga gangguan seperti sleep apnea. Jadi, dampaknya nggak bisa dianggap sepele.
Di sisi lain, gaya hidup modern memang bikin orang sulit punya waktu istirahat yang cukup. Tekanan kerja, target akademik, sampai distraksi digital jadi kombinasi yang bikin waktu tidur makin tergerus.
Karena itu, pendekatan seperti lomba tidur siang ini dianggap cara kreatif untuk mengangkat isu serius dengan cara yang ringan. Orang jadi lebih mudah relate tanpa merasa digurui.
Fenomena ini juga memunculkan pertanyaan menarik: apakah konsep serupa bisa diterapkan di negara lain, termasuk Indonesia, yang juga punya ritme hidup makin padat di kota-kota besar?
Bayangkan kalau ruang publik bisa jadi tempat istirahat sejenak, bukan cuma tempat lalu lalang. Mungkin sederhana, tapi dampaknya bisa besar untuk kesehatan masyarakat.
Pada akhirnya, lomba ini bukan soal siapa yang paling cepat terlelap atau paling lama tidur. Tapi soal mengingatkan bahwa tubuh manusia tetap punya batas, dan istirahat bukan kemewahan, melainkan kebutuhan.
Jadi, di tengah sibuknya aktivitas harian, mungkin nggak ada salahnya mulai meluangkan waktu sebentar untuk rebahan sejenak. Siapa tahu, dari kebiasaan kecil itu, kualitas hidup bisa ikut berubah. (*)

