BACAAJA, DEMAK- Perlintasan kereta api di kawasan Brumbung, Mranggen, Demak kembali menjadi sorotan. Jalur ini diketahui aktif dilalui kereta, sekaligus ramai dilewati pengendara setiap harinya. Namun ironisnya, perlintasan tersebut belum dilengkapi palang pintu, meski telah terjadi kecelakaan sebelumnya.
Berdasarkan data dari berbagai laporan keselamatan perkeretaapian di Indonesia, perlintasan sebidang tanpa palang memang menjadi salah satu titik rawan kecelakaan.
Data dari Direktorat Jenderal Perkeretaapian menyebutkan bahwa sebagian besar kecelakaan di perlintasan kereta terjadi di titik-titik tanpa penjagaan optimal atau tanpa palang pintu. Faktor kelalaian pengguna jalan dan minimnya fasilitas keselamatan menjadi penyebab utama.
Baca juga: 41 Perlintasan Liar di Jateng Resmi “Game Over”
Dari pantauan di lokasi, arus kendaraan tampak cukup padat, terutama pada jam-jam sibuk. Sepeda motor dan mobil silih berganti melintasi rel, sering kali tanpa perlindungan maksimal selain penjagaan manual.
Salah satu penjaga lintasan, Anto (39) mengakui bahwa kecelakaan pernah terjadi di lokasi tersebut, meski dirinya tidak mengetahui detail kejadiannya. “Di sini memang pernah terjadi kecelakaan, tapi saya tidak tahu kronologinya,” ujarnya saat ditemui di lokasi. Selasa (5/5/2026).
Ia juga menyinggung kemungkinan faktor penyebab kecelakaan yang berkaitan dengan fasilitas keselamatan yang belum memadai. “Mungkin faktornya juga dari palang kereta, mas,” tambahnya.
Ramai Anak
Kekhawatiran juga datang dari warga sekitar. Hidayati (37), salah satu warga, mengaku hingga kini masih merasa was-was, terutama terhadap anak-anak yang sering bermain di sekitar rel.
“Semenjak ada kejadian kecelakaan di sini, saya sampai sekarang was-was kalau ada anak-anak main dekat situ. Anak saya juga saya larang keras untuk main dekat-dekat situ. Tapi namanya anak-anak, kalau ada kereta kan mereka penasaran, walaupun setiap hari sudah sering melihatnya,” ungkapnya.
Menurutnya, kondisi perlintasan yang ramai seharusnya diimbangi dengan fasilitas keselamatan yang memadai. Ia berharap ada solusi nyata untuk mencegah kejadian serupa terulang kembali.
Baca juga: Palang Sudah Turun, Gas Masih Naik: Drama Harian di Perlintasan Jrakah
“Daerah sini aktif, mas. Maka dari itu kan harus ada solusi untuk rel itu. Harusnya ya dikasih palang, tidak cuma ada yang jaga. Takutnya namanya juga manusia, kalau luput terus kejadian kecelakaan lagi, siapa yang mau bertanggung jawab,” tegasnya.
Perlintasan tanpa palang seperti di Brumbung ini menjadi gambaran nyata masih adanya celah dalam sistem keselamatan transportasi. Tanpa penanganan serius, bukan tidak mungkin kecelakaan serupa akan kembali terjadi.
Di tempat di mana kereta melaju pasti sesuai jadwal, justru rasa aman yang datangnya masih suka telat, dan kadang sayangnya, kalah cepat dari kejadian yang nggak diharapkan. (dul)

